Zinedine Zidane: Dimitoskan, Dianggap Dewa, dan Ditahbiskan jadi Raja

0
115

“Zidane adalah mitos,” ucap mantan pelatih Perancis Raymond Domenech. “Sebagai mitos, dia sanggup mempengaruhi emosi orang-orang, bukan uma emosi yang positif.”

Anggapan Domenech bahwa Zidane merupakan sesuatu-yang-melebihi-manusia barangkali ada benarnya. Kenikmatan dan kesenangan yang dialami segenap yang menonton aksinya menjadi bukti, terlebih para suporter Perancis.

Sukses Zidane di pentas antar negara tak perlu dipertanyakan. Playmaker jenius tersebut merupakan pemain tersukses tim nasional Perancis. Dia berperan penting dalam perjalanan Perancis menjadi juara Piala Dunia 2018, juara Euro 2000, serta “kesuksesan” mereka menembus final Piala Dunia (lagi) pada 2006. Di Perancis,

Dua golnya di final Piala Dunia 1998 cukup untuk menjadiannya man of the match di laga tersebut dan gelar pemain terbaik turnamen. Tendangan bebas magisnya di perempat final Euro dua tahun kemudian, yang diikuti gol emas di semifinal, kembali menjadikan Zidane sebagai pemain terbaik turnamen. Di Piala Dunia 2006, ia mengerahkan segalanya untuk tim di turnamen terakhirnya, termasuk menggunakan jidad ke dada Materazzi.

“Semua orang mempercayai adanya Dewa dan kebetulan sekali dia memperkuat timnas Perancis,” begitu kata Thierry Henry, mantan rekan setim di Les Bleus.

Karier Zidane di level klub juga tak kalah fenomenal.

Di Bordeaux dan Juventus, klubnya di awal karier, ia mendapat hormat dari semua kalangan. Da sudah memenangi penghargaan pemain terbaik dunia oleh FIFA dan telah mencaplok dua scudetto selama di Juventus. Di akhir karier, dia mengumpulkan tiga penghargaan pemain terbaik dunia. Dua lebih sedikit daripada Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Kepindahannya ke Real Madrid pada 2001 dihargai 42 juta Euro, sebuah rekor dunia masa itu. Dia menjadi simbol Real Madrid, yang sedang membangun galaksi di Santiago Bernabeu. Tendangn voli ikoniknya di final Liga Champions 2001 mendefinisikan lima tahun kariernya di Madrid: cemerlang dan penuh keindahan.

Masanya di Real Madrid ternyata berlanjut menjadi pelatih utama. Ia pertama kali bekerja di tim utama sebagai asisten pelatih Carlo Ancelotti, yang berbuah trofi Liga Champions 2013/14. Don Carlo yang tak bertahan digantikan oleh Rafael Benitez, pelatih yang hanya mampu mengontrol ruang ganti selama enam bulan.

Ketika Rafa dipecat pada Januari 2016, Zidane-lah orang yang ditunjuk Florentino Perez. Ia mengambil alih kapal saat para awaknya kehilangan kepercayaan diri. Siapa sangka, ia yang tak pernah melatih tim senior, ternyata mampu membawa raksasa Spanyol meraih gelar Liga Champions tiga kali beruntun, plus satu liga.

Zidane tahu kapan harus berhenti. Lima hari sesudah mengantarkan trofi Liga Champions ke Madrid yang ketiga kalinya, ia memutuskan mundur. Ia percaya tim butuh metode latihan yang baru, juga seorang pemimpin yang mampu membakar semangat para pemain lagi. Ia khawatir bila tim tetap dipegang olehnya, tim akan kehilangan motivasi dan bermain lesu.

Setelah dilabel “Mitos” oleh Domenech dan “Dewa” oleh Henry, barangkali Zidane bisa ditahbiskan sebagai raja, raja dari seluruh pesepak bola Perancis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here