Setelah Berhasil Menyelamatkan Anak Kecil, Aku Dipecat

0
41

Menurutku, kurir adalah orang yang bekerja membawa barang dari satu tempat lalu diteruskan ke tempat yang lain. Menjaga barang dalam perjalanan agar tetap utuh. Harus tetap nge-gas walau cuaca hujan atau panas. Dan itu adalah pekerjaanku setiap hari.

Namaku Abi. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, sangat sederhana disini bisa diartikan dengan miskin. Karena kemiskinan itu aku terpaksa tidak menyelesaikan pendidikanku. Jika aku memaksakan diri untuk sekolah tinggi, kebutuhan sehari-hari keluargaku akan sulit terpenuhi.

Aku tidak mau membebani orangtuaku, jadi bermodalkan tekad dan nekat yang kuat aku berangkat mencari kerja ke kota. Ijazahku rendah, aku tidak boleh berharap akan mendapatkan pekerjaan yang oke.

Aku melamar kerja di banyak tempat. Tapi hanya perusahaan ekspedisi yang memanggilku untuk tes. Karena aku sedang sangat butuh uang, jadi saat perusahaan ekspedisi ini memanggilku untuk mulai kerja aku langsung setuju. Dan jadilah aku bekerja sebagai kurir di salah satu perusahaan jasa ekspedisi di Indonesia.

Orang-orang berpikir bahwa pekerjaanku sangat mudah, mereka berkata padaku seperti ini :
“Ah, jadi kurir mah gampang, Bi. Cuma ngantar barang dari pengirim, terus sampai ke tangan penerima. Otaknya nggak pusing lah”, begitu kata mereka.

Mereka tidak tahu bahwa tanggungjawabku sangat berat.

Bayangkan! Kalau barang yang aku bawa rusak di tengah jalan atau mungkin pecah, bisa juga tanpa aku tahu menahu barangnya lecet dan pihak konsumen akan menyalahkan aku. Tidak hanya menyalahkan, kadang ada yang minta ganti. Belum lagi jika alamat yang dituju tidak begitu jelas di belahan bumi yang mana, aku harus muter-muter mencari alamat itu sampai ketemu.

Tapi walaupun begitu aku tetap semangat untuk bekerja. Kurir bukan pekerjaan buruk, kurir pekerjaan mulia dan kurir adalah pekerjaan halal. Itu yang selalu aku ucapkan pada diriku sendiri.

Suatu ketika, saat aku sedang libur, teman sesama kurirku menelponku.
“Bi, bisa gantikan aku nggak hari ini?”
“Emangnya ada apa?”
“Istriku sakit, aku harus nganter periksa ke dokter. Kalau kamu nggak keberatan, tolong gantikan aku hari ini ya?”

Mendengar nada memohon dari temanku, aku langsung menyetujui permintaan tukar liburnya denganku. Toh, dia memang lebih butuh daripada aku.

Hari itu awalnya biasa-biasa saja. Tapi menjadi luar biasa saat aku dikejutkan dengan pemandangan seorang bocah yang tersangkut di teralis balkon sebuah apartemen. Tidak hanya aku yang menyadarinya, tetapi banyak orang juga menatap ngeri pada bocah kecil itu.

Aku menghitung dalam hati. Kalau tidak segera diselamatkan bocah itu akan jatuh, tapi kalau aku nekat menolong, kemungkinan besar aku sendiri yang akan jatuh. Tapi karena rasa khawatirku pada bocah kecil itu lebih besar maka aku lebih memilih opsi pertama.

Orang-orang sudah berlarian menghubungi pemadam kebakaran. Tapi… menunggu pemadam kebakaran datang akan sangat lama. Anak itu keburu jatuh.

Tanpa pikir panjang, aku bergegas meninggalkan motor dan puluhan paket yang harus kuantar. Aku masuk ke gedung apartemen itu, lalu aku langsung berjalan menuju balkon. Aku melakukan misi penyelamatan anak kecil tanpa pengaman, agak dramatis memang, tapi mau bagaimana lagi? Tak ada yang berani naik dan anak itu harus segera diselamatkan kalau tidak, bisa jatuh, aku terus berdoa dalam hati bahwa setelah ini aku akan selamat. Anak kecil itu juga akan selamat.

Dan… atas rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, anak itu berhasil aku selamatkan. Aku memeluk bocah itu dan menggendongnya ke dalam apartemen. Pemadam kebakaran datang saat bocah itu sudah aku gendong.

Orang-orang di bawah yang melihatku bersorak senang, aku juga senang. Misi penyelamatanku berhasil.

Setelah selesai dengan misi penyelamatan yang dramatis itu aku kembali bekerja.
Tapi lagi-lagi aku dikejutkan dengan hal tak terduga, saat aku sampai di tempat tadi aku memarkirkan motor roda tiga dan puluhan paket, motor dan semua paket itu raib. Sudah hilang tak berbekas.

Aku celingak celinguk mencari dimana motor dan puluhan paket tadi. Aku menanyai semua orang yang ada di sana, tapi mereka semua juga tidak begitu menyadari keberadaan motor roda tiga dan barang-barang paket yang aku bawa, mereka terlalu fokus dengan bocah kecil tadi.

Karena bingung, aku menelpon kantor. Tapi sepertinya aku memang sedang bernasib buruk. Pihak kantor tidak peduli dengan misi penyelamatanku. Aku dimarahi habis-habisan oleh atasanku. Aku juga dikata-katai ‘Sok Pahlawan’. Dan kalimat ‘Kamu dipecat’ berhasil menjadi kalimat penutup telpon paling mengenaskan yang pernah aku dengar.

Tidak hanya dipecat, aku juga harus mengganti motor roda tiga beserta seluruh paket yang aku bawa tadi. Darimana aku bisa mendapatkan uang untuk mengganti semua kerugian tadi? Aku tidak punya uang sepeser pun.

Sudah pernah kubilang kan? Jadi kurir itu tidak mudah seperti kelihatannya, kurir punya tanggungjawab besar. Salah sedikit berakhir dipecat sepertiku, padahal aku tidak sengaja melakukannya.

Aku pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Banyak pikiran berkecamuk, ayahku sedang terbaring di rumah sakit dan itu membutuhkan biaya yang sangat banyak, di sisi yang lain aku memikirkan bagaimana caraku mengganti semua kerugian yang tidak aku sengaja tadi.

Solusinya hanya satu aku harus segera mendapatkan pekerjaan lagi, tapi aku harus melamar kemana? Tidak semua perusahaan menerima orang dengan ijazah rendah sepertiku.

Tapi, memang benar jika dalam satu hari itu kamu mengalami banyak hal buruk bukan berarti kamu tidak akan mendapatkan hal baik. Contohnya aku, saat sedang asyik meratapi nasib aku didatangi oleh orangtua bocah kecil yang tadi aku selamatkan.

Ayah anak yang tadi aku selamatkan mengucapkan banyak terima kasih padaku. Aku menyambut ucapan terima kasih itu dengan senang hati. Tapi melihat wajahku yang kusut, ayah anak itu tahu aku sedang tidak baik-baik saja. Dia sangat peka. Aku tidak bermaksud untuk meminta balasan darinya. Aku menolong anaknya, karena aku murni ingin menolongnya.

Tapi ayah anak itu memaksaku untuk bercerita.

Maka aku ceritakan semua hal buruk yang tadi menimpaku. Dari motor yang hilang sampai aku dipecat dan harus mengganti semua kerugian. Setelah aku menceritakan semua masalahku, dia bilang begini padaku, “kamu sudah menyelamatkan anakku, masalahmu pasti akan kubantu.”

Ayah anak yang kuselamatkan meminta untuk diantar ke tempat kerjaku. Di tempat kerjaku, dia meminta jumlah total kerugian yang harus aku bayar. Setelah membayar semua kerugianku, dia menawariku pekerjaan.

Aku kaget sekaligus senang. Ternyata ayah anak yang kuselamatkan adalah pemilik perusahaan yang cukup besar di kotaku. Ia secara pribadi memberiku kesempatan untuk bekerja di kantornya dan gaji yang akan aku terima lebih besar dari gaji pekerjaanku sebelumnya.

Aku tidak menyangka, ternyata misi penyelamatanku yang super nekat itu berbuah manis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here