Sejauh Mana Edy Rahmayadi Gagal Paham Soal Sepak Bola Indonesia?

0
169

Orang ini mengomandoi PSSI dengan bermodal karier militer yang cukup untuk meraih tampuk PSSI, tetapi kemudian kita bisa tahu bahwa ia adalah ketua umum federasi paling buruk di dunia. Mengetuai PSSI sejak 10 November 2016, dan sejak masih menjabat Pangkosrad, ia tidak juga mampu membersihkan PSSI dari citra lamanya: tidak professional dan banyak terinfiltrasi politik praktis. Dua tahun sudah berjalan dan dirinya sudah mengganti rangkap jabatan dari Pangkostrad ke gubernur Sumatra Utara, yang kita lihat hanyalah kebobrokan dan kebodohan.

Federasi sepak bola tidak seharusnya diisi dengan mereka yang mempunyai syahwat politik, karena bisa saja, roda organisasi tidak dijalankan demi kemajuan sepak bola, melainkan kenaikan nilai politik sang pemegang kuasa. Kita bisa menelisik bagaimana cara Edy memimpin organisasi ini, bagaimana ia memperlakukan pemain, atau bahkan dari cara dia menghadapi media massa.

Pada bulan pertama ia di PSSI, saat Indonesia lolos ke final Piala AFF 2016, PSSI memperkenalkan cara baru penjualan tiket laga timnas: memindahkan loket ke markas militer. Hasilnya, banyak pengantre kena gebuk tentara dan mendapat perlakuan yang tak semestinya dilakukan terhadap penikmat tim nasional. Di tangan tentara pula, Banu Rusman suporter Persita Tangerang meregang nyawa saat bertandang ke Medan.

Edy, meskipun pernah meniti karier sebagai pemain di PSMS Medan junior, tampaknya masih terpengaruh gaya militer dalam memperlakukan pemain-pemain tim nasional. Ia pernah berceletuk mengharuskan semua pemain timnas bercukur cepak layaknya taruna militer, sesuatu yang beruntung belum pernah kita saksikan implementasinya.

Yang lebih parah, ia menyebut kepindahan Evan Dimas dan Ilham Udin ke Selangor FA sebagai “tidak nasionalis” dan “mata duitan”. Jika Evan dan Ilham adalah perwira muda TNI, mungkin argumen Edy bisa dimaklumi. Namun dua eks pemain Bhayangkara United itu hijrah ke negeri jiran untuk mematangkan diri di liga yang lebih baik secara pengelolaan dan manajemen klub yang lebih profesional, tanpa mengurangi hormat mereka terhadap lambang garuda. Nasionalisme cupet versi Edy semoga tidak terulang lagi.

Baru-baru ini, Edy menjadi sosok viral di linimasa berkat tindak-tanduknya di media massa nasional. Bila publik merangkum ucapan Edy di banyak media, simpulan yang bisa didapat ialah: Edy tak cakap berbicara di depan publik. Ia menjawab sekenanya, bahkan bertanya pada wartawan “Apa hak anda bertanya begitu?” di siaran langsung nasional. Ia juga mengatakan “Gaji pelatih Luis Milla itu urusan PSSI, bukan urusan kalian!” ketika dicecar soal gaji pelatih asal Spanyol yang tertunggak.

Di acara Indonesia Lawyers Club, ia menguraikan argumen tipisnya stok pemain di Indonesia sebagai penyebab kerusuhan suporter. Orang waras mana pun akan tertawa dengan penjelasan Edy, apalagi ia sampai membolak-balik kertas hingga 30 detik sebelum terbata-bata menjawab pertanyaan Karni Ilyas.

Hari berikutnya di Mata Najwa, ia bersikeras menyebut “Bohong, bohong itu.” terhadap selentingan rangkap jabatan para pengurus PSSI di klub, tetapi kemudian menjawab “Itu benar adanya’ saat data dari Tirto ditampilkan di layar.

Apa yang dirasakan publik sepak bola Indonesia? Malu. Menggeram. Dan ingin perubahan. Sayangnya itu tak akan terjadi selama tangan kotor politik masih mengobok-ngobok federasi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here