Tantangan 19 Jam Berada Di Mal Termewah

0
37

Awalnya aku iseng karena hari mingguku super gabut. Oh ya kenalin aku Putri. Hari ini aku mau membagikan pengalamanku selama 19 jam di Mal Grand Indonesia Shopping Town yang berujung pada mengenali hakikat diri sendiri.

Seperti pepatah bijak mengatakan: manusia harus menerima hal-hal di luar kendalinya. Contohnya Jakarta, kamu akan menemukan banyak gedung-gedung pencakar langit dan mal, ya, terutama mal. Jakarta adalah kota besar dengan jumlah mal terbanyak, ada 170 mal bertebaran di kota ini.

Mal-mal besar dan mewah tampak seperti lebih penting dibandingan taman, jalan atau taman bermain. Mal-mal itu seperti punya banyak kemudahan untuk dibangun dan menghabiskan banyak ruang public.

jika orang bijak berkata ‘banyak jalan menuju Roma’, di Jakarta aku rasa lebih pas begini “banyak jalan yang udah dibangun mal dan kamu nggak bisa kemana-mana’

Selama tinggal di Jakarta aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengunjungi mal. Tapi, salah satu redaksi majalah elektronik Indonesia memintaku untuk menghabiskan 19 jam di mal Grand Indonesia, dan kerennya lagi, aku pasrah menerimanya.

Tapi, jujur aja, setelah aku tinggal di Jakarta selama 2 tahun yang panas, penuh polusi, dan infrastrukturnya yang jauh dari bagus, aku nggak keberatan main ke mal. Karena di dalam mal itu kita bebas dari macet, dari panasnya jalanan, dan yang jelas adem banget.

Dan tantangan 19 jam pun dimulai.

Di suatu pagi, aku berjalan dari Bundaran HI ke Grand Indonesia. Mal itu memiliki luas kurang lebih 263 ribu meter persegi yang terbagi antara sayap timur dan sayap barat, ya sebetulnya ini tuh kayak dua mal jadi satu, masing-masing bangunan dihubungkan dengan sebuah jembatan.

Dan ketika aku memasuki Grand Indonesia, aku merasa kayaknya aku bakal nemuin semua yang aku butuhin, dari tempat spa, tempat ding dong, taman hiburan mini buat anak-anak, restoran mewah, restoran fast food, bioskop, karaoke, dan lebih dari 180 toko.

Dan bayangin, aku harus bisa menghabiskan waktu selama 19 jam di Grand Indonesia. Apa aku bisa? Karena yang selalu aku bayangkan mal adalah tempat nongkrong yang nggak asyik, tapi… yasudahlah…

Jam tujuh pagi kurang 10 menit,

Di mal ini, kalau kamu termasuk penggemar barang mewah dan di daerahmu susah banget buat didapetin, di Grand Indonesia, gampang banget. Tinggal kamu cari aja yang ada tulisan ‘Platinum’ di dalamnya. Aku nyoba program uji coba 3 hari Fitness First Platinum, alasannya karena saat itu aku sedang pengen berenang. Kolam renang outdoor, ada di lantai 8. Di tengah kolam renangnya ada semacam terowongan angin yang menyemburkan air setiap kali aku mau ngambil nafas. Dan lantainya terbuat dari mosaic, aku enggak tahu kenapa dipasang diagonal.

Dan yang lebih mengagumkan lagi, aku adalah satu-satunya orang yang berenang saat ini. Orang-orang yang datang ke sini Cuma duduk-duduk di pinggir kolam. Mubazir banget nggak sih? Padahal biaya keanggotaannya aja RP 20 juta sebulan, dan mereka cuma duduk-duduk aja?

Lanjut jam 8 lebih 40

Aku duduk-duduk di kursi Lounge, kursi lounge-nya emang nyaman banget, aku aja sampai ketiduran di situ. Waktu tiduran, aku Cuma ngeliatin logo raksasa Mercedes Benz muter-muter di atas menara perkantoran dekat mal.

Pas ngeliat ke bawah aku bisa ngeliat orang-orang demo yang menuntut kemerdekaan papua. Dari atas sini, sejauh yang bisa aku lihat, aku Cuma disuguhui pemandangan langit biru dan pohon palem.

Jam 9 lebih 10 menit

Kali ini aku di ruang uap. Sebelum keluar dari ruangan ini, aku mengeringkan rambut pakai blow rider di depan kaca make up gede banget seukuran papan billboard. Dan di kanan kiriku ada banyak perempuan yang lagi sibuk menata rambut, aku nggak tahu mereka udah berapa lama.

Kesimpulanku di Lounge Gym, tempat ini lebih cocok buat nyantai daripada buat olahraga. Karena yang aku lihat lebih banyak orang yang duduk-duduk santai di sofa daripada capek-capek berkeringat.

Jam setengah 11 siang

Setelah renang, aku laper berat. Aku pergi ke basement mal untuk sarapan. Tapi pas pesenanku udah datang,tiba-tiba aku galau. Rasa percaya diriku sedikit demi sedikit terkikis. Mungkin karena aku satu-satunya orang yang jadi pengunjung restoran di jam segini. Aku menghabiskan sarapanku dengan cepat, Karena rencananya setelah makananku habis aku akan pulang saja. Tapi, sayangnya, sepertinya takdir sedang ingin aku berada di dalam Grand Indonesia. Di luar mal luar biasa macet, bikin males kemana-mana, jadilah aku tertahan di dalam mal.

Setelah kegalauan yang nggak jelas tadi, aku berkeliling sebentar dan sampailah aku di toko  H&M yang gede banget. Di toko ini mataku menatap mata Justin Bieber yang terpampang di sebuah kaos.

Setelah melihat-lihat kaos dan nggak jadi beli, jam 12 lebih 20 menit aku lanjut ke toko buku Gramedia, yang makin lama makin mirip toserba. Di toko buku ini aku sibuk memilih-milih pulpen. Bolak-balik nulis namaku di kertas yang disediakan dan berharap bisa menemukan pulpen yang tepat, yang bisa bikin perasaanku mendingan.

Saat aku sudah menemukan pulpen yang aku rasa cocok, aku langsung membayangkan diriku membangun karir dengan menggunakan pulpen itu. Aku pikir, investasi Rp 18.000 untuk satu buah pulpen lebih baik daripada mantengin wajahnya Justin Bieber.

Dan yang jelas makin siang, perasaanku makin baik, apalagi aku sudah melihat banyak orang-orang kantoran berpakaian batik masuk ke mal dari gedung perkantoran setempat, dan saat itu aku sadar kalau ini udah jam makan siang.

Jam satu siang, mendadak aku pengen banget minum Icee, tapi ternyata enggak ada yang jual di Grand Indonesia. Jadi aku pesan Banana Nutella Blizzard di Dairy Queen, lumayanlah daripada lumanyun. Dan di foodcourt ini aku mengamati banyak orang. Sebagian besar dari mereka bengong ngelihatin layar HP mereka sendiri.

Yang aku pikirkan, kenapa mereka malah diem-dieman gitu pas jam istirahat makan siang? Kenapa mereka nggak ngobrol? Jangan-jangan bahan obrolan mereka udah habis tadi pas jam kerja? Aku benar-benar nggak paham. Dan yang bikin aku makin nggak paham adalah kenapa aku susah banget nemuin tong sampah di foodcourt, hei tong sampah dimana kamu?

Jam 3 sore lebih 40 menit, saat ini aku benar-benar ngrasa mendingan dan lebih baik dari tadi pagi. Perasaanku yang nggak mood tadi pagi menguap tak berbekas. Atau mungkin karena efek habis nonton Moana, efek 3D-nya emang bagus banget sih tadi.

Aku baru tahu, mendengarkan beberapa lagu Disney ternyata bisa membuat perasaan lebih ringan.

Di dekat bioskop ada Funworld, di situ aku main game virtual ski, dan perasaan nggak nyaman yang tadi aku rasain hilang begitu aja.

Di mal ini, kayaknya kamu bisa bertemu deengan banyak jenis manusia. Kayak sekarang, aku sedang berdiri di escalator, dan di depanku ada ibu-ibu berkerudung selfie ramai-ramai. Rasanya, ini mal mirip incubator yang isinya kenangan berselfie.

Setelah ibu-ibu selfie aku melihat ada sebuah keluarga yang sangat tajir beserta asisten rumah tangganya mbuntutin di belakang. Dan si asisten rumah tangga aku lihat kayak senang banget diajak ke mal ini.

Di saat memperhatikan banyak orang yang berseliweran, aku mulai paham gimana cara kerja ini mal.

Jam 4 sore, aku ngecek Iphone-ku. Aku udah jalan 12.347 langkah. Wah, berarti ini mal gede banget, kakiku sampai nyut-nyutan.  Dan ini mungkin bisa aku jadiin tips diet buat kamu yang lagi pengen olahraga tapi yang nggak kerasa, ke mal aja. Hehe, badan langsing, mata seger tapi dompetnya ikutan langsing.

Jam 7 malam kurang 10 menit, aku naik ke lantai 56, aku ke Skye, bar bagian atap mal yang bisa ngasih view seluruh kota.

Langit sedang jernih, jadi aku bisa lihat pemandangan gunung-gunung ang biasanya enggak kelihatan karena polusi.

Aku merasakan sensasi yang luar biasa saat melihat Jakarta dari ketinggian. Kadang kupikir, bagaimana bisa kota Jakarta yang tadinya hanya rawa-rawa sekarang  menjadi kota dengan populasi terbesar kedua di dunia. Jakarta seperti raksasa yang tertidur, baru kerasa asyiknya kalau udah bangun.

Jam 9 lebih 40 menit, aku ketemu teman-teman. Dan kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran yang terletak 3 lantai di atas restoran tempat tadi pagi aku sarapan.

Setelah makan malam aku dan teman-temanku main billiard di bar karaoke dan billiard jepang. Begitu jam tangan udah menunjukkan pukul 12 malam lebih 20 menit aku dan teman-temanku langsung menyudahi permainan.

Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah aku melihat ada seorang laki-laki yang memandangi ponselnya di Ace Hardware, terus ada OB yang berkeliling sambil mendorong mesin penyapu, juga ada seorang sekuriti yang sedang berbicara di walkie talkie.

Kegiatan mereka itu membuatku flashback ke 18 jam yang lalu, dimana aku melihat ada banyak karyawan yang tidur di luar toko-toko pas aku baru sampai ke Gym.

Dan setelah pikiran-pikiran tentang para karyawan toko yang kerja di Grand Indonesia aku berjalan menuju pintu keluar.

Dan, akhirnya…. Aku bebas. Lega banget rasanya bisa menghirup udara luar. Walaupun, baunya campuran keringat dan sampah basah, yang menurutku benar-benar baunya Jakarta banget. Dan setelah kurang lebih 19 jam aku berada di dalam Grand Indonesia, aku jadi tahu satu hal, bermain di mal nggak seburuk seperti yang aku bayangkan di awal, tapi tetep aja, aku lebih suka main di tempat lain.

Dan dari perjalanan 19 jam ini aku jadi memahami satu hal bahwa mal ini seperti ekosistem yang berdiri sendiri dimana seseorang dapat terjebak untuk terus menerus berada di dalamnya tanpa bisa keluar, seperti suatu rutinitas yang menuntut kita untuk tidak tidur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here