Sepuluh Pelatih yang Salah Memilih Tantangan Baru

0
62

Hanya perlu satu kepindahan buruk untuk menghancurkan karier yang seharusnya menjanjikan. Beberapa pelatih di bawah ini mengambil waktu yang salah, atau bahkan memilih klub yang salah dalam melanjutkan kariernya….

10. Ole Gunnar Solskjaer Menangani Cardiff

Mantan pahlawan Manchester United ini didambakan oleh publik Old Trafford sebagai pengganti Sir Alex Ferguson setelah sukses menangani Molde di negara asalnya. Keinginan tersebut semakin menjadi saat pada 2013/14 United makin bobrok di tangan David Moyes. Namun, alih-alih ke Manchester, Solskjaer malah terbang ke Cardiff, menangani klub yang saat itu terancam degradasi. Nyatanya, Cardiff City malah jadi juru kunci, dan ketika belum juga mengangkat performa tim di Divisi Championship, Solskjaer dipecat. Ia kini kembali menangani Molde.

9. Marcelo Lippi Kembali Menukangi Italia

Setelah memenangi Piala Dunia 2006 bersama Italia, Marcelo Lippi memutuskan mundur. Pilihan ini sebenarnya bagus bagi hari tuanya, mengingat ia undur diri sebagai pemenang. Nyatanya, tangannya gatal ingin beraksi lagi pada 2008. Mengantarkan Italia ke Piala Dunia 2010, ia nyaris mempertahankan skuad peninggalan 2006. Italia ke luar dini di grup yang berisi Paraguay, Slovakia, dan Selandia Baru. Dia mengakui tak melakukan pekerjaannya dengan baik.

8. Steve McClaren Mengambil Kesempatan di Newcastle

Anda bisa saja berpendapat titik terendah karier McClaren ialah saat gagal mengantarkan Inggris ke Euro 2008. Namun, dia sanggup bangkit dengan membawa Twente juara Liga Belanda dua tahun sesudahnya. Masalah terjadi pada 2016. Ia saat itu terlihat mengembalikan reputasi di Inggris, setelah membawa Derby County nyaris promosi ke Premier League. Ketika posisi manajer di Newcastle lowong dan ia menerimanya, ia hanya bertahan di sana selama tujuh bulan dan tak sanggup bangkit lagi hingga kini.

7. Jorge Jesus di Sporting Lisbon

Jorge Jesus bisa saja melegenda di Benfica seperti halnya Bela Guttman setelah memenangi tiga Liga Portugal di sana. Namun, pada 2015 ia berkhianat guna menangani klub rival Sporting Lisbon. Sayangnya, tiga tahun hidup di Sporting berbuah tiga kali dikangkangi Benfica. Setelah internal Sporting mengalami kekacauan pada musim panas lalu, ia kini mengembara di Timur Tengah bersama Al Hilal.

6. Brian Clough di Leeds United

Brian Clough dikenal sebagai media darling semasa mengubah Derby County dari klub antah berantah menjadi kampiun Inggris. Namun, secara mengejutkan ia menerima tawaran Leeds United pada 1974, klub rival yang selama ini dikritiknya habis-habisan. Pada pertemuan pertamanya dengan pemain, ia mengatakan semua prestasi Leeds diraih secara curang dan seharusnya para pemain membuang medali-medali prestasi itu. Ia hanya bertahan di sana selama 44 hari, cukup heboh untuk dibuatkan film berjudul The Damned United (2009).

5. Gary Neville di Valencia

Ketika kamu mengambil pekerjaan yang salah sebagai pekerjaan pertamamu, maka Anda tak akan mendekati pekerjaan itu lagi. Itulah yang terjadi pada Gary Neville. Dikenal sebagai pandit di televisi dengan opini-opini tajam, dia kesulitan mengeksekusi teori-teori ke dalam praktik keseharian di Valencia. Dia bertahan hanya selama empat bulan dan akan diingat sebagai musim terburuk Valencia. Ia memutuskan tak akan melatih kembali.

4. Jose Antonio Camacho di Real Madrid

Ada ujar-ujar berbunyi, jika Anda digigit anjing sekali, Anda tak akan kembali ke tempat itu lagi. Jose Antonio Camacho pernah berstatus sebagai pelatih Madrid pada 1998 hanya dalam 23 hari, tanpa pernah merasakan pertandingan karena konflik dengan Presiden klub. Ketika pada 2004 ia kembali ke Santiago Bernabeu, giliran para pemain senior yang berkonfrontasi dengannya. Ia hanya bertahan selama empat pertandingan.

3. Graham Taylor di tim nasional Inggris

Sebagai seorang yang dikenal publik begitu rendah hati, seharusnya nama Graham Taylor dikenang publik Inggris sebagai salah satu pelatih terhebat dalam sejarah di sana. Apalagi, ia juga melakukan pekerjaan luar biasa di Watford dan Aston Villa. Namun, begitu menangani Inggris pada 1990, catatan-catatan hitam tentang dirinya mulai tertoreh. Inggris gugur sebagai juru kunci di Euro 1992, bahkan tak lolos ke Piala Dunia 1994.

2. David Moyes di Manchester United

Nasib buruk menimpa David Moyes begitu ia ditunjuk oleh Sir Alex Ferguson guna menggantikan dirinya di Old Trafford. Seharusnya menikmati zona nyaman di Everton, “kenaikan pangkat” sebagai pelatih Manchester United terasa sebagai pekerjaan “yang harus ia ambil” ketimbang sebagai pekerjaan “yang ia inginkan”. Sejak dipecat oleh klub itu pada April 2013, ia telah dipecat Sociedad dan hanya mendapat enam bulan bersama West Ham. Siapa suruh menggantikan Sir Alex?

1. Julen Lopetegui Meninggalkan Spanyol untuk Mengiyakan Madrid

Julen Lopetegui bisa dikatakan sebagai pelatih timnas paling ideal, berhubung ia menangani timnas usia muda sebelum naik pangkat sebagai pelatih timnas senior. Spanyol tak terkalahkan dalam kualifikasi Piala Dunia 2018, dan turnamen itu akan dimulai ketika Lopetegui menerima panggilan Madrid. Ia dipecat dua hari sebelum sepak mula Piala Dunia, dan ketika pada akhirnya melatih Madrid, dia dipecat juga setelah empat bulan. Dua pekerjaan hilang dalam empat bulan. Wow.

Berkat sepuluh pelatih di atas, kita bisa memetik pelajaran bahwa tak selamanya pekerjaan akan berlangsung baik bagi kita. Kita perlu berhati-hati, memastikan lingkungan juga mendukung kita…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here