Si Rajin dan Si Malas

0
37

Si Rajin dan Si Malas

Dahulu kala, ada sepasang suami istri yang tinggal di daerah pinggiran hutan. Sang suami memiliki anak gadis dari pernikahan pertamanya dulu dan si istri juga memiliki anak gadis dari pernikahannya yang pertama.

Sang istri sangat menyayangi putri kandungnya. Dia sangat memanjakan putrinya. Dia juga selalu memberikan pakaian yang bagus untuk putrinya. Anak gadisnya tidak pernah melakukan apa pun selain duduk dan mempercantik dirinya.

Sebaliknya, dia bersikap seenaknya jika dengan anak perempuan dari pihak suaminya. Anak gadis dari pihak suaminya selalu ia bebani dengan tugas membersihkan seluruh rumah. Namun, si gadis yang rajin tidak mengeluh. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan senang hati.

Suatu hari, sang ayah jatuh sakit. Sang ayah tidak bisa bekerja. Dan anaknya yang rajin pun menawarkan diri untuk mencari pekerjaan di kota. Mendengar penuturan anak suaminya, si istri menyeringai jahat.

“Benar. Dia harus bekerja. Ayahnya sudah tidak bisa menghasilkan uang lagi,” katanya pada dirinya sendiri.

Lalu dia pun menyatakan persetujuannya atas keinginan anak suaminya.

Sang suami tampak geram dan marah.

“Kenapa kau tidak mengirim anakmu untuk bekerja?” teriaknya marah.

‘Oh, aku sangat menyayangi putriku. Dia sangat cantik. Kuku dan kaki indahnya akan rusak jika harus bekerja. Sedangkan anakmu dia kan tidak terlalu cantik” kata si istri.

“Tahu apa kau soal kecantikan!” si suami tidak terima anaknya dibandingkan dengan putri tirinya.

Namun si gadis yang rajin menenangkan ayahnya.

“tidak apa-apa ayah. Aku akan bekerja ke kota,” katanya lembut.

Sang ayah yang merasa bahwa keputusan putrinya sudah bula tidak melarangnya lagi.

Keesokan harinya gadis rajin itu berangkat ke kota.

Dasar ibu tirinya memang jahat, gadis itu tidak diijinkan membawa perbekalan. Maka berangkatlah gadis itu menuju kota. Sebelum berangkat gadis rajin itu mendapat pesan dari ayahnya.

Bekerjalah sepenuh hati. Berilah bantuan pada setiap orang yang memintamu, jangan pernah kau tolak permintaan tolong mereka. Dan bekerjalah yang rajin.

Begitu pesan ayahnya.

Ketika dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang tua renta yang dahan pohonnya kering. Dia meminta bantuan pada si gadis rajin untuk memangkas dahan-dahan kering itu dan berjanji akan membalas kebaikan si gadis jika gadis itu mau membantunya. Gadis itu tidak menolak sama sekali. Dia melakukan itu dengan senang hati. Setelah selesai, nenek tua renta itu mengucapkan terima kasih. Lalu gadis pun pergi, melanjutkan perjalanannya.

Setelah berjalan beberapa jam, gadis itu bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang terduduk lemas. Dia sedang memegang cangkul. Dia tampak kelelahan. Dia pun meminta bantuan pada si gadis rajin tersebut dan berjanji akan membalas kebaikan gadis itu jika ia mau membantunya. Tanpa berpikir panjang gadis baik hati itu mau memberikan bantuan. Dengan cekatan ia mencangkul tanah yang belum dicangkuli kakek itu. Setelah selesai ia mengembalikan cangkul itu. Si kakek berterima kasih dan merasa menyesal karena gara-gara ia meminta bantuan si gadis, tangan gadis itu jadi kotor.

Gadis baik hati itu menggelengkan kepala dan tersenyum. Dia mengatakan dia sangat senang bisa membantu. Kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.

Tak lama berselang, gadis itu bertemu dengan seorang nenek yang tua. Nenek itu tampak sibuk dengan tungkunya dan wajahny kelihatan sedih. Ketika nenek itu melihat si gadis, dia meminta bantuannya agar mau memperbaiki tungkunya. Dia berjanji akan membalas kebaikan gadis itu jika mau membantunya. Tanpa banyak berpikir si gadis segera memperbaiki tungku nenek tua itu. Dia mencari tanah liat di dekat hutan dan menambalnya pada tungku nenek itu. Setelah selesai sekujur pakaian gadis itu sangat kotor, namun tungku yang ia perbaiki tampak baru. Si nenek berterima kasih dan si gadis tersenyum kemudian melanjutkan perjalanannya.

Baru berjalan beberapa menit dia bertemu seekor anjing yang bulu lebatnya sangat kotor. Anjing itu mendekati si gadis dan menjilat-jilat si gadis. Gadis itu tampak senang dan membawa anjing kotor itu ke sungai. Dia memandikan anjing itu dan juga membersihkan dirinya sendiri. Setelah selesai ia meninggalkan anjing yang sudah bersih itu di dekat hutan, dia melanjutkan perjalanannya lagi.

Namun, dia sangat kelelahan. Dan dia ingin istirahat. Saat itu dai melihat sebuah rumah yang sangat megah. Dia pun menghampiri rumah itu.

“Permisi, aku hanya ingin menumpang istirahat. Aku snagat lelah,” katanya, rumah itu masih kosong. Tiba-tiba ada seorang nenek tua berwajah ramah menghampiri gadis itu.

“silahkan nak. Tapi kemana kau akan pergi jika aku boleh tahu?”
“aku sedang mencari pekerjaan, nek.’
“Bagaimana kalau kau bekerja disini?” tawar nenek itu
“Benarkah?” gadis itu tampak senang sudah mendapatkan pekerjaan.
“Dengan satu syarat, kau di larang membersihkan ruangan nomor tujuh. Ruangan yang lain boleh kau bersihkan,” jelas nenek itu.

Gadis itu mengangguk senang. Dia menyetujui kesepakatan tersebut.

Dan si gadis rajin benar-benar bekerja dengan sepenuh hati. Dia membersihkan semua ruangan kecuali ruang nomor tujuh.

Setelah satu tahun bekerja dia pun mendapatkan upahnya. Nenek itu memberinya sekantung uang emas. Namun, ia masih heran, kenapa gadis rajin itu tidak pernah membuka ruang nomor tujuh.

“kau bekerja dengan sangat rajin Nak. Tapi ada yang ingin aku tanyakan. Kenapa kau tidak pernah membuka ruang nomor tujuh?”
“Karena itu adalah perintahmu. dan aku harus mematuhinya. Ayahku berpesan padaku, bekerjalah dengan sepenuh hati dan patuhi semua tugas yang diperintahkan,” jawabnya.

Si nenek tersenyum puas.

“Kali ini kau boleh masuk ke ruangan itu,” kata nenek itu.

Gadis itu masuk ke ruangan nomor tujuh. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati banyak tumpukan uang emas dalam ruangan itu. Si nenek pun memerintahkan si gadis rajin untuk mengambil sebanyak yang ia mau. Maka gadis itu mengambil uang sebanyak yang ia bisa.

Setelah itu ia pulang.

Di perjalanan pulang ia berjumpa dengan seekor anjing yang pernah ia mandikan di sungai. Anjing itu memiliki banyak mutiara dan berlian di sekujur tubuhnya. Anjing itu memberikan beberapa mutiara dan berlian pada gadis rajin itu. Gadis itu sangat senang. Maka ia melanjutkan perjalanan pulangnya.

Tak lama berselang ia bertemu nenek tua yang tungkunya pernah ia perbaiki. Nenek itu menawarkan beberapa kue hangat yang bisa dimakan oleh gadis itu. Gadis itu memakannya dan teringat ayahnya. Dia mengatakan pada nenek itu, apakah dia boleh membawa beberapa roti untuk ayahnya. Nenek tua itu memberikan banyak roti pada gadis itu. Gadis itu merasa senang dan kemudian melanjutkan perjalanannya.

Bebrapa jam dalam perjalanannya, dia bertemu dengan kakek tua yang pernah ia tolong. Kakek itu sedang panen ubi. Dia pun menawarkan banyak ubi pada gadis itu. Gadis itu sangat senang. Dia menerima semua ubi yang diberikan kakek itu. Lalu dia pergi melanjutkan perjalanannya lagi.

Setelah berjalan cukup jauh gadis itu berjumpa dengan nenek renta yang dulu pernah ia tolong. Nenek itu sedang panen buah-buahan dan menawarkan beberapa minuman segar hasil olahan tangannya. Gadis rajin yang memang sedang haus itu pun menerima minuman yang ditawarkan nenek itu dan memakan beberapa buah-buahan segar yang ada. Nenek renta itu memberikan beberapa buah-buahan yang ia petik. Gadis itu melonjak senang dan berpikir ayahnya pasti sangat senang jika ia pulang membawa banyak makanan seperti itu.

Setibanya di rumah ia disambut oleh ayahnya yang sudah merindukan putri kesayangannya. Ayahnya sudah kembali sehat. Berbeda dengan ibu tirinya, ibu tiri gadis itu menatap iri pada si gadis rajin. Dan ia tahu ayah gadis itu tak akan membiarkan anak gadisnya bisa ia kuasai. Maka, dia pun menyuruh anak kandung mengikuti jejak si gadis rajin.

Maka berangkatlah gadis malas itu menuju kota, untuk mencari pekerjaan . Maka selama perjalanan menuju kota dia yang juga menemui orang-orang yang meminta bantuan, namun sayangnya tidak seperti si gadis rajin yang mau dengan senang hati membantu, dia menolak membantu. Dia takut kuku-kukunya yang cantik akan rusak dan bajunya yang indah menjadi kotor.

Setelah menolak semua permintaan bantuan, sampailah ia di sebuah rumah megah yang dulu juga dimasuki oleh si gadis rajin. Di sana ia bertemu dengan nenek baik hati. Dia mengatakan tujuannya di sana. Ia hanya ingin beristirahat karena lelah perjalanan mencari pekerjaan. Lalu nenek itu menawarkan pekerjaan pada gadis itu. Dengan syarat yang sama dengan gadis yang rajin dulu. Gadis pemalas itu dilarang memasuki ruang nomor tujuh. Namun, gadis pemalas itu tidak mendengarkan dan melanggar perintah nenek itu.

Maka, ketika ia memasuki ruang nomor tujuh, dia menemukan sarang lebah yang berkerumun dan segera menyerangnya. Gadis itu pun pergi dari rumah megah itu.

Di sepanjang perjalanan pulangnya, ia bertemu dengan semua orang yang dulu permintaan bantuannya ia tolak.

Maka ketika ia bertemu dengan anjing yang tidak mau ia bersihkan, ia malah digigit oleh anjing itu karena sudah tidak tahu malu meminta salah satu berlian yang ada di tubuh anjing itu. Dan saat dia lapar dan ingin makan roti, nenek pembuat roti tak memberikannya. Dan saat dia bertemu kakek pemilik ladang ubi, kakek itu tidak memedulikannya. Dan terakhir saat ia bertemu dengan nenek renta pemilik kebun buah, ia hanya diberi buah busuk yang langsung ia buang karena jijik.

Akhirnya, dia sampai ke rumah dengan tubuh penuh dngan sengatan lebah. Perut yang lapar. Baju yang kotor dan kuku-kuku yang rusak.

“Nah, itulah apa yang akan kau petik jika kau menjadi pemalas!” kata ayah tirinya keras di depan ibunya.

Kemudian ayah gadis rajin itu mengusir kedua orang ibu dan anak itu. Dan dia hidup tenang dengan putri semata wayangnya yang rajin dan baik hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here