Setelah 15 Tahun Mendekam di Penjara, Aku Juga Harus Dideportasi karena Pembunuhan

0
40

Sejak kecil aku sudah akrab dengan kekerasan. Tahun 1980, aku lahir di sebuah tenda pengungsian di Thailand. Saat itu ibuku baru kabur dari Kamboja.

Lima tahun kemudian aku dan ibuku sampai ke AS sebagai pengungsi, dan kami menetap di Florida. Lalu setahun kemudian kami pindah ke San Diego. Dan di tempat inilah ibuku bertemu dengan laki-laki yang menjadi ayah tiriku.

Aku hidup dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan fisik dan verbal.

Hubungan ayah tiri dan ibuku tidak cukup baik, mereka sering bertengkar dan ketika sedang bertengkar biasanya ayah tiriku mengancam akan mendeportasi aku dan ibu jika kami berdua nekat telpon polisi.

Jadilah aku dan ibu seperti hidup dalam putaran jebakan tak berujung.

Tapi, ibuku juga bukan type ibu yang lemah lembut dan baik hati padaku. ibuku kerap melakukan kekerasan fisik dan verbal padaku.

Ibuku sering berkata seperti ini padaku “ Andai kamu tidak pernah lahir” atau seperti ini “Harusnya yang berada disini, kamu saja. aku seharusnya tetap tinggal di Thailand.”

Yang aku lihat setiap hari adalah sebuah keluarga yang jauh dari kata harmonis, bahkan ibuku sendiri membenciku untuk alasan yang tidak pernah bisa aku pahami.

Seringnya melihat pertengkaran ayah tiri dan ibuku, aku jadi menganggap bahwa hubungan orang dewasa adalah suatu hubungan yang buruk, aku juga tidak tahu persis seperti apa gambaran hubungan yang baik itu seperti apa.

Dan dalam hati aku bertekad, kelak aku tidak ingin mendapatkan suami seperti ayah tiriku, aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengan dipukul oleh laki-laki untuk alasan yang tidak aku tahu apa pemicunya.

Lalu saat aku berusia 16 tahun, aku menemukan dunia kencan online. Dunia kencan online menjadi pelarianku dari masalah di rumah. Karena menurutku di dunia maya itu aku bisa menjadi apa saja yang aku mau dan aku juga bisa bertemu dengan berbagai type orang.

Setahun kemudain aku berkenalan dengan Ron Barker yang umurnya terpaut 18 tahun denganku. Setelah merasa cocok kami memutuskan untuk berpacaran. Beberapa bulan kami menjadi sepasang kekasih, kami sering menghabiskan waktu bersama untuk berkencan. Tapi lambat laun sifat asli Ron semakin kelihatan, ternyata dia adalah jenis laki-laki yang manipulatif dan posesif.

Dia sangat membatasi pergerakanku dan seperti berusaha mengisolasi aku dari teman-temanku. Katanya, aku itu harus diawasi dan diikuti kemanapun.

Awalnya sih aku pikir dia itu perhatian banget dan mungkin dia melakukan semua itu karena dia benar-benar sayang padaku. aku tidak berpikir yang aneh-aneh pada Ron saat itu.

Tapi lama kelamaan, sifatnya itu benar-benar sangat menggangguku. Dan dia juga berubah menjadi sosok laki-laki yang sangat kasar padaku, tidak jarang dia menunjukkan sikap siap untuk memukulku.

Dia datang ke rumahku saat kedua orangtuaku tidak dirumah. Dan dia juga merayuku untuk menggunakan kartu kredit ayah tiriku, sampai hutang ayah tiriku semakin menggunung dan dia terpaksa menunggak puluhan ribu dollar.

Sikapnya yang semakin jahat membuatku ingin mengakhiri hubungan kami, tapi saat aku mengatakan kalau aku ingin putus dia malah marah-marah dan mengancam akan membunuhku jika aku berani-berani mengajak putus darinya.

Dan bodohnya aku, aku selalu berpikir bahwa semuanya adalah salahku, kupikir mungkin aku bukanlah pacar yang baik.

Saat umurku 18 tahun, aku mulai bekerja sebagai telemarketer di sebuah layanan kencan. Saat itu bosku, seorang laki-laki berumur 38 tahun, bernama David Stevens, bilang suka padaku.

Kupikir, berkencan dengan si bos tak akan menjadi masalah besar selama Ron tidak tahu. Lalu, di suatu malam aku dan bosku ini melakukan janji temu untuk berkencan. Sepulang dari kencan dengan si bos, tebak siapa yang sudah menungguku di rumah? Bukan ayah atau ibuku, tapi Ron…

Akhirnya, tanpa aku rencanakan sebelumnya, aku menceritakan yang sebenarnya, bahwa aku baru saja selesai pulang kencan dengan David. Mendengar kejujuranku Ron langsung marah besar, dia kalap, kemudian dia memukuliku, memperkosa serta mengancam akan memutuskan aku. Dan itulah kali pertama Ron memukulku.

Sebenarnya aku tak apa jika harus putus dari Ron, tapi aku tahu bahwa jika aku meyetujui keputusannya Ron akan semakin mengerikan. Jadi setelah dipukuli olehnya aku memohon-mohon padanya untuk tidak meninggalkanku.

Dan kata Ron, satu-satunya cara agar kami bisa impas adalah dengan membunuh David.

Hah? Apakah dia sudah gila?

Aku bimbang saat itu, kalau aku menolak menerima rencananya, dia pasti akan membunuhku, jika aku setuju, nyawaku akan selamat tapi nyawa david tidak. Saat itu yang kupikirkan hanyalah keselamatanku. Jadi aku benar-benar seperti tidak punya pilihan dan hanya bisa pasrah. Lagipula dia tidak akan melepaskan aku sampai aku setuju.

Dan rencana pembunuhan pada David pun segera disusun oleh Ron.

Dia menyuruhku utuk menelpon David dan mengabarkan kalau mobilku mogok dan aku butuh bantuan.

Setelah itu, David datang menjemputku dan kemudian aku masuk ke dalam mobil David. Ron mengikuti kami dari belakang, lalu saat keadaan sepi, Ron menghadang mobil David. Aku dan David keluar, Ron mengatakan pada David bahwa dia adalah saudara laki-lakiku. Dan beberapa detik kemudian Ron menembak kepala David dua kali dan membakar mobil David.

Rasanya seperti melihat film, tapi aku tahu kalau ini nyata. David mati ditempat. Badanku gemetaran.

Dan setelah itu Ron berjalan mendekatiku dan berkata kalau dia tidak akan membunuhku kalau aku menjadi perempuan yang penurut. Dia juga mengancam kalau aku bercerita tentang kejadian ini pada orang lain, dia akan membunuh seluruh keluargaku.

Menurutmu apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi aku? Pasti kamu akan lebih memilih bungkam kan? Aku sangat mengenal Ron, dia orang yang sangat nekat.

Tapi, aku tidak bisa menyimpan rahasia itu lebih lama lagi, ku seperti dikejar-kejar perasaan bersalah. Dan bayang-bayang kematian David masih tampak jelas dalam benakku. Jadi tiga tahun setelah tragedi pembunuhan David akhirnya aku memberanikan diri untuk melapor pada polisi.

Mendengar laporanku, pihak kepolisian langsung membawa Ron dan aku ke kantor polisi. Pengacaraku mundur karena Ron mengancamnya. Ron bahkan berusaha menyewa orang untuk menculik keluargaku untuk memaksaku mengaku sepenuhnya bahwa yang bertanggung jawab atas kematian David adalah aku.

Tentu saja aku tidak mau, enak saja. dia sudah menghancurkan hidupku dan dia memaksaku untuk mengakui semua kesalahannya? Tidak akan!

Aku dan Ron disidang terpisah. Di pengadilan, Ron menyangkal semua tuduhan. Dia mengatakan pada hakim kalau bukan dia yang melakukan pembunuhan, dan berdalih bahwa luka bakar di tanganya merupakan akibat dari hobinya membuat barbekyu bukan lantaran membakar mobil David.

Dan dalam semua pernyataan itu dia tidak sedikit pun menyebut-nyebut namaku. Bahkan dia juga menyanggah pernah membunuh atau menyakiti seseorang. Katanya, satu-satunya kesalahan yang dia lakukan adalah perbuatan serongnya yang tidak diketahui sang istri.

Setelah proses sidang yang menguras emosi, akhirnya pada tahun 2003 hakim memutuskan bahwa aku bersalah atas pembunuhan tingkat pertama dan dihukum penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Aku sangat kaget. Aku tidak bisa menerima keputusan itu begitu saja. Aku tidak mungkin menghabiskan hidupku di penjara kan? Jadi, aku mengajukan banding, aku menyerahkan laporan-laporan dari empat psikolog yang menyatakan bahwa aku menderita Battered Women’s Syndrome, dan kemudian hukumanku dikurangi menjadi 15 tahun di penjara.

Lalu pada awal tahun 2017, aku diberi pembebasan bersyarat. Empat bulan setelahnya aku meninggalkan tahanan CDCR, tapi aku langsung ditahan oleh agen ICE dan diantar para tahanan.

ICE adalah lembaga yang mengurus imigrasi dan bea cukai di AS, ICE juga yang melakukan pendeportasian para imigran yang bermasalah di negara itu.

Dan aku masuk dalam kelompok yang terancam dideportasi paling ekstrim, aku masuk ddalam kategori imigran dalam tahanan penjara. Tapi aku juga masuk dalam subgrup kecil, yaitu imigran yang telah bertahan dari kekerasan domestik dan pengurungan, tapi setelah itu aku harus menghadapi deportasi setelah meninggalkan penjara.

Kukira aku sudah bebas, tapi nyatanya aku masih di penjara. Menurutmu apa bedanya? Aku keluar dari penjara, tapi aku akan dideportasi ke negara yang belum pernah aku datangi.

Selama aku di penjara, aku punya teman sekamar, dia bercerita padaku kalau pacarnya sering memukulnya. Lalu aku mendorongnya untuk melakukan terapi. Dan aku juga bilang padanya bahwa tidak satu pun manusia yang punya hak untuk menguasai atau memukul manusia lain.

Itu adalah pelajaran yang aku dapatkan saat aku menghadiri konseling atau kelompok-kelompok panduan diri dalam penjara, sesuatu yang seharusnya bisa aku pelajari saat aku masih remaja dan saat belum dipenjara. Pasti akan sangat berguna untukku yang saat itu sedang dalm kondisi labil.

Sejak ikut konseling itu aku juga lebih memahami orangtuaku yang pernah punya pengalaman degan peperangan dan pembunuhan masal, karena alasan itulah cara orangtuaku berinteraksi terbentuk.

Sejak itu, orangtuaku berkonsiliasi, walaupun mereka jarang terbang 650 KM untuk mengunjungiku, aku tahu usia dan kesehatan mereka yang semakin menurun, tapi orangtuaku terus berupaya keras untuk terus berhubungan denganku.

Keputusan hakim tentang aku yang harus dideportasi ke Kamboja menyadarkanku satu hal bahwa aku tidak bisa mengurus orangtuaku yang sudah tua.

California-Kamboja, sebenarnya itu sama saja dengan kami yang tidak akan bertemu lagi.

Dan sampai sekarang yang aku khawatirkan adalah Ron, walaupun dia masih di penjara, tapi keluarganya di Asia. Ron masih beranggapan bahwa salahkulah dia bisa dipenjara. Aku takut dia masih memburuku atau parahnya lagi dia membunuh orangtuaku. Walaupun sudah berlalu 16 tahun lalu, tapi ucapannya yang tidak akan membiarkanku bebas selalu terngiang-ngiang.

Dan pada bulan Agustus, aku sidang imigrasi sekali lagi. Aku belum menyerah.  Normalnya, seorang hakim tidak dapat mempertimbangkan kemungkinan faktor-faktor mitigas saat memutuskan soal deportasi. Bagiku, hal ini artinya bahwa masa mudaku, sejarahku yang dikasari, kesalahanku, atau rehabilitasi tahunan tidak dapat dijadikan pertimbangan. Tapi aku dan Asian Laq Caucus akan membuat kasus melawan deportasi di bawah Convention Against Torture.

Penyesalan saja tidak akan cukup. Dan aku tahu apapun yang aku lakukan tidak dapat menghidupkan David. Tapi, aku masih bisa membantu orang lain. Saat ini aku sedang menempuh sertifikasi untuk konselor penyalahgunaan obat-obatan selama di dalam penjara dan aku ingin menjalin kerjasama dengan perempuan-perempuan lain yang pernah dikasari. Dan aku harap aku bisa membentuk sebuah komunitas.

Aku membagi kisahku bukan hanya untuk memperjuangkan kebebasanku tapi juga untuk menyorot beberapa cara kekerasan domestik yang bisa menjadi jalan menuju penahanan dan bagi banyak imigran adalah deportasi. Karena bagiku membicarakan suatu kebenaran akan sangat membantu dan aku hanya ingin membantu orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here