Setelah Dua Tahun Mati, Aku Melihat Pacarku Hidup Lagi

0
49

Halo, namaku Rara. Umurku saat ini 21 tahun. Dan aku masih kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung.

Hari ini aku mau berbagi cerita tentang mantan pacarku.

Saat aku berumur 18 tahun, aku pernah punya pacar, panggil aja namanya Radit.
Kami bertemu waktu acara pelepasan siswa kelas 12 di SMA kami, kebetulan saat itu kami sama-sama siswa kelas 12.

Waktu itu aku dan temanku, Anya, lagi ribet banget bawa snack, lalu si Radit jalan ke arah kami dan menawarkan bantuan.

Pikirku, nih cowok baik banget ya, mau bantuin aku sama Anya, padahal dia nggak kenal kami.

Setelah berpandang-pandangan ala film india, kami pun bersama-sama membawa snack ke dalam aula.

Aku bilang ke Anya, ‘Nya, tuh cowok kok baik banget ya’, terus Anya jawab, ‘iya, emang gitu. Kenapa? Kamu suka?’, aku nggak jawab tapi Anya tahu perasaanku.

Tapi, ternyata perasaanku nggak bertepuk sebelah tangan, bukan hanya aku yang mengalami cinta pada pandangan pertama, tapi Radit juga.

Setelah acara pelepasan, kata Anya, aku dicari oleh Radit.

Ya, ampun waktu itu aku blushing-blushing nggak jelas dan Anya ngetawain aku.

Singkat cerita aku dan Radit berkenalan secara resmi, maksudnya, kenalan saling sebut nama terus jabat tangan dan kami juga saling tukar nomor whatsapp.

Setelah pertukaran nomor whatsapp itu, komunikasi kami semakin intens. Dalam 24 jam aku dan dia akan terus menerus saling balas chat, kadang kalau lagi iseng, kami video call-an. Setiap hari kami wajib saling berikirim kabar. Seru banget pokoknya, perasaanku tiap hari juga bawaanya happy terus.

Mana Radit tuh, termasuk cowok ganteng di sekolah, jadilah aku kesengsem terus sama dia.

Dan karena aku dan dia sudah sama-sama saling suka dan nyaman,kami memutuskan untuk pacaran.

Hubungan kami terus berlanjut sampai aku diterima di universitas dan dia memilih untuk bekerja di sebuah kafe dekat rumahnya. Dia bekerja sebagai barista di sana, rencananya dia akan kuliah setelah tabungannya terkumpul. Maklumlah, Radit bukan dari kalangan orang berada, dia hanya hidup berdua dengan ibunya, nggak mungkin kan dia memaksa ibunya untuk bekerja keras membiayai kuliahnya?

Sebagai pacar yang baik tentu aku mendukung apapun yang ia lakukan. lagipula yang Radit kerjakan sesuatu yang positif.

Seperti pasangan yang berpacaran pada umumnya, aku dan Radit sering berkencan setiap akhir pekan.

Dan kami benar-benar menikmati masa-masa indah itu.

Tapi suatu hari, masa-masa indah itu mulai berubah menjadi masa-masa penuh masalah.

Masalah mulai berdatangan saat dia dipecat dari pekerjaannya, aku nggak tahu kesalahan apa yang diperbuatnya sampai dia dipecat. Aku sudah menanyainya, tapi dia nggak mau menjawab.

Awalnya aku tak apa Radit dipecat, karena kupikir, Radit bisa mencari pekerjaan lagi. Aku pun selalu memberi support pada Radit.

Tapi, sejak kejadian dipecat dari kantornya, Radit jadi sering pinjam uang padaku. Pertama kali radit pinjam uang padaku, aku kasih pinjam. Aku percaya padanya bahwa ia tak mungkin tidak membayar utangnya, tidak mungkin kan seorang pacar tidak membayar hutang pada pacarnya? Lagipula dia meminjam uangku untuk bertahan hidup dan digunakan untuk mencari pekerjaan bukan untuk bersenang-senang, jadi aku tidak keberatan membantunya.

Radit bilang padaku bahwa kondisinya saat itu hanya sementara waktu. Baiklah aku percaya. Dia membuktikan ucapannya, dengan rutin setiap bulan membayar utangnya padaku.

Suatu hari kami bertengkar hebat karena satu masalah.

Ya, komunikasi kami sudah tidak sebaik dulu, dan Radit juga hobi marah-marah padaku. perempuan mana sih yang tahan dengan sikap pacarnya yang seperti itu?

Aku minta putus padanya. Radit setuju dengan keputusanku.

Kukatakan pada Radit, putus bukan berarti utang-utangnya lunas begitu saja,dia harus tetap menyicilnya setiap bulan. Dia menyetujui kesepakatan itu.

Tapi, Radit benar-benar bukan sosok laki-laki yang bisa dipercaya. Setelah beberapa bulan kami putus, dia tidak pernah sekalipun membayar utang-utangnya.

Dia mangkir dari kewajibannya.

Aku menghubungi nomor HP-nya, tapi tidak pernah diangkat. Aku hubungi lewat whatsapp, tapi hanya di read, setiap kali aku ajak bertemu dia selalu beralasan tidak bisa.
Setiap hari aku terus menerus menghubungi Radit. Tapi dia benar-benar sulit untuk ditemui, dia seperti menghindar dariku.

Mungkin karena dia tidak tahan denganku yang terus menerus menagih utangnya, nomornya tidak diaktifkan atau mungkin juga dibuang.

Aku tidak kehabisan akal, aku menghubungi teman-temannya.

Hingga akhirnya salah seorang temannya memberi tahu aku kalau Radit sedang menjalani rehabilitasi.

Tapi aku nggak percaya dengan omongan temannya, bisa saja kan dia bohong padaku karena disuruh Radit?

Aku berencana akan melakukan investigasi.

Tapi, belum sempat aku melakukan investigasi, ibu Radit menelponku dan mengabarkan padaku kalau Radit sudah meninggal.

Hah? Meninggal?

Sebenarnya aku merasa aneh. Tapi aku tidak punya alasan apapun untuk menanyakannya lebih jauh. Kan nggak mungkin kalau aku minta bukti surat kematian pada ibu Radit, yang notabene orang yang mengabarkan kematian anaknya. Masak ada ibu yang tega mengabarkan kematian anaknya, padahal anaknya masih hidup?

Tapi, walaupun begitu. Aku merasa sedih. Biar bagaimana pun juga Radit adalah orang yang pernah mengisi hidupku.

Aku mencoba menata kembali hidupku dan berusaha mengikhlaskan sisa hutang-hutang Radit yang belum dibayar.

Tapi, sebuah peristiwa ajaib terjadi 2 tahun kemudian.

Ceritanya waktu itu aku pulang ke kampung halaman bersama temanku, dalam perjalanan pulang perutku keroncongan. berhubung aku lapar berat aku mengajak temanku untuk makan terlebih dahulu di sebuah restoran.

kami sibuk memilih-milih menu, saat aku selesai memilih menu apa yang akan aku pesan, aku melihat ke sekeliling restoran untuk memanggil salah satu pelayan.

Tapi, aku harus dikagetkan dengan pemandangan seorang mantan pacar yang dulu katanya sudah mati, dan sekarang dia sedang sibuk membersihkan meja dalam kondisi sehat walafiat.

Aku mengucek-ucek mataku, takut salah lihat, tapi setelah kupastikan beberapa kali dan itu memang benar mantanku.

Aku ingin menghampirinya, tapi temanku menasihatiku untuk memastikannya lagi besok, karena ia takut aku salah orang.

Baiklah, aku menunggu besok.

Besoknya, aku datang lagi ke restoran itu. Aku memastikan penglihatanku kemarin, dan setelah bertanya pada beberapa pelayan yang bekerja disana, ternyata itu memang benar Radit.

Aku kaget banget. Serius! Bukannya dia udah mati? Kok bisa hidup lagi? Jangan-jangan dulu ibunya bohong padaku.

Merasa dibohongi dan dibodohi, hatiku panas. Aku dengan kemarahan berapi-api mendatangi, lebih tepatnya melabrak radit yang saat itu sedang mengambil beberapa gelas dan piring dari salah satu meja.

“Apa-apaan lo Dit, ngilang! katanya rehabilitasi terus kata ibumu juga lo udah mati, kok sekarang bisa hidup lagi? Bisa jelasin nggak, Dit? coba dit jelasin! sekarang! gue mau dengar penjelasan langsung dari mulutmu!”

Radit terlalu kaget saat melihatku.

Dia nggak berani ngomong apa-apa saat aku berteriak padanya.

Semua orang melihat pada kami. Ah, bodo amat lah. Radit udah bohongi aku dan dia belum bayar utang, jadi untuk hari ini biarkan saja aku jadi tontonan pengunjung restoran.

Tapi, belum selesai aku memberi pelajaran pada Radit para petugas keamanan berdatangan mengamankan aku, aku diminta meninggalkan restoran.

Aku dibawa mereka ke kantor polisi, di kantor polisi aku mengatakan semua masalahku dengan Radit, terutama utang-utang radit dan kabar palsu tentang kematiannya. Tapi, polisi mengatakan padaku bahwa mereka juga tidak bisa memberi bantuan apa-apa, karena tidak ada barang bukti apapun.

Aku sangat kesal hari itu.

Dengan masih dipenuhi rasa geram, heran, gemas, kesal, dan perasaan-perasaan buruk lainnya, aku ditelpon oleh ibu mantan pacar brengsekku itu.

Kata ibu Radit, dia menyesalkan sikapku yang membuat heboh seisi restoran dan gara-gara aku Radit dipecat.

Bodo amat! Bodo amat, Bu! Kataku dalam hati. Salahnya sendiri bohongin aku.

Tapi, sebenarnya aku nggak ada maksud buat mancing keributan. Aku hanya ingin dengar penjelasan langsung dari mantan pacarku itu, tapi karena emosi sudah berada di ubun-ubun, aku nanya ke raditnya langsung nge-gas gitu aja. aku masih penasaran dengan Radit, kenapa dia harus berbohong soal kematiannya.

Memangnya kalau kamu jadi aku, apa yang bakal kamu perbuat, kalau kamu melihat mantanmu yang sudah dikabarkan mati ternyata hidup lagi, dan dia masih punya hutang denganmu, aku yakin kamu punya banyak pertanyaan dan pasti, pengennya langsung nge-gas kan?

Semoga ceritaku yang absurd ini bisa menjadi pelajaran untuk kalian, siapa tahu ada yang masih punya hutang dan ada yang ngabarin kamu kalau dia sudah mati, biar yakin diminta aja surat kematiannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here