Hari ini, seperti biasa aku berjalan perlahan mendorong gerobak sampahku. Mengais-ngais barang-barang yang sudah tidak terpakai di tempat yang bagi sebagian manusia adalah tempat menjijikkan, tapi bagi manusia lainnya, aku contohnya, adalah tempat mencari uang. Sampah-sampah yang aku cari adalah jenis sampah yang memiliki kemungkinan untuk bisa didaur ulang. Dan seperti hari-hari sebelumnya, aku menyibukkan diri dengan sampah-sampah yang bertumpukkan.

Di tengah kesibukanku memilah barang, aku mendengar suara bayi menangis. Aku terkejut. Bagaimana aku tidak terkejut, aku sedang berada di tempat yang menjijikkan, dan di tempat kotor seperti ini kok bisa ada suara bayi. Bukankah bayi seharusnya berada di tempat yang hangat dan bersih? Bukan dingin, kotor dan bau seperti ini? Karena penasaran, aku putuskan mencari sumber suara bayi yang menangis itu. Setelah berusaha mencari kesana kemari, kutemukan seorang bayi mungil terbalut kain di dalam sebuah kardus yang terletak di tumpukan beberapa sampah plastik, terlantar di pinggir jalan.
Aku merasa sangat sedih melihat kondisi bayi ini, keadaan bayi ini sangat lemah. Dimana orang tuanya? Kenapa mereka tega membuangnya? Apa salah bayi ini?

Setelah puas berperang dengan pikiranku sendiri, aku memutuskan untuk membawa bayi ini. Aku akan mengadopsinya. Bayi perempuan itu aku bawa pulang. Aku tahu, aku hanya seorang pemulung miskin. Tapi apakah orang miskin tidak boleh mengadopsi seorang bayi?
Yang aku pikirkan saat aku menemukan seorang bayi adalah bayi itu akan mati jika aku tidak menyelamatkannya dan membawanya ke rumahku. Dia akan menjadi adik untuk anak perempuanku.

Saat itu terjadi adalah tahun 1972, yang menjadi awal mula aku mengadopsi bayi-bayi yang terbuang. Entah apa yang ada dalam pikiran orang tua para bayi-bayi ini, apakah karena sang bayi lahir di luar pernikahan atau.. takut karena tidak punya biaya untuk menghidupi sang bayi?

Kejadian aku menemukan bayi dalam kardus itu adalah salah satu dari serangkaian peristiwa penemuan bayi terbuang yang aku temukan. Kejadian berikutnya, aku juga menemukan bayi-bayi terbuang lainnya. Kadang sang bayi dalam keadaan mengenaskan tidak mengenakan apa-apa. Aku benar-benar merasa miris dengan keadaan ini. Awalnya hanya empat bayi yang aku rawat, tapi lama kelamaan terus bertambah hingga mencapai 30 anak.

Aku mengadosi bayi-bayi itu bukan karena aku merasa kaya atau apa, tapi karena aku tahu, bayi-bayi ini punya hak yang sama dengan bayi lainnya yakni hak hidup untuk tumbuh dan berkembang, serta meraih masa depan. Mereka berhak atas kasih sayang orang dewasa.

Tindakanku dalam mengadopsi bayi ini mendapat dukungan dari suamiku. Aku tahu ini tidak akan mudah. Aku dan suamiku bukan orang kaya, biaya hidup yang akan dikeluarkan untuk kami dan bayi-bayi itu tidak akan sedikit.

Ada sebagian orang yang setuju dengan tindakan kami, tapi juga ada beberapa orang yang menatap kami dengan tatapan ‘kalian miskin, apakah kalian bisa menghidupi anak-anak itu?’

Tapi aku tidak peduli. Yang aku tahu, Tuhan akan selalu berbaik hati pada orang yang mau berbuat kebaikan. Tuhan tidak pernah tidur, ‘kan?

Menghidupi para bayi terbuang ini menjadi alasan untukku terus bekerja dengan semangat. Aku dan suamiku selalu semangat dan bahu membahu dalam bekerja sama menghidupi mereka. Kadang kami harus kuat menahan lapar, demi memberi mereka makan mereka.
Namun, pada tahun 1995 aku harus berlapang dada merelakan kepergian suamiku. Aku jadi merasa sedih, karena suamiku pergi untuk selama-lamanya. Kini aku harus berjuang bersama anak kandungku, demi anak-anak itu. Aku tahu ini akan berat.

Kadang aku merasa ada beberapa pasang mata yang menatapku, ‘kau bodoh Lou Xiaoying! Kenapa kau harus menyusahkan dirimu sendiri dengan mengadopsi bayi-bayi itu? Kau sendiri tahu, kau hanya pemulung yang hidup dalam penuh keterbatasan’.

Tapi, aku tetap keukeuh dengan apa yang sudah aku mulai. Aku tetap berusaha dengan sekuat tenaga, agar anak-anak itu memiliki kesempatan. Aku tahu itu.

Seiring berjalannya waktu, bayi perempuan pertama yang aku temukan kala itu, semakin dewasa. Aku menyayanginya, begitu pun sebaliknya. Dia sudah bisa membantuku bekerja mencari uang. Aku, dia, dan anak kandungku bekerja sama membantuku menyelamatkan para bayi yang terbuang.

Jujur saja, aku masih tidak mengerti mengapa orang-orang tega meninggalkan bayi selemah itu di jalan. Bagiku, bayi-bayi itu adalah makhluk hidup yang berharga, mereka seharusnya mendapat kasih sayang dan cinta.

Meskipun aku sudah tua, aku tidak bisa begitu saja mengabaikan para bayi itu dan membiarkan mereka mati di tempat sampah. Mereka terlihat sangat manis dan sangat membutuhkan. Aku harus membawa mereka pulang bersamaku, itulah yang kupikirkan saat aku melihat para bayi terbuang itu tergeletak lemah di jalan.

Bayi-bayi terbuang yang dulu aku adopsi kini saling tumbuh dan berkembang. Saling menjaga dan merawat satu sama lain. Bahkan ada yang diadopsi oleh keluarga yang lebih mampu. Tidak semua bayi yang kutemukan dan aku rawat akan terus bersamaku hingga dewasa, ‘kan? Sudah kubilang, mereka berhak atas kesempatan untuk hidup yang lebih baik.

Percayalah, saat kau berbuat baik hatimu akan penuh dengan rasa hangat dan bahagia. Hatimu akan terasa ringan, karena kau berhasil menyelamatkan orang lain dari kesusahan yang menimpa mereka. Untuk berbuat baik kau tidak perlu menunggu kaya, jadilah baik untuk dirimu sendiri sesulit apapun hidup yang kau jalani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here