Tembus Final pada 2016, Apa Beda Persiapan Timnas di Piala AFF 2018?

0
5

Selalu sulit untuk menyebut tim nasional Indonesia telah dikelola dengan baik. Memang, tahun ini timnas kelompok umur berhasil mencatat prestasi yang tak jelek-jelek amat. Timnas u-16 menjuarai Piala AFF u-16, serta menembus perempat final Piala Asia u-16. Kakaknya, timnas u-19, menyabet posisi tiga Piala AFF u-19 dan merangsek ke perempat final Piala Asia u-16. Hasil-hasil Garuda Muda tersebut cukup menggembirakan, tetapi tak demikian dengan kakak paling tua mereka di timnas senior.

Persiapan timnas senior Indonesia untuk Piala AFF Indonesia amat terganggu dengan gonjang-ganjing siapa yang akan menduduki posisi pelatih utama. Luis Milla yang diharapkan melanjutkan tugas, ternyata memilih pulang kampung setelah PSSI gagal memenuhi kontraknya. Alhasil, asisten pelatih Bima Sakti naik pangkat hanya tiga minggu sebelum sepak mula.

Bila target yang dicanangkan publik ialah memutus rantai kegagalan di final, sekarang kita coba realistis, mampukah skuad tahun ini mengulang capaian runner-up pada 2016?

Tahun 2016 merupakan tahun pencerahan bagi Indonesia setelah sanksi FIFA dicabut. Piala AFF 2016 ialah turnamen resmi pertama yang dilakoni tim Garuda semenjak sanksi tersebut. Tentu saja, tak ada yang mengira negara yang hampir dua tahun tak berkompetisi ternyata sanggup menembus babak final.

Alfred Riedl boleh kita sebut sebagai pahlawan. Ditunjuk sejak bulan Juni 2016, pelatih Australia tersebut mampu menciptakan skuad yang kompetitif meski didera keterbatasan. Ya, musim itu, Torabica Soccer Championship sebagai kompetisi tertinggi tanah air masih berlangsung tatkala genderang Piala AFF 2016 ditabuh.

Klub enggan melepas pemain. PSSI harus berkompromi. Timnas hanya diperbolehkan memanggil dua pemain dari tiap satu klub. Pembatasan ini akan dihindari pelatih timnas mana pun di dunia, tetapi Riedl mau menerimanya. Di luar dugaan, tim Merah Putih mampu lolos dari fase grup setelah menjadi peringkat dua, kalah poin dari Thailand.

Kala itu, Rizki Pora, Stefano Lilipaly, dan Andik Vermansyah jadi bintang. Indonesia tampil kolektif dengan benar-benar memanfaatkan Pakansari sebagai benteng di babak semifinal dan final.

Di semifinal, Manahati Lestusen dan kawan-kawan dipertemukan dengan Vietnam, yang saat itu jadi juara grup A. Tak dinyana, Vietnam pun dilibas meski pertandingan kandang tak dilaksanakan di GBK. Di babak final, sekali lagi Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand.

Tahun ini, Indonesia kembali akan menghadapi Thailand di fase grup. Edisi kali ini terdapat sedikit perbedaan dalam hal jumlah peserta dan format kompetisi. Dengan lima negara tiap grup, akan ada empat pertandingan di fase penyisihan, dengan format kandang-tandang.
Indonesia akan menjamu Filipina dan Timor Leste di Jakarta, lalu akan bertandang ke Singapura dan Thailand. Kali ini, Bima Sakti akan memimpin skuad Garuda.

Masalah bagi skuad ini sama: klub masih disibukkan dengan kompetisi sehingga timnas terpaksa berkompromi.

Di Asia Tenggara, cuma Indonesia negara partisipan yang kompetisinya masih berlangsung. Meski tak ada kesepakatan “satu klub dua pemain”, tetap saja, pilihan pemain bagi Bima Sakti cukup terbatas. Hanya Barito Putera dan Bhayangkara FC yang menyumbang tiga pemain.

Meski begitu, Bima diuntungkan dengan skuad kali ini yang merupakan peninggalan Luis Milla. Bila skuad muda ini mampu menembus perempat final Asian Games, sampai mana seharusnya skuad ini di Piala AFF?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here