Setelah Ijab Qobul, Pernikahanku Hanya Bertahan 12 Hari

0
38

Aku Nayla. Umurku 23 tahun. 23 adalah angka yang menurutku sangat krusial dan juga spesial. 23 tahun aku bernafas di dunia, aku masih setia dengan status single-ku, jangan jomblo lah ya, kok kesannya ngenes banget. Kita pakai istilah ‘single’ aja, biar kelihatan lebih berkelas.

Alasan aku masih single, aku sendiri nggak tahu. Kadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa salahku, sampai aku masih belum dipertemukan dengan orang yang menyukaiku. Apakah karena aku punya badan yang oversize? Sehingga mereka berpikir bahwa aku nggak pantas untuk diajak berkomitmen.

Badanku emang gemuk banget sih, tapi masak sih cuma karena gemuk aku jadi nggak punya hak yang sama dengan cewek-cewek yang langsing?

Tapi, tadi aku sudah bilang kan, kalau 23 itu angka yang spesial.

Yap, itu karena aku menikah, saat aku berusia 23 tahun.

Aku pertama kali bertemu suamiku saat aku masih umur 22 tahun. Kami dikenalkan oleh salah seorang teman kami di sebuah komunitas. Awalnya hubungan kami biasa saja, lalu kami kami saling bertukar nomor HP terus lama kelamaan kami makin akrab. Jadi, kami berkomunikasi via whatsapp, kadang chattingan kadang kalau lagi malas ngetik kami video call-an. Masa-masa asyik, karena kami sering banget saling lempar jokes.

Mungkin, pepatah witing trisno jalaran saka kulino itu cocok banget buatku dan suami. Tapi kalau di kasusku, diganti menjadi, munculnya sayang karena rajin chattingan sama video call-an. Hehe,

Seiring berjalannya waktu, tibalah saat-saat mendebarkan tapi membahagiakan itu.
Pada bulan April, dia menyatakan perasaannya dan berniat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Waktu itu aku inget banget, kami ketemuan di salah satu kafe yang ada di kotaku. Dia menyampaikan keinginannya untuk menjalin hubungan yang serius. Aku cuma jawab “Oh maksudmu pacaran?”

Tapi diluar dugaanku, dia justru bilang, “Enggak, aku nggak mau pacaran.”
“Lah trus apa dong?”

Karena aku nggak pengalaman dalam dunia tembak-menembak, aku benar-benar nggak punya pikiran bakal diajak nikah.

“Ayo, nikah. Aku udah yakin sama kamu dan aku udah bilang sama mama papa kalau aku mau ngelamar kamu.”

Sumpah aku speechless. . Aduuuuuuuuuuuuuuh, aku kaget sekaligus senang! Siapa sih yang nggak senang, diumur 23 tahun ada yang datang nyatain cinta sekaligus ngajak buat nikah? Tapi aku nggak langsung ngasih jawaban, aku minta waktu padanya bahwa aku butuh waktu buat mikir.

Hatiku penuh dengan perasaan bahagia, tapi otakku masih dengan banyak pertimbangan. Tapi apa benar sih dia serius sama aku? Apa iya tulus? Aku gendut banget lho, dan aku sering ngerasa insecure dengan badanku ini, apa iya dia bisa nerima aku apa adanya? Tapi di sisi yang lain, aku berpikir, tapi kalau dia nggak serius ngapain dia nyatain perasaan dan ngajakin nikah? Tapi aku udah kenal dia cukup lama, aku percaya dia orang baik, dia juga kelihatannya nggak suka main-main dengan perempuan. Dan yang paling aku suka dari dia tuh, dia orangnya pekerja keras, di usianya yang masih bisa dibilang muda, dia bisa bertahan tanpa ayah dan bisa menafkahi ibunya dengan baik.

Sebelum aku putuskan untuk menerima lamarannya aku udah stalk semua media sosialnya. Dan semuanya baik-baik aja. Dan aku juga udah minta pendapat dari orangtuaku. Mereka setuju kalau aku udah yakin.

Setelah satu minggu berlalu, aku memantapkan hati untuk ngajak ketemu. Sebelum mengiyakan ajakan baiknya, aku mengajukan beberapa pertanyaan, salah satunya yaitu tentang fisikku.

Aku tanya ke dia, ‘Tapi mas, aku gendut banget lho. Serius kamu mau sama aku? Aku nggak secantik perempuan-perempuan di luaran sana.’

Jawaban dia tuh bikin hatiku berbunga-bunga.

‘Aku nggak masalah sama itu semua kok. Memangnya kenapa kalau gendut? Malah bagus kan, enak dipeluk.’

Begitu ia menjawab nggak masalah dengan fisikku aku langsung mengiyakan ajakannya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Sumpah ya, pokoknya itu adalah momen yang membahagiakan dalam hidupku.
Tak berapa lama, aku dan dia sepakat melakukan perkenalan antara dua keluarga. Dia melamarku secara resmi dengan membawa seluruh anggota keluarganya. Dan saat acara lamaran sudah ditentukan sekalian tanggal pernikahan kami.

Ya ampun… perasaanku makin nggak jelas tapi senang.

Seperti calon pengantin pada umumnya, kami disibukkan dengan banyak kegiatan acara pra nikah. Dari prewedding, desain undangan, dekorasi sampai cari gaun buat acara pernikahan. Setiap ketemu yang kami bahas seputar persiapan kami di hari H. Semuanya berjalan lancar walaupun bikin capek tapi perasaan kami bahagia.

Sebenarnya sih nggak lancar-lancar banget, sebulan sebelum hari H kami sempat ribut gitu. Tapi aku mikirnya mungkin ini cuma ujian orang mau nikah, kata orang-orang kalau udah mau akad tuh biasanya masalah kecil bisa jadi besar. Jadi aku tetap berpikir positif.
Dan masalah baru muncul lagi di H-10…

Aku itu termasuk type orang yang suka kerja. Setiap ada kesempatan dan aku bisa melakukannya, maka aku akan ambil kesempatan itu. Intinya aku orang yang senang menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif dan menghasilkan.

Jadi kegiatanku dari pagi sampai sore aku bantu usaha orangtuaku, terus malam harinya aku ngajar privat anak SMP dan SMA. Terus hari sabtu dan Minggu aku ngajar di sekolah islam.

Karena saat itu murid-muridku sedang mau ujian, aku nggak dikasih cuti hari Minggu oleh pihak sekolah. Di sekolah itu aku juga terikat kontrak.

Dan di hari Minggu itu sehari setelah pernikahan kami, keluarga suamiku mau ngadain acara kecil-kecilan yang dihadiri oleh pihak keluarga dia aja. Waktu itu aku bingung banget. Aduh, aku terikat kontrak tapi di rumah lagi ada acara, terus daripada aku galau, aku sharing ke dia.

Dan jawaban dia tuh bikin lega, dia bilang gini ‘Nggak apa-apa. Kamu ‘kan ngajarnya nggak lama, palingan cuma sejam. Habis ngajar bisa balik lagi.’ Dan karena sudah dijawab seperti itu aku jadi berangkat untuk ngajar.

Tapi ternyata dia itu lain di mulut lain di hati.

Jadi pas aku lagi bareng dia, waktu dia lagi pergi ke toilet, aku iseng buka-buka HP dia, aku melihat chat antara dia dan kakak iparku yang membahas tentang aku yang nggak bisa hadir di acara dan memilih pergi ngajar.

Aduh, aku nggak sanggup baca chat-nya. Menyakitkan banget.

Dia tuh chat kakaknya, dan dia bilang kalau aku lebih mentingin pekerjaanku daripada acara keluarga yang udah disiapin keluarganya, dan respon kakak iparku juga nggak kalah nyakitin, katanya sikapku itu nggak pantas dan nggan sopan karena nggak menghargai keluarga pihak laki-laki, padahal kakak iparku itu kalau di depanku maniiiiiiiss banget.
Selain itu dia juga bilang kalau dia nggak peduli denganku, mau aku sibuk atau enggak, dan aku juga dibilang serakah.

Ya, ampun… tadi kan aku udah ijin sama dia! Kok ngomong sama kakaknya beda sih! Tapi tentu aja aku nggak berani ngomong apa-apa ke dia, aku tetap diam diam dan diam. Aku bersikap biasa aja di depan dia padahal hatiku udah remuk redam.

Dan gara-gara masalah itu, aku langsung cari guru pengganti untuk satu hari acara itu.

Aku sempat mikir, apa lebih baik aku batalin aja pernikahannya? Tapi, aku inget orangtuaku, mereka bakal malu. Apalagi undangan udah nyebar, dekorasi dan catering udah lunas, seragam bridesmaid dan saudara semuanya sudah aku sebar.

Tapi aku tetap berusaha untuk terus berpikir positif.

Tapi, dari masalah itu aku jadi tahu satu hal baru, suamiku yang saat itu statusnya masih calon suami itu kalau marah serem. Nada tingginya, telunjuknya pas nunjuk-nunjuk dan waktu dia berani dorong-dorong aku, aku masih ingat semuanya, walaupun waktu itu dia udah minta maaf padaku tapi semuanya masih mbekas banget.

Tapi, aku berusaha untuk terus bertahan. Dan bilang ke diri sendiri kalau ini hanya ujian sebelum kami sah.

Gara-gara ngelihat marahnya dia, aku jadi agak-agak parno. Setiap hari sebelum hari H hatiku penuh rasa takut dan cemas. Tapi aku nggak memperlihatkannya ke siapa-siapa.
Sampai hari H, saat dia ngucap ijab kabul dengan lancar, barulah semua perasaan takut dan cemas itu sedikit demi sedikit berkurang. Dan bertambah lega saat orang-orang yang hadir berteriak ‘SAH’.

Aku tahu, semua ketakutan dan kecemasanku sangat tidak beralasan, aku hanya sedang berada di fase ujian sebelum pernikahan dan itu normal karena semua orang yang akan menikah pasti mengalaminya.

Aku mulai menghilangkan semua pikiran negatifku sedikit demi sedikit. Dia imamku dimulai sejak hari ini dan semoga seterusnya, ini adalah jalan yang kami pilih. Baik buruk sekarang milik kami dan terhitung hari ini aku akan melupakan semua keburukan yang terjadi sebelum hari ini.

Terima kasih ya Allah, telah menjadikan angka 23 sangat spesial.

Tiga hari setelah acara pernikahan kami, semua masih normal. Kami berdua masih kayak pengantin baru pada umumnya yang males kemana-mana dan memilih untuk menikmati libur kami di rumah. Kami juga belum ngapa-ngapain, karena saat itu aku masih haid.

Tapi hari keempat mulai ada yang aneh. Kalau sebelumnya kami masih asyik becanda-becanda di hari keempat kami nggak ngobrolin apa-apa. Selepas pulang dari rumah temannya, dia juga langsung tidur gitu aja dan kayak ngejauhin… aku.

Di hari kelima dia mulai berangkat kerja, padahal sebelum kami nikah, dia pernah bilang kalau dia berangkat kerja mulai H+8, tapi ini malah H+5. Di kampungku itu ada acara adat yang dilakukan setelah 5 hari pernikahan, dan di hari itu si pengantin di larang kemana-mana, jadi di hari itu pihak pengantin harus membagi-bagikan makanan ke tetangga dan sanak saudara.

Dan mama juga mengirimkan makanan ke mertuaku, tapi pihak mertua tidak memberikan timbal balik, padahal aturannya kalau pihak pengantin wanita ngasih seserahan, pihak pengantin laki-laki harus ngasih seserahan balik. Waktu itu mamaku mau ngomong, tapi nggak enak hati.

Setelah selesai membagi-bagikan makanan ke tetangga dan sanak saudara, suamiku telpon dan dia bilang, pulangnya ke rumah dia aja karena dia capek. Lhoh? Aku sempat ngerasa aneh, tapi aku tetap berpikir positif.

Pulang dari rumah mama, aku mampir beli sate, pikirku sate itu bakal aku kasihkan ke mama mertua.

Tahu apa reaksi mama mertua saat aku bawain sate?
Dia bilang begini ‘Aduuuhh, mama nggak suka sate. Yaudah taro di situ aja, biar dimakan orang-orang. Mama tuh suka pusing kalau makan sate.’

Hati kecilku sakit, tapi sisi hatiku yang lain bilang, ‘Oh mungkin emang nggak suka sate, besok jangan belikan sate.’

Tapi, reaksi mama beda banget waktu kakak iparku datang bawa mangga.

‘Ini nih kesukaan mama.’ Beliau bilang begitu, ya ampun ini akunya yang baperan atau gimana, tapi kok rasanya sakit banget.

Tapi suamiku diam aja melihat masalah sate dan mangga. Akhirnya aku memilih untuk diam. Sampai suamiku ngomong ‘Sana gabung sama yang lain jangan di kamar aja’, karena aku lagi capek aku bilang ke suamiku kalau aku pengen istirahat di kamar aja. terus dengan ekspresi yang nggak ngenakin dia keluar kamar.

Di luar kamar aku dengar kakak iparku ngomong begini ‘Makanya aku nggak kerja ma. Aku takut nggak bisa maksimal kalau ngelayani suami karena alasan capek dan jadi nggak bisa kumpul-kumpul sama yang lain’, ya ampun kakak ipar kalau ngomong kok nyelekitnya sampai DNA!

Daripada jadi bahan ghibah semua orang, aku keluar kamar. Tapi apa? Pas gabung, mereka malah nggak nganggap aku ada.
Terus aku mesti gimana Tuhan?

Mimpi burukku terus berlanjut. Semuanya berubah. Udah nggak ada lagi obrolan-obrolan yang seru, becanda-becanda sampai lupa waktu, dan yang aneh HP suamiku juga dipassword.

Mas suami kalau tidur juga nggak mau dekat-dekat aku lagi. Apakah karena i’m curvy? Bukankah di awal aku sudah bilang dan dia bilang nggak masalah.

Sampai pada ke-12 setelah menikah, aku sakit sampai muntah-muntah. Keadaanku saat itu lemaaaaasss banget, tapi mas suami cuek nggak menunjukkan tanda-tanda peduli atau mau nganterin aku ke dokter.

Dia malah tetap pergi kerja tanpa nanyain apa-apa padaku.
Sumpah! Aku udah nggak kuat, aku langsung telpon ayahku. Aku nangis sejadinya, di telpon papa nanya aku kenapa, aku cuma bilang jemput aku.

Tanpa menunggu lama ayahku datang dan aku dibawa beliau pulang ke rumah mama, karena biasanya mama bisa bikin obat-obatan dari bahan alami. Sepanjang perjalanan aku ceritain semuanya yang ngganjel di hatiku. Aku lihat ekspresi murka papa. Wajah beliau memerah nahan marah.

Sampai di rumah aku langsung meluk mama, dan semuanya tumpah. Aku nangis sejadi-jadinya.

Setelah puas menumpahkan semua emosiku, aku memutuskan untuk nggak pulang ke rumah suamiku. Berharap mungkin dengan perginya aku ke rumah orangtuaku dapat membuatnya sadar bahwa dia sudah menyakitiku.

Tapi enggak sama sekali. Suamiku nggak peduli.

Lalu aku memilih untuk mengungkapkan semua keluh kesahku via whatsapp. Aku bilang padanya kalau dia udah berubah. Tapi apa balasannya? Dia cuma bilang maaf dan masih trauma.

Dulu dia memang udah pernah tunangan, tapi mendekati hari H, dia gagal menikah. Terus trauma, tapi kenapa aku yang jadi pelampiasannya?

Tidak menerima perlakuan buruk dari suamiku, ayahku menemui mertuaku.

Dan setelah pertemuan ayah dan mertuaku, suamiku menelpon dan minta maaf dan bia bilang dia nggak bisa meneruskan pernikahan kami.

Aku hancuuuurrrr banget!

Selama 2 minggu aku nggak keluar kamar. Aku menghabiskan waktuku dengan tidur dan gelap-gelapan di kamar. Aku juga sempat punya pikiran untuk mengakhiri hidupku tapi setiap mikir kesana aku selalu ingat orangtuaku yang udah sejauh ini. Lalu sekuat hati aku mencoba melawan fikiran itu supaya aku bisa bertahan.

Dan sampai sekarang dia ataupun keluarga nggak ada yang datang ke rumah untuk menanyakan atau mengembalikan aku ke orangtuaku.

Perasaanku jelas sangat sakit dan merasa terbuang, tapi aku nggak boleh memperlihatkan kesedihanku lagi. Aku tahu, orangtuaku pasti lebih sakit daripada aku.

Tapi walaupun menyakitkan, semoga hanya aku yang mengalaminya dan aku harap kamu bisa ambil pelajaran dari kisahku ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here