Sejarah Tempurung Kura-Kura yang Retak

0
84
Source : https://unsplash.com/@jeremybishop

Pada suatu waktu, terdengar kabar bahwa dewa akan mengadakan sebuah pesta pernikahan di atas langit. Pengantin yang menikah memutuskan untuk mengundang seluruh binatang yang ada di berbagai negara untuk menghadiri upacara pernikahan mereka. Sontak, hewan-hewan yang bisa terbang di udara seperti burung bersorak-sorai karena mereka tidak memiliki masalah apapun untuk datang ke sana.

Akan tetapi, bagi para binatang yang berdiam di daratan seperti kura-kura, mereka mempunyai kendala karena tidak ada sayap di tubuh mereka yang memungkinkan untuk terbang ke atas. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain yang bisa di lakukan selain membujuk para burung untuk mengangkat mereka ke langit.

Kura-kura sangat ingin menghadiri pesta pernikahan tersebut karena ia mencintai kebersamaan namun, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa sampai di tempat pernikahan. Akhirnya, ia pun berdiam diri lalu merenung sejenak untuk menemukan solusi.

Ketika kura-kura sedang merenung, seekor burung pemakan bangkai, sebut saja namanya Jojo mendarat di dekatnya untuk mencari sisa-sisa makanan yang di tinggalkan oleh hewan-hewan lain. Melihat burung pemakan bangkai itu, kura-kura pun mendapat ide. Ia segera memanggil Jojo untuk berbicara sebentar kepadanya.

“Tuan Jojo, apakah kau berencana untuk menghadiri pesta pernikahan di langit minggu depan?” tanya kura-kura sambil tersenyum.

Jojo mengangguk lalu menceritakan kepada kura-kura bahwa ia ingin pergi ke sana karena akan terdapat banyak makanan yang di sediakan bagi para hewan secara gratis. Mendengar penjelasannya, kura-kura pun kembali bertanya apabila Jojo bisa membantunya untuk hadir di sana atau tidak.

Burung pemakan bangkai itu menggelengkan kepalanya. Ia berkata kepada kura-kura bahwa hal itu cukup sulit untuk ia lakukan mengingat berat badan kura-kura yang terlihat lebih berat. Akan tetapi, Jojo juga menyanggah bahwa ia akan membantunya jika sang kura-kura memberikan imbalan berupa tumpukan kerang.

Setelah menabung kerang untuk beberapa lama di sarangnya dengan rapi, kura-kura memberikan kerang tersebut kepada sang burung pemakan bangkai. Akhirnya, burung itu pun menyetujui permintaan kura-kura lalu menjemputnya ketika hari pernikahan tersebut berlangsung. Ia membawa kura-kura di atas punggung dan tiba dengan selamat.

Pernikahan berlangsung amat meriah. Segala jenis makanan dan minuman lezat yang jarang terlihat di hidangkan di depan mata para tamu undangan. Pertama-tama, Jojo memutuskan untuk mencoba bubur namun ia kesulitan karena ukuran paruhnya yang tidak sesuai.

Oleh karena hal tersebut, banyak bubur yang tertumpah di atas cangkang kura-kura sehingga kura-kura memutuskan untuk pura-pura marah. Jojo si burung pemakan bangkai berusaha untuk menenangkannya dengan berkata bahwa ia tidak akan mengambil satu kerang pun. Kura-kura pun menyetujuinya karena ia merasa senang bahwa semua hal kini bisa ia nikmati secara cuma-cuma.

Kemudian, semua tamu undangan minum bir. Berkat bir tersebut, kura-kura bertindak ceroboh sehingga dirinya mabuk dan menumpahkan bir tepat di atas kepala burung pemakan bangkai bernama Jojo. Kini giliran Jojo yang tersinggung dan memarahi kura-kura.

Kura-kura mencoba menenangkannya dengan berkata bahwa ia akan memberikan kerang kepada Jojo sebanyak yang ia inginkan. Akan tetapi, Jojo menolak tawaran tersebut karena ia sudah tidak tertarik lagi. Singkat cerita, Jojo si burung pemakan bangkai beserta burung-burung lainnya pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Kura-kura memanggil Jojo namun panggilan itu tidak ia gubris karena rasa kesal yang ada.

Akhir cerita, kini tinggal sang kura-kura yang belum kembali ke rumahnya. Ia berdiam diri lalu menyadari bahwa satu-satunya cara untuknya supaya ia bisa kembali ke rumah adalah dengan menjatuhkan diri ke bawah. Ia memandang permukaan bumi untuk beberapa saat lalu menjatuhkan diri dengan harapan bahwa ia akan mendarat di tanah yang empuk.

Apa yang terjadi adalah sebaliknya. Ia mendarat di tanah yang keras sehingga tempurungnya menjadi pecah dalam sejumlah potongan. Di pagi hari, semua keponakan dari kura-kura datang kepadanya dan menyusun serta menyatukan kembali tempurung yang sudah rusak.

Sejak saat itu, baik manusia maupun hewan terus menjumpai kura-kura yang memiliki semacam retak di bagian tempurungnya.

Kesimpulan

Kisah berikut mengajarkan kita supaya tidak bertindak gegabah terhadap orang lain di waktu yang penting.

 

Demikianlah cerita awal mula retaknya tempurung dari sang kura-kura. Semoga bermanfaat bagi kita semua!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here