Setelah Menikah, Aku Baru Tahu yang Sebenarnya

0
15

Hai, namaku Fifi. umurku sekarang 28 tahun. Statusku sudah punya suami.

Jadi hari ini aku mau ceritain sesuatu. Yah, tujuanku cuma pengen melapangkan beban di dadaku aja.

Dulu, sebelum aku nikah, mama jadi orang paling ribut dan panik karena aku belom nikah. Yah, aku maklum sih sama mama, karena aku anak perempuan pertama dan di umurku yang hampir mendekati kepala 3 aku masih sendiri. Sebenernya aku masih selow soal jodoh, tapi, gimana ya, orang aku belom ketemu dan aku juga agak males kalau harus proses pacar-pacaran gitu.

Terus suatu hari mama bilang sama aku begini.
“Kak, kamu kan nggak suka pacar-pacaran ya. Gimana kalau ta’arufan sama teman sepengajian mama?”

Wah, karena aku emang nggak mikir negatif soal taaruf, aku iyain aja. Aku pikir kalau cocok mungkin aku bisa lanjut atau kalau nggak cocok ya nggak apa-apa.

Singkat cerita, aku mulai taaruf sama seorang laki-laki bulan Juli tahun 2019 lalu.

Sebenarnya sih, dia ini bukan teman sepengajian mama juga, dia itu teman ustadz di salah satu pengajian yang mama ikuti. Pak ustadz bilang ke mama, yang mau dikenalin sama aku itu yatim piatu, dan berasal dari keluarga sederhana tapi berkecukupan karena udah punya rumah sendiri, mobil sendiri, dan satu motor gede, dan pak ustadz juga bilang ke mama kalau laki-laki itu kerjanya wirausaha buka toko elektronik gitu.

Mama ceritain itu semua dengan semangat. Aku liat mama percaya banget sama ustadz-nya itu. Jadi karena mama percaya aku percaya aja sama beliau.

tapi, cuma adekku yang kayaknya susah percaya sama taarufan yang aku jalani ini. Dia bahkan nyuruh mama dan papa untuk menyelidiki dulu kebenaran soal calon suamiku itu.

Mama bilang, nggak perlu, karena menurutnya, mama itu udah percaya banget sama pak ustadz, mama juga bilang, nggak mungkin kan seorang ustadz menyesatkan jamaahnya.

Terus adekku masih maksa-maksa papa, papaku itu emang type orang yang malesan, jadi dia milih buat diem aja dan percaya sama mama.

Adekku sewot sendiri, aku nggak tahu kenapa. Dia menyampaikan kekhawatirannya sama aku, dia bilang dia takut kalau dia ragu sama model taaruf-taaruf begini. Dia kepikiran, takut, khawatir, kalau-kalau aku ini, kakaknya, ditipu, dipoligami, dan sebagainya.

Aku sendiri nggak tahu mesti gimana, aku ini paling nggak bisa nolak permintaan mama. Aku lihat mama udah ngebet banget cepet-cepet punya mantu. Tapi, aku sepemikiran sama mama dan papa. Jadi ya aku milih untuk terus lanjutin taaruf.

Ekspetasiku cukup tinggi, aku membayangkan kalau laki-laki yang akan dijodohkan sama aku ini mapan, baik, jujur, religius.

Setelah 3 bulan melakukan taaruf, kami melangsungkan pernikahan. Semuanya berjalan lancar. Kami sekeluarga menyambut momen ini dengan bahagia. Bahkan demi merayakan pesta pernikahanku, keluargaku mengadakan pesta di hotel bintang 4 untuk acara itu.

4 bulan setelah pernikahanku, aku mengetahui banyak fakta yang menyakitkan.

Adekku yang sebelumnya kerja di Jakarta akhirnya resign dari pekerjaannya dan pulang ke rumah karena harus membantu bisnis keluarga.

Waktu adekku sudah tiba di rumah, aku langsung memeluknya dan menceritakan semuanya.

Adekku cuma diem waktu ngeliat aku nangis, mungkin dia udah ngerti kenapa.

Tapi aku udah nggak tahan, akhirnya aku memutuskan untuk mulai cerita sama dia.

Dari mobil dan motor yang dimiliki suamiku itu ternyata masih kredit, rumah yang katanya dulu punya dia ternyata rumah warisan keluarga, yang mana dihuni oleh 3 keluarga di dalamnya.

Aku sendiri, cuma dapat sedikit nafkah ekonomi, karena toko elektronik yang dikatakan ustadz mama dulu itu ternyata adalah servis tv kabel, dan sekarang tv kabel jarang banget yang pakai, jadi dia nggak punya pendapatan tetap.

Dalam sebulan aku cuma dinafkahi 150.000-350.000, dan untuk mencukupi cicilan dan kebutuhan rumah sisanya pakai uangku.

Mungkin masih mending kalau dia bisa jaga tingkahnya, tingkah suamiku itu bener-bener ngeselin banget. Dia itu suka modif mobil, padahal duit nggak punya.

Pernah, dia minta ganti peleg mobil, harganya 1,4 juta, dia ngasih iuran 400.000 dan sisanya aku yang tanggung.

Udah gitu, gengsi suamiku itu gede banget, gaya hidupnya berasa orang paling tajir. Dia bahkan sadar kalau dia itu nganggur, tapi bisa-bisanya daftar gym, kumpul komunitas ini itu yang nggak menghasilkan uang.

Shock? Aku lebih shock, tapi ternyata adekku lebih shock. Wajah dia merah karena nahan marah. Tapi aku tahu dia sama bingungnya kayak aku.

Nggak cuma itu, aku juga dilarang bepergian sendirian, semua-muanya harus ditemani suamiku. Ujung-ujungnya waktu aku bilang ke suami untuk cari kerja dia bilang gini “Lha gimana, wong tiap hari tiap waktu aku nganterin kamu terus. Aku juga nggak tega ninggalin kamu.”

Waktu dia bilang gitu, aku pengen teriak “HALAAAAAAAAAAAHHHHHH ALESAAAAAAAAN!”

Dari jaman sebelum aku nikah, aku ini termasuk wanita mandiri yang kemana-mana sendiri. Jadi aku pikir, itu cuma alasan suamiku yang males nyari duit.

Tapi aku cuma bisa diem. Aku takut jadi istri durhaka.

Aku nangis sesenggukan di depan adek perempuanku, dia cuma diem sambil meluk waktu dengerin aku ngungkapin semuanya.

Dari raut wajah adek, aku bisa melihat kalau dia jengkel banget sama suamiku. Tapi juga ada raut berslah dan sedih yang nggak bisa dia sembunyiin. Mungkin dia merasa gagal menjaga aku, kakaknya satu-satunya dari kenyataan yang menyesakkan ini. Dia juga kelihatan marah banget sama mama dan papa, yang seakan berperan besar dalam pernikahanku dan malah bersikap seolah mengabaikan semuanya.

Padahal selama ini kami mengira, suamiku ini adalah orang yang sederhana karena kalau tiap ketemu keluargaku dia selalu tampil kumuh. Yang dia pakai waktu main ke rumah aja cuma sandal jepit, kaos kucel dan nggak mandi.

Jadi kami pikir ya dia itu sesederhana itu nggak memikirkan duniawi. Tapi, ternyata… semua itu cuma kedok!

Gara-gara penampilannya yang kayak gitu, mama dan papa sampai belikan dia baju-baju bagus, sepatu, dan masih banyak lagi lainnya, supaya tampil rapi karena kami pikir dia mapan dan uangnya ditabung daripada buat beli baju.

Dan selama menikah sama dia, yang dipakai buat bayar listrik, uang gym, masak, dan kebutuhan lainnya pakai uangku.

Dan sekarang aku nyesel. Aku jadi ngerasa kalau aku dan orangtuaku cuma dimanfaatin sama suami untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Aku muak. Tapi aku nggak tahu mesti gimana. Tapi semoga adekku nggak mengalami apa yang aku alami.

Dia dengan tegas bilang sama aku, kalau aku emang nggak berkenan dengan permintaan suami, aku harus berani bilang nggak.

Tapi meskipun begitu, aku dan adekku akan saling support satu sama lain karena itu emang janji kami berdua sebelum aku menikah. Janji kami waktu itu adalah akan selalu saling melindungi dan menjaga. Selalu ada setiap saat serta menemani saat suka dan duka.

Kalau kamu ngasih saran buat cerai, aku rasa itu bukan solusi. Aku sedang berusaha membuat papa dan mama supaya bisa ngobrol dari hati ke hati sama suami, supaya mama sadar lalu bisa berubah, nggak patriaki lagi.

Aku yakin pertemuanku dengan suamiku memang sudah menjadi rencana Allah, meskipun kau belum bisa menyimpulkan apa arti cobaan ini untukku dan keluargaku.

Tapi, aku yakin aku pasti dapat menemukan solusi terbaik demi aku dan keluarga.

Terima kasih sudah mendengarkan curhatku. Semoga ada pelajaran yang bisa kamu petik ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here