Ternyata Istriku Adalah Seorang Laki-laki

0
41

Seperti kebanyakan orang yang sudah berumur 25 tahun ke atas, aku juga berpikir tentang dunia perjodohan. Umurku yang udah nggak masuk kategori remaja ini menuntutku untuk segera menikah.

Harapanku sih ya, aku bisa dapetin jodoh yang cantik juga sholekhah. Tapi, kalau aku nggak bisa dapetin yang cantik minimal dia harus sholekhah.

Di rumah aku dipanggil Ahmad tapi di masjid aku dipanggil ‘Pak Imam’, yah karena memang aku ini sehari-harinya jadi imam masjid di kampung, tapi sayangnya imam masjid mereka ini belum punya istri, hiks! Ditambah dengan umurku yang makin hari terus menua, seperti ada alarm alami yang membuatku untuk segera bergerak mencari pasangan hidup.

Sebenarnya aku sudah punya target perempuan yang ingin aku lamar, hanya saja aku terlalu malu untuk ngajak kenalan. Aku nggak tahu perempuan itu asalnya dari mana, aku sudah menanyai semua jama’ah ibu-ibu yang biasa sholat berjam’ah di masjid, kalau perempuan yang aku taksir itu bukan orang kampungku, tapi memang perempuan cantik itu sudah satu bulan lebih selalu melaksanakan sholat jama’ah dhuhur dan ashar di masjid kami. Yang membuatku terpesona adalah dia perempuan muda pertama yang aku lihat rajin ke masjid, yang lain kalau nggak tua ya karena masih anak-anak.

Menurutku itu sangat istimewa.

Di masjid kampungku, selalu ada pengajian rutin yang dihadiri semua kalangan. Aku selalu rutin mengikuti pengajian ini, tapi hari ini ada yang istimewa. Perempuan yang aku taksir datang menghadiri pengajian. Aku masih heran, dia bukan orang kampungku, tapi kenapa ia begitu rajin mampir ke masjid kampungku? Tapi bodo amat lah, semoga hari ini aku diberi kesempatan untuk kenalan.

Ternyata, hari ini aku belum beruntung. Aku tak berkesempatan untuk mengajak si cantik berkenalan. Padahal tadi kami sudah papasan, apa karena aku yang terlalu malu buat ngajak kenalan, jadi kesempatan itu hilang? Baiklah, besok lagi aku akan datangi dia.
Pengajian berikutnya dia datang lagi, aku perhatikan dia dimana dia menaruh sandal. Mungkin aku bisa mencuri sandalnya biar kayak jaka tarub yang mencuri selendang demi bisa punya istri bidadari, lah kalau aku mencurinya sandal aja biar bisa dapetin bidadari surga. Aduuh, aku kan imam masjid kok berencana mau mencuri sandal sih, yaudahlah, biar berjalan seperti sebagaimana mestinya saja. Sudah kubulatkan tekad kalau aku harus bisa mengajak si cantik kenalan. Kalau beruntung aku akan langsung lamar saja.

Dan akhirnya setelah sekian purnama, aku berhasil mendekati dia.

Setelah perkenalan diri yang amat singkat dan penuh gagap, aku berhasil tahu kalau namanya Aisyah. Aisyah ini ternyata anak kampung sebelah, cuma kebetulan katanya dia sedang bekerja di kampungku, jadilah ia selalu sholat jama’ah di masjid kampungku. Tapi, aku tidak bertanya dia bekerja dimana, aku lupa bertanya karena terlalu senang karena aku tahu kalau dia juga masih sendiri.

Setiap hari sehabis shalat aku akan menghampiri Aisyah ditemani oleh temanku, aku takut dituduh macam-macam oleh warga kampung. Aku menyatakan keinginanku untuk mengajaknya ta’aruf dan kalau cocok aku ingin segera melamarnya.

Ternyata Aisyah adalah seorang gadis yatim piatu, waktu mengatakan kalau ia tinggal sendiri hatiku jadi tersentuh. Kasihan sekali dia. Tapi aku sangat kagum padanya, walaupun ia harus berjuang sendiri, dia tidak keluar dari jalur agama, dia tetap menjadi perempuan sholekhah.

Semakin aku mengenal Aisyah, aku semakin jatuh cinta. Dia benar-benar perempuan yang lembut dan anggun. Secara fisik juga dia memenuhi kriteria yang aku cari, matanya lentik dan hidungnya mancung. Aku semakin yakin bahwa dia memang jodohku.

Saat aku nyatakan perasaanku dan niatku untuk menikah dengannya Aisyah tersipu-sipu malu, dia terdiam cukup lama, tentu aja aku jadi deg-deg-an kalau ditolak gimana? Kan aku yang maluuuuu…

Tapi setelah menit-menit menegangkan, akhirnya Aisyah menganggukan kepalanya.
Tanpa menunggu waktu lama aku langsung mengurus semua keperluan untuk acara pernikahan kami. Kedua orangtuaku merestui pernikahan kami. Lalu kami menggelar pesta pernikahan kami gelar dengan sederhana. Acara kami gelar di masjid, karena menurut kami, masjid adalah tempat kami bertemu pertama kali.

Singkat cerita, setelah hari yang melelahkan dan menguras energi, karena kami harus berdiri lalu bersalaman dengan banyak orang, kami beristirahat di dalam kamar pengantin. Kami sepakat untuk menunda melakukan hubungan suami istri karena terlalu lelah, pikirku, untuk apa juga kami terburu-buru toh aku dan Aisyah sudah resmi dan aku bebas mau melakukannya kapan saja. Ah, aku jadi malu.

Malam berikutnya, saat aku dan Aisyah berdua di kamar, aku memintanya untuk membuka bajunya. Tapi, Aisyah menolak, katanya, dia sedang nggak enak badan dan belum siap untuk melakukan hubungan suami istri, dia masih dalam keadaan kurang sehat dan berharap aku mau sabar menunggunya sehat dan siap.

Baiklah, nggak apa-apa, mungkin memang Aisyah belum siap.

Sebelum kami beranjak tidur, Aisyah, mendekatiku dan bergelayut manja, lalu bilang kalau dia minta maaf belum bisa melayaniku dengan baik, aku menjawabnya dengan bijak, nggak apa-apa, aku akan sabar.

Kemudian Aisyah bertanya padaku tentang dimana biasanya aku menyimpan uang, aku mengatakan bahwa aku punya lemari penyimpanan sendiri, dan aku pun menunjukkan dimana lemari uangku. Tapi Aisyah tidak bertanya-tanya lagi, dia hanya memberi saran bahwa mungkin sebaiknya kunci lemari penyimpananku dipegang oleh dia, agar lebih aman.

Aku percaya pada Aisyah, jadi aku mengiyakan apa yang dia minta. Karena menurutku uang suami adalah uang istri.

Hari ketiga kami setelah kami resmi jadi suami istri, Aisyah tetap belum siap. Ada apa gerangan? Apakah dia punya tompel di punggungnya, sampai malu dan menunda-nunda kewajibannya sebagai istri. Tapi, aku tetap sabar menunggu Aisyah siap.

Di hari keempat, Aisyah masih menolak melakukan hubungan suami istri, apakah aku masih harus sabar? Karena aku tidak mau membentak Aisyah, aku pergi keluar dan minum kopi bersama temanku. Pada temanku aku mengeluhkan sikap Aisyah yang belum mau melepas bajunya untuk melayaniku dengan alasan belum siap.

Tapi keesokkan harinya, Aisyah memberiku kabar yang menyedihkan, dia sedang haid hari pertama. Dan biasanya kalau haid dia bisa sampai lebih dari 10 hari.

Aku jadi bertanya-tanya ada apa dengan Aisyah? Apa ada yang dia sembunyikan dariku?
Tapi pertanyaanku terjawab setelah aku dan Aisyah dua minggu menikah.

Saat itu aku sedang mengisi materi di salah satu sekolah, tiba-tiba aku ditelpon temanku yang tempo hari aku curhati masalah Aisyah, aku segera mempercepat materi yang aku sampaikan dan bergegas pulang.

Di rumah sudah ada banyak polisi. Aku bingung. Ada apa ini? Aku mengingat-ingat kegiatanku selama seminggu terakhir. Aku merasa nggak pernah melakukan suatu tindak kriminal atau melanggar hukum, tapi kok ada banyak polisi di rumahku?

Aku melihat Aisyah yang tertunduk lesu.

Aku bertanya pada pak polisi, “Ada apa pak polisi, apakah kami melanggar hukum?”

Jawaban dari pak polisi membuatku kaget.
“Ya, istri anda diketahui telah melakukan pencurian televisi dan pakaian di rumah tetangga Anda.”

Hah? Aisyah mencuri? Kok bisa? Apa jatah uang dariku belum cukup?
“Dan ada satu fakta yang harus Anda tahu, bahwa istri Anda ini adalah seorang pria. Dia bukan seorang wanita. Semula kami mengira bahwa si pencuri adalah wanita tapi ternyata setelah dilakukan pemeriksaan, kami menemukan fakta bahwa orang yang sedang duduk di depan kita adalah seorang pria yang menyamar menjadi wanita.”

Jadi, alasan Aisyah menolak permintaanku adalah bukan karena dia sedang tidak siap atau sedang haid, tapi karena dia sejenis denganku. Yang benar saja! Ternyata selama ini aku menikahi seorang pria?

Tapi, selama ini gerak-geriknya sangat feminin, suaranya juga lembut, mana mungkin sih dia pria?

Polisi juga menjelaskan motif dari penyamaran yang dilakukan pria itu, pria itu ingin mencuri uangku. Pantas saja kemarin-kemarin tanya-tanya soal dimana aku nyimpan uang.

Hatiku sangat hancur mengetahui fakta bahwa aku selama ini menikah dengan seorang pria. Tidak hanya itu, aku juga harus menerima skorsing dari pihak masjid. Aku yang ditipu kenapa aku yang diskors?

Tapi tak apa lah, aku butuh waktu untuk menenangkan diriku dari kekacauan ini. Mungkin besok lagi aku harus lebih berhati-hati dalam mencari jodoh, dan semoga kamu yang mendengar ceritaku menikah dengan perempuan asli, buka perempuan jadi-jadian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here