Terombang-ambing 49 Hari di Tengah Lautan Membuatku Dekat dengan Tuhan

0
38

Hai, namaku Adi. Usiaku saat ini 21 tahun.

Hari ini aku akan bercerita tentang pengalamanku selama 49 hari terombang-ambing di tengah lautan.

Aku sudah tiga bulan bekerja di rompong dan hari itu adalah hari terakhir giliranku menjaga rompong. Sudah tiba saatnya, aku menikmati hasil jerih payahku selama 3 bulan bekerja di rompong dan aku bisa pulang ke rumah berkumpul dengan keluargaku lagi.

Oh, ya, Rompong itu alat bantu untuk menangkap ikan, bentuknya macam-macam dan cukup besar, dan diletakkan di dalam laut, bisa dibilang kita membuat rumah buatan untuk para ikan. Dengan menggunakan Rompong hasil tangkapan ikan bisa lebih banyak. Dan karena itu Rompong perlu dijaga, agar ikan-ikan yang berhasil masuk dalam Rompong, nggak di ambil nelayan lain.

Tapi sayangnya, di hari terakhirku berjaga, aku harus mengalami peristiwa yang tak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku.

Hari itu, angin selatan bertiup sangat kencang. Membuat rakit yang aku tumpangi bergesekan dengan rakit temanku, akibat gesekan itu rakitku terhempas dari tambatan. Saat itu temanku sedang tertidur, jadi dia nggak tahu kalau aku sudah terhanyut jauh dari tambatan. Dan kejadiannya benar-benar terjadi dengan sangat cepat.

Aku terduduk dan berpegangan pada ujung-ujung rakit, beruntung, aku tidak terlempar dan terbawa arus ombak.

Tapi aku harus menerima kenyataan bahwa semakin lama rakit semakin jauh dari rompong. Rakit terus menerus bergerak ke tengah laut, dan yang kulihat adalah rompong yang makin lama makin mengecil dan kemudian menghilang dan temanku yang tak kunjung tahu kalau aku sudah tidak berada di sampingnya. Dan sekarang aku berada di tengah laut.

Setelah, angin dan ombak tidak sekencang sebelumnya, aku melihat sekeliling rakit, hanya ada walkie talkie, Injil dan peralatan memancing alakadarnya.

Di rakit, nggak ada fasilitas pelampung seperti yang ada di kapal-kapal besar. Di rakit juga nggak ada kompas yang bisa aku gunakan untuk menentukan arah. Sebelum bekerja di rompong, aku juga nggak diajarkan tentang keselamatan dalam pelayaran.

Saat itu aku nggak tahu harus melakukan apa. Aku masih sangat-sangat kaget dengan apa yang sedang terjadi padaku.

Dulu aku juga pernah terhanyut, pertama kali aku hanyut berlangsung selama seminggu, waktu itu aku ditolong kapal pemilik rakit. Yang kedua hanya berlangsung selama dua hari, waktu itu aku juga ditolong oleh kapal pemilik rakit. Dan ini yang ketiga, aku nggak tahu siapa yang akan menolongku dan akan sampai berapa hari aku terapung-apung di tengah laut begini. Tapi doaku, semoga aku cepat mendapat bantuan.

Aku melihat rakitku lagi, masih ada beras, air bersih, rempah-rempah, bumbu dapur dan gas elpiji. Aku bisa bertahan hidup dengan semua itu selama beberapa hari.

Tapi, ransum itu hanya bisa memenuhi kebutuhanku selama seminggu. Selama seminggu pula aku nggak ketemu dengan kapal besar yang melintas, ini lebih lama dari dugaanku. Aku mulai khawatir dan takut.

Di hari ke-delapan dan hari-hari berikutnya, untuk bertahan hidup, aku memancing ikan. Ikan yang aku dapat aku bakar atau aku rebus, aku membakarnya di atas wajan dan membuat api dengan kayu yang aku ambil dari rakitku, karena gas elpiji yang aku bawa sudah habis. Tapi, karena aku tidak mungkin menghabiskan kayu rakitku, kadang ikan yang aku dapat aku makan mentah-mentah. Menjijikkan memang, tapi itu terpaksa aku lakukan demi bisa bertahan hidup.

Kesulitanku nggak cuma di bahan makanan, tapi juga pada kebutuhan air bersih. Aku terpaksa minum air laut untuk kebutuhan minumku, untuk mengurangi rasa asin, aku menggunakan kaosku untuk memeras air laut sebelum aku meminumnya, dengan cara itu rasa asinnya akan berkurang. Kadang kalau hujan turun, aku mengumpulkan air hujan yang aku tampung di beberapa botol untuk aku minum.

Setelah berada di tengah laut lebih dari satu bulan, aku terus menerus meminta pertolongan, sudah banyak kapal-kapal besar yang melintas, tapi nggak ada 1 kapal pun yang mendengar suara teriakanku.

Di atas rakit aku nggak berhenti membaca Injil dan menyanyikan lagu rohani. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membuat hatiku tenang.

Tapi, meskipun begitu, aku tetap manusia biasa, aku juga merasakan putus asa. Setelah 1 bulan lebih berada di tengah laut, itu membuatku frustasi dan berpikir untuk mengakhiri hidupku, kupikir memang Tuhan ingin membuatku mati di tengah laut, jadi dia membiarkanku terombang-ambing tanpa pertolongan seperti ini. Tapi, pikiran untuk menenggelamkan diri di tengah laut aku buang jauh-jauh setelah melihat Injilku yang tergeletak terbuka, aku berpikir ulang, nggak mungkin Tuhan memberiku ujian yang di luar kemampuanku, aku yakin akan ada pertolongan.

Dan keyakinanku akan pertolongan Tuhan semakin kuat, karena akhirnya aku mendapat pertolongan di hari ke-50.

Di hari ke-50 aku berusaha meminta pertolongan lagi. Hari itu sebuah kapal batu bara berbendera Panama melintas. Aku melakukan semua yang kutahu dengan memberikan sinyal minta tolong.

Aku berteriak-teriak dengan walkie talkie-ku, “Help! Help!” karena yang aku tahu hanya itu.

Jarak kapal dengan rakitku sudah 1 mil, tapi aku terus berteriak. Setelah berteriak-teriak sampai suaraku serak, usahaku berbuah manis, kapal itu berbalik arah, ternyata seorang awak kapal berhasil menangkap sinyal pertolongan dariku. Kapal batu bara itu mencoba mendekati rakitku, tapi nggak bisa, karena angin terlalu kencang di tengah samudra, kapal itu harus berputar-putar empat kali. Namun, dalam percobaan terakhir, awak kapal melemparkan tali padaku dan aku langsung loncat ke laut, menjangkau talinya, dan akhirnya aku bisa mendaki tangga untuk masuk ke dalam kapal.

Mungkin, karena melihat keadaanku yang basah dan mengenaskan, para awak kapal memberiku baju ganti. Tidak hanya itu, aku juga diberi makan, aku juga bisa kembali merasakan air bersih bukan air asin lagi seperti hari-hari sebelumnya. Aku juga diberi tempat untuk tidur. Setelah 49 hari kedinginan di tengah laut, akhirnya aku merasakan hangatnya kasur lagi. Terima Kasih, Tuhan!

Aku ikut dengan kapal batu bara ini selama seminggu. Tapi, komunikasiku dengan para awak kapal berjalan kurang baik, aku tak begitu paham bahasa Inggris. Kalau aku tahu apa yang mereka maksud, aku akan menjawab, tapi kalau nggak paham, aku google translate di telepon genggam.

Kapal yang aku tumpangi ini ternyata berhenti di Jepang. Aku tak bisa ikut turun karena aku nggak punya paspor.

Pihak kapal menghubungi Kedutaan Besar indonesia di Jepang. Barulah setelah Kedutaan Besar Indonesia dan juga pemerintah Jepang datang menjemput, aku bisa turun dari kapal. Tapi aku nggak tahu, kenapa aku nggak diizinkan membawa hadiah dari para awak kapal.

Untuk pulang ke Indonesia, aku harus menunggu pasporku jadi. Aku menunggu sekitar 2 hari saat itu, dan di hari ketiga di Jepang aku bisa bernafas lega, pasporku sudah jadi da aku langsung dipulangkan ke Indonesia.

Setibaku di bandara, aku dijemput oleh satu keluarga besarku. Ayah dan ibu langsung memelukku. ibuku menangis sesenggukan, mungkin karena lega anak laki-lakinya sudah kembali pulang ke rumah setelah sau bulan lebih tanpa kabar berita. Keluargaku yang lain juga menangis terharu.

Setela kejadian hanyut yang ketiga kali itu, aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku. Aku akan mencari pekerjaan lain. Aku benar-benar trauma dengan kejadian itu.

Tapi, di sisi lain aku mendapat pelajaran berharga dari sisi religiusitas, aku merasa aku semakin dekat dengan Tuhan. Karena selama satu bulan lebih, tak ada yang bisa aku lakukan selain terus menerus membuka Injil dan berdoa. Dan bisa aku simpulkan dari kejadian nahas yang menimpaku, bahwa semakin kamu dekat dengan Tuhan, maka kamu juga akan semakin dekat dengan pertolongan-Nya.

Aku punya pertanyaan untukmu, pernahkah kamu merasa hidupmu adalah yang paling susah? Atau paling menderita dibanding lainnya? Atau mungkin kamu pernah kehilangan harapan, lalu berpikir untuk bunuh diri karena menyerah dengan keadaan? Kusarankan padamu untuk mendekati Sang Pemilik Kehidupan, mungkin, hidupmu susah atau menderita bukan karena sedang dalam ujian, tapi karena kamu tidak mau mendekati Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here