Keluarga Tak Kasat Mata Part 3 : Memutar Waktu Tak Ada Beda

0
38
idntimes.com

Melanjutkan kisah sebelumnya dimana nenek itu menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil mengulang ucapan teman aku,”Astaghfirullah”. Kami pun hanya bengong melihat nya. Perasaan takut, gundah dan putus asa atas segala usaha untuk kabur. Sekali lagi mata terpejam dengan harapan yang masih sama. Akhirnya setelah beberapa saat, kami sedikit bernafas lega karena si nenek sudah pergi. Serentak kami lari menuju ruang tengah menghampiri kedua teman kami masih sibuk disana. Langsung kami paparkan semua kejadian yang buat orang yang tidak di tampakkan. Saat itu rasa nya ingin sekali pulang karena pada saat itu mental nya sangat tidak kuat. Setelah itu kami putuskan untuk tidur berjamaah di ruang tamu sambil nyalain TV.

Kembali di tahun 2010-2011 ketika masih SMA dulu, aku pernah beberapa kali ikutan acara naik gunung bareng beberapa temen SMA. Tujuan saat itu adalah gunung merbabu yang masih kategori pemula. Saat itu cuaca sedang hujan di sepanjang perjalanan kami selalu di temanin selimut kabut yang perlahan muncul dari balik pepohonan. Segala pertanyaan sudah terangkum di kepala aku dari artikel yang sudah aku baca tentang tempat angker yang ada di gunung merbabu. Cerita ini yang membuat aku tertantang untuk mulai pendakian di malam hari, jadi segala keraguan aku akan hal tersebut mungkin bisa sedikit terjawab jika aki beruntung.

Di sepanjang jalan pendakian, aku selalu mainin senter aku kea rah pohon sambil mencari-cari siapa tahu ada yang aneh di hadapan mata aku. Dan kita pun tidak menemukan apa-apa, padahal aku sudah mempunyai niat bisa melihat hal-hal ghoib. Dan ketika di kuburan aku pun juga tidak merasa aneh. Akhirnya pencarian terus berlanjut selama perjalanan kami. Sampai pada akhirnya kita sampai di pos dua yang berupa tanah lapang, disana banyak perkumpulan pendaki-pendaki lain yang sedang bermalam sebelum melanjutkan ke puncak. duduk-duduk sebentar sambil minum, kami semua berdiskusi untuk menentukan bermalam disini atau tetap lanjut untuk ngejar sunrise? Kami memilih untuk tetap lanjut setelah ambil nafas dan bersosialisasi sejenak dengan para pendaki lain. Sesekali aku masih berusaha memainkan senter aku ke setiap arah. Karena aku yakin tidak aka nada penampakan apapun. Apalagi pada saat itu suasana sedang ramai. Saat itu udara sangat dingin karena hujan gerimis menggiring langkah kami dari basecamp pendakian sampai ke titik ini.

Kita duduk di sembarang tempat, sambil ngemil sedikit persediaan yang kami bawa. Terasa sedikit senggolan tangan temen aku, ketika aku lagi tiduran buat ngatur nafas. Dia bilang bahwa dia melihat sesuatu di balik pohon tumbang itu dan sambil nunduk ke bawah dan matiin senternya. Aku langsung dengan sigap menjawab pelan temen aku yang naman nya ridho. Tidak lama tangan aku langsung ambil senter dan nyari pohon yang di maksud sama temen aku. Wajah aku mendadak pucat dan lemas, di balik pohon tumbang tadi untuk pertama kalinya aku liat dengan jelas bahkan sangat jelas sesosok wanita tertunduk memakai baju putih bersimbah sedikit darah di bajunya. Di luar bayangan aku kalo bakalan ada darahnya juga dan wanita ini lumayan tinggi bersembunyi. Dan tidak tahu kenapa dalam sekejap mata walaupun dia tertunduk aku bisa ngerasain hawa mengerikan seperti dia mau meminta tolong gitu. Mungkin dia mati nya penasaran dulu nya. Dan seorang pendaki mempunyai aturan dimana tidak boleh bercerita apa-apa sebelum sampai ke puncak dan turun di basecamp. Akhirnya kita tetep jalan lagi dan tidak melihat spot tadi sambil melihat kaki temen aku.

Semua niat aku yang sudah aku kumpulin sebelum mendaki menjadi buyar. Ketika temen-temen aku sudah memutuskan buat jalan lagi, Dan ketika itu di lapangan aku melihat seluruh lapangan berisi pocong semua. Jumlah nya bisa puluhan, jujur aku tidak percaya sama apa yang aku liat barusan dan aku pantengin semua tapi tidak hilang-hilan. Aku baru tahu jika pocongan itu tinggi banget hampir 2 meteran, beda sama yang sering kita lihat di film. Dari segala penjuru aku bisa melihat mereka hanya berdiri mematung, tidak Cuma di komplek pos 2 saja, aku masih bisa liat beberapa di jalan yang harus di lalui untuk melanjutkan perjalanan. Pengalaman itu masih terbesit jelas di pikiran aku, setiap sosok yang unik seolah langsung terekam permanen di pikiran aku. Sambil nyalain rokok aku duduk santai sore di taman tengah kantor. Setelah kejadian itu, aku hampir semingguan tidak main ke kantor. Berhubung hari ini ada rapat progress jadi aku harus datang ke kantor. Kondisi sekarang sudah ramai, karena proses pindahan sudah sepenuhnya kelar. Jadi sudah rame suasana nya, tidak kepikiran kejadian sebelumnya bakal keulang lagi. Setiap ruangan sudah ke isi dan orang-orangnya juga sudah mulai aktivitas masing-masing. Dan di situ ada ruangan yang nama nya gudang dan ada penunggunya. Penunggunya adalah rajanya yang memiliki kekuatan jauh di atas normal. Hal itu sangat membuat aku ketakutan karena posisi gudang sangat dekat dengan ruangan ku. Cerita selanjutnya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here