Sebuah Lagu untuk Mira

0
74
Source : https://unsplash.com/@photohunter

Pada suatu hari, ada seorang remaja perempuan bernama Mira yang tinggal di ibukota. Sejak ia lahir, orang-orang di sekitarnya sudah mengetahui bahwa Mira mengalami cacat fisik pada bagian kaki kirinya sehingga hal tersebut pun membuat ia terlihat pincang ketika sedang berjalan.

Alhasil, karena adanya kekurangan tersebut, Mira sering di jadikan bahan tertawaan sekaligus ejekan oleh teman-temannya di sekolah dari tahun ke tahun. Baik laki-laki maupun perempuan, mereka sepakat membicarakan Mira tanpa memunculkan belas kasihan.

Berkat perlakuan mereka, Mira tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri serta pendiam. Meskipun begitu, ternyata ada seorang remaja laki-laki dari kelas lain bernama Gio yang sering memperhatikan Mira dari kejauhan. Sambil mengawasi Mira yang sedang di tertawakan oleh teman-temannya, ia menulis sesuatu di secarik kertas.

Beberapa jam kemudian, waktu pulang sekolah tiba. Mira membereskan barang-barangnya sementara teman-temannya beranjak keluar begitu saja dan meninggalkannya. Menyadari hal itu, Mira hanya terdiam dan berusaha menahan airmata karena tidak ada siapapun yang berminat menemani dirinya.

Tepat ketika Mira memeriksa laci mejanya, tiba-tiba ia melihat secarik kertas yang terselip di dalamnya. Sesudah mengambilnya, ia mengamat-amati lalu membaca tulisannya.

Hai. Nama saya G. Anak kelas 10 B. Kok anda sendirian sih? Kenapa tidak belajar bersama saya saja?

“G siapa ya?” gumam Mira sambil menggaruk kepalanya dengan pelan dan lanjut membaca.

Suatu saat, anda akan tahu saya itu siapa. Sudahlah. Mengenai teman-teman anda yang bodoh itu, abaikan saja mereka. You’re smarter than them. Tetap semangat. Jangan menyerah. Fighting!

Mira terdiam sesaat. Ia tersenyum karena kini, ia mengetahui kenyataan bahwa masih ada orang asing yang memperhatikannya di sekolah. Sambil melipat surat tersebut, ia segera bergegas mengambil tas lalu meninggalkan ruang kelas.

Keesokan harinya, Mira kembali mendapati secarik kertas yang terselip dalam laci mejanya di ruang kelas. Setelah membaca bahwa seseorang berinisial G tersebut mengungkapkan rencana untuk menuliskan serta menyanyikan sebuah lagu yang akan menyadarkan semua orang akan pentingnya sikap bijaksana dalam pertemanan, Mira pun mengangguk pelan. Ia menyetujui seluruh rencana G yang brilian itu.

Tiba-tiba, terlintas di benak Mira untuk membalas surat dari G dengan cara menyelipkannya di dalam laci meja. Sesudah menuliskan segala sesuatu yang ingin ia ucapkan, Mira melipat kertas tersebut lalu memasukannya ke dalam laci meja dan pulang dengan tenang.

Begitulah kegiatan tukar-menukar surat itu bermula dan berlangsung hingga pada suatu waktu, Gio terpilih menjadi salah satu murid yang bernyanyi dalam pentas sekolah. Ketika sudah tiba waktu baginya untuk bernyanyi, tiba-tiba ia menyebutkan nama lengkap Mira sebagai inspirasi bagi lagunya yang berjudul Keteduhan Jiwa.

Sontak Mira pun terkejut saat mendengar namanya di sebutkan oleh Gio. Ia tidak pernah menyangka bahwa seorang remaja laki-laki yang berasal dari kelas lain dan merupakan salah satu idola di sekolah mereka menjadi orang yang juga mengirimkan bentuk dukungan berupa surat kepadanya.

Seusai Gio bernyanyi, semua murid, guru hingga kepala sekolah bertepuk tangan karena mereka menyadari suara Gio yang luar biasa indah dan pesan yang terkandung dalam lagunya. Dalam sekejap, teman-teman Mira juga menghampiri dirinya lalu meminta maaf kepadanya karena sudah melontarkan berbagai sindiran serta ejekan yang tidak berarti.

Mira memaafkan mereka semua. Sambil tersenyum, ia pun menyalami mereka satu per satu dan bahkan ada beberapa dari antara mereka yang ia peluk karena isak tangis yang keluar.

“Gio! Ke sini dong!” panggil seseorang. Mira menoleh lalu melihat Gio yang kini sudah berdiri di hadapannya.

“Hai.” sapa Gio.

“Hai juga. Jadi selama ini kamu ya yang kasih surat-surat itu ke aku?” tanya Mira sambil tertawa kecil.

“Iya! Oleh sebab itu, bagaimana sekarang? Apakah itu berarti kita sudah menjadi teman?” balas Gio.

“Bukan teman.”

“Lalu apa?”

“Sahabat saja.”

Gio tersenyum mendengar perkataan Mira lalu menepuk pundaknya. Sejak saat itu, Mira tidak pernah melewati satu hari pun tanpa dukungan dari teman-temannya termasuk Gio. Nantinya, dukungan tersebut berhasil membuat Mira lulus sebagai salah satu murid dengan nilai terbaik yang ada di Indonesia.

Akhir kata, kisah Mira mengajarkan kepada kita bahwa waktu yang buruk akan tergantikan dengan waktu yang baik. Selama kita masih bernafas, sekalipun ada hambatan-hambatan tertentu dalam hidup kita, kesempatan untuk melewati hal tersebut akan muncul dengan sendirinya jika kita bersyukur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here