Tikus Pemakan Besi

0
10

Pada jaman dahulu, hidup seorang pedagang yang bernama Amar. suatu hari terjadi kebakaran yang menyebabkan usaha dagangnya itu ludes. Amar pun merugi. Di sisa-sisa kebakaran tersebut hanya terdapat satu batang besi yang besar dan berat yang masih bisa dijual, tetapi semua barang yang lain di tokonya Amar ludes di lalap si jago merah.

Karena harus menghidupi seorang istri dan kelima anaknya yang masih berumur dibawah 17 tahun, Mau tidak mau amar harus mencari cara agar ia dapat kembali mendapatkan penghasilan. Ia memutuskan untuk pergi ke luar kota dan mencari peruntungan di tempat lain.

Amar masih mempunyai satu buah besi seharga kurang lebih 2 juta rupiah. karena besi itu sangat berat untuk di bawa ke rumah Amar yang jaraknya dari toko sekitar 5km maka Amar membawa besi itu kepada ke rumah temannya yang jaraknya hanya 20 meter dari toko amar yang terbakar tersebut. Teman amar bernama Herbi, ia menitipkan besi itu pada Herbi untuk diambil kembali oleh amar sepulang dari luar kota.

“Aku minta tolong simpan besi ini baik-baik ya Her, aku akan pergi ke luar kota dan bekerja disana, tidak lama kok, paling dua sampai 3 tahunan”, ujar Amar.

“Ok siap mar”. ucap Herbi.

Amar pergi berkelana ke luar kota selama 2 tahun. Setelah cukup banyak uang yang terkumpul ia pulang ke daerah asalnya dan ia juga membuka usaha lagi.
suatu ketika Amar pergi mengunjungi temannya, Herbi. Setelah berbicara sepatah dua patah kata, Amar kemudian berkata, “Herbi, aku ingin mengambil besi yang dulu kutitipkan kepadamu.”

Herbi tidak ingin mengembalikan besi itu karena ia tau besi tersebut harganya cukup mahal, maka ia mengatakan, “Besi itu kusimpan di gudang, tapi sekarang sudah habis dimakan tikus dan raib tak tersisa”
Amar hanya menggeleng-geleng kan kepala dan tidak berkata sesuatu. kemudian ia pamit pulang dan berkata, “Ada hadiah untukmu dirumah, suruh anakmu si Radi ikut denganku untuk mengambilnya”, ujar Amar.

Kemudian si Herbi pun memanggil Radi tak memintanya untuk ikut dengan Amar ke rumahnya.

Radi ikut dengan Amar ke rumahnya. Setiba di rumahnya, Amar mengajak Radi ke ruangan bawah tanah dan menguncinya di sana. Malam itu Herbi khawatir karena Radi tidak juga pulang. Untuk mencari keberadaan anaknya Herbi pun pergi ke rumah Amar.
“Di mana anakku?” tanya Herbi.
“Oh, tadi dalam perjalanan pulang, seekor burung elang menyambar anakmu si Radi dan membawanya pergi,” kata Amar.
“Tidak mungkin, Kau pasti bohong,” kata Herbi. “Mana mungkin seekor burung elang dapat membawa anakku yang berumur 16 tahun?”

“Lho, mungkin saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini”, ujar si Amar ngeles.

Mereka akhirnya bertengkar dan kemudian perkara tersebut dibawa ke pengadilan.
Hakim mendengarkan pengaduan Herbi dan menyuruh Amar mengembalikan anak itu kepada ayahnya.
Tapi Amar berkeras, “Anak Herbi tidak ada di rumahku. Ia dibawa pergi oleh burung elang.”

“Seekor burung elang tidak mungkin dapat membawa anak sebesar itu,” kata hakim.
“Kalau sebatang besi yang besar bisa di makan tikus,” kata Amar, “Seekor elang juga bisa membawa anak sebesar itu.”

Amar menceritakan kejadiannya dari awal sampai akhir. Mendengar cerita dari si Amar semua orang di ruangan tertawa. Akhirnya hakim memutuskan memerintahkan Herbi mengembalikan besi kepada Amar dan Amar mengembalikan Radi kepada Herbi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here