Tahu Aku Mengidap Kanker Payudara, Suamiku Berselingkuh dengan Adikku

0
5

Bagiku, pernikahan adalah sebuah ikatan suci dimana aku dan suamiku nanti akan menjadi sepasang kekasih seumur hidup yang akan selalu bersama saat susah maupun senang. Dan bagiku suamiku adalah sosok yang mendekati sempurna. Dari segi finansial dia sangat mapan, dari segi fisik dia manis, dan dari segi attitude dia bisa memperlakukanku seperti ratu.

Namaku Amanda. Usiaku 44 tahun. Aku seorang ibu rumah tangga yang sudah dikaruniai 3 orang anak. Dan semua orang yang mengenalku berkata bahwa aku memiliki kehidupan yang sempurna. Karena menurut mereka aku sudah punya semuanya.

Mereka selalu bertanya padaku ‘apa sih rahasianya? Kok bisa seharmonis itu?’ dan selalu kujawab dengan bangga ‘aku punya suami yang setia’ kemudian mereka akan menatapku iri. Aku menikmati tatapan iri mereka.

Hari-hariku hanya diisi dengan menjadi istri dan ibu yang baik. Setiap pagi aku akan menjadi perempuan yang memasangkan dasi di kemeja suamiku dan menyiapkan secangkir kopi untuknya. Setelah selesai menjadi istri aku akan berpindah peran menjadi ibu, aku menyiapkan sarapan untuk ketiga anakku. Jika semua sudah berangkat sekolah dan bekerja barulah aku bisa agak sedikit santai. Baju kotor tinggal aku bawa ke laundry, suamiku melarangku mencuci sendiri. Kata dia, ‘istriku nggak boleh capek’ dan kalau aku lagi malas masak suamiku akan bilang ‘makan di luar aja yuk bun’, dia tidak pernah memaksaku untuk seperti kebanyakan istri-istri di luaran sana. Dia membebaskanku, tapi aku tetap ingin melakukan banyak hal yang biasa dilakukan istri, aku ingin jadi istri terbaik untuknya.

Tapi, kadang sebagai istri aku merasa insecure dengan penampilanku. Sejak aku melahirkan anak ketiga, berat badanku naik drastis, wajahku tidak secerah dulu sewaktu kami belum menikah, banyak flek hitam. Tapi suamiku selalu bilang ‘kamu tetap yang tercantik kok bun’, siapa sih yang tidak senang diperlakukan sebaik itu padahal dia sendiri juga tahu kalau aku tidak secantik dulu.

Itu membuatku selalu percaya padanya bahwa walaupun di luaran sana ada ratusan perempuan cantik dan seksi dia tidak akan pernah menduakanku, dia akan selalu setia.

Suatu hari aku jatuh sakit. Sebenarnya ini adalah sakit yang biasa aku alami, hanya saja aku mengabaikannya. Kupikir mungkin ini hanya sakit biasa, minum obat dari apotik pun pasti sembuh. Tapi, lama kelamaan sakitku bertambah parah, aku tak mungkin mengabaikannya. Lalu aku memutuskan untuk periksa ke dokter. Dan betapa terkejutnya aku, saat dokter berkata bahwa aku menderita kanker payudara stadium empat. Dan kanker itu sudah menjalar ke paru-paru.

Setelah tahu sakit apa yang aku derita, aku menjalani banyak rangkaian prosedur kesehatan. Aku harus keluar masuk rumah sakit untuk melakukan kemoterapi. Rasanya sangat melelahkan. Tidak hanya proses kemoterapi yang harus aku jalani, aku juga harus menerima kenyataan bahwa aku harus melakukan operasi pengangkatan payudara. Selama menjalani proses penyembuhan, aku selalu ditemani suamiku. Sudah kubilang ‘kan? Suamiku sangat baik dan setia.

Tapi, lambat laun, aku merasa ada yang berbeda dari suamiku sejak aku melakukan operasi pengangkatan payudara. Aku mencoba berpikir positif, mungkin dia lelah. Karena harus bolak balik tempat kerja dan rumah sakit.

Tapi, sepertinya pikiran positif tidak cukup untukku. Suamiku jarang menengokku di rumah sakit. Kadang untuk sekedar mengenyahkan rasa penasaranku aku akan menanyainya, setiap kali kutanya kenapa dia tidak mengunjungiku di rumah sakit, dia bilang kalau dia ada urusan pekerjaan. Lalu aku tidak bertanya lagi, aku takut dia marah dengan kecurigaanku yang mungkin menurutnya tidak berdasar ini.

Sejak aku keluar dari rumah sakit, suamiku selalu menghilang ketika malam. Dan aku akan otomatis bertanya, kemana ia pergi dan ia akan menjawab ada rapat mendadak dan tidak bisa ditunda. Kadang saat aku sedang manja dan ingin ditemani dia pun, dia enggan menunda semua urusannya, dia akan menjawab ‘kan sudah ada kakak bun’.

Sebenarny aku sendiri tidak tahu pasti hal ini sudah terjadi berapa lama, karena beberapa bulan terakhir aku lebih sering menghabiskan waktuku di rumah sakit. Dan kadang selama aku menjalani rawat inap, yang menjagaku bukan suamiku, tapi anak perempuan kami.

Aku mencoba untuk tidak berpikir yang macam-macam tentang dia, aku tidak ingin menaruh rasa curiga padanya, kata dokter jika aku ingin sembuh aku harus relaks dan tidak boleh banyak pikiran. Tapi perubahan suamiku semakin terlihat nyata. Aku seperti kehilangan sosok suami idaman yang selalu aku bangga-banggakan dulu. Dalam pikiranku kadang timbul sebuah pertanyaan, apakah dia memiliki perempuan lain?

Suatu malam, saat dia berada di rumah aku memberanikan diri berkata bahwa aku akan baik-baik saja jika suamiku menikah lagi, selama dia tidak melakukannya saat aku masih bernafas. Suamiku hanya menanggapi ucapanku dengan senyuman. Tapi, aku tahu dia menyembunyikan sesuatu yang sangat penting.

Suatu ketika, saat telepon seluler milik suamiku dibiarkan tergeletak di atas tempat tidur, aku memberanikan diri untuk membukanya. Aku sedikit deg-degan saat akan membukanya, ada sedikit rasa takut. Tapi kenapa aku harus takut? Dia kan suamiku? Masak sih dia bakal marah melihat aku buka-buka ponselnya? Aku kan istrinya!

Dan… ternyata di ponselnya aku menemukan sesuatu yang membuatku sakit hati. Hatiku hancur sekali saat membaca pesan-pesan yang sangat mesra itu dengan perempuan yang tidak aku tahu siapa.

Kucoba menelepon perempuan itu dengan menggunakan nomor telepon suamiku. Dan aku masih harus dikejutkan dengan suara perempuan yang sangat aku kenal.

Perempuan itu adikku.

Di dalam telepon kudengar suara adikku mengucapkan ‘halo’ berkali-kali, yang semakin menguatkan bahwa itu suara adikku adalah aku juga mendengar background suara ibu di belakangnya. Aku terlalu shock, sampai aku bingung mau bilang apa. Kumatikan sambungan telepon itu dan kuletakkan ponsel suamiku seperti semula.

Adikku memang cantik, dia janda muda yang masih berumur 28 tahun. Dia juga mengenakan hijab. Dia model yang terkenal. Fisiknya masih oke.

Tapi, kenapa harus suamiku? Kenapa bukan lelaki lain yang ia dekati? Apakah dia tidak memikirkan perasaanku? Aku kakaknya, dan aku sedang sakit keras.

Atau mungkin suamiku kah yang mendekati adikku?

Sebagai istri yang dari dulu mendampinginya dari nol aku merasa terbuang. Apakah karena aku sudah tidak cantik? Apakah karena aku sudah tidak bisa melayaninya seperti dulu? Atau karena aku penyakitan lalu dia merasa punya hak untuk membuangku dan mencari penggantiku. Tapi kenapa harus adikku?

Di saat aku harusnya mendapat banyak dukungan dari suami, suami yang dulu selalu aku bangga-banggakan malah asyik bermesraan dengan adikku.

Semua rasa bangga pada suamiku mendadak hilang tak bersisa. Kukira dia laki-laki paling setia yang pernah aku temui. Ternyata, dia sama saja.

Aku seperti berada di tengah badai. Terombang ambing oleh perasaan bimbang. Aku ingin mengatakan pada keluargaku tentang apa yang dilakukan oleh suami dan adikku, tapi di satu sisi aku takut kehormatan keluargaku akan hancur, dan rasa hormat anak-anakku pada ayahnya akan hilang tak bersisa.

Tuhan… aku ingin kau segera mengakhiri hidupku saat aku benar-benar-benar sudah siap, karena aku sudah tak tahan dengan semua ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here