Sebelum Jadi Pianis Terkenal, Aku Harus Menerima Banyak Penolakan Karena Aku Cuma Punya 4 Jari

0
42

Apa sih yang kamu bayangin saat pertama kali mendengar Korea? Pasti kamu membayangkan gadis-gadis cantik berkulit putih nan mulus serta fisik sempurna dari negeri ginseng ini, ‘kan? Atau mungkin bisa jadi oppa-oppa yang ganteng?

Lalu apa hubungannya aku dengan itu semua?

Aku cuma mau memperkenalkan diriku. Aku adalah seorang perempuan yang lahir pada tanggal 9 Juli tahun 1985, di Pusan Korea Selatan. Tapi aku adalah salah satu warga Korea Selatan yang tidak memiliki apa yang biasanya menjadi bayangan orang-orang dari negara lain, seperti memiliki fisik yang sempurna, tangan dan kaki yang indah.

Kadang aku berpikir kenapa aku tak seberuntung warga korea yang lain. Kadang aku juga merasa bahwa ibuku kurang beruntung memiliki anak sepertiku. Aku yakin saat aku lahir di dunia, ibuku pasti berharap aku lahir normal. Setiap ibu di dunia pasti menginginkan kelahiran seorang anak yang sempurna, baik secara fisik ataupun mental.

Sayangnya, aku lahir dengan kondisi yang aku yakin tidak diinginkan oleh setiap ibu. Aku terlahir dengan 4 jari, 2 di tangan kanan dan 2 di tangan kiri. Selain itu, aku juga terlahir dengan kaki yang cacat, hanya sampai lutut. Dan yang lebih menyesakkan hati adalah aku tidak hanya terlahir dengan kondisi fisik yang cacat, aku juga menderita yang orang-orang sebut dengan keterbelakangan mental.

Aku tahu pasti, ibuku saat itu pasti sangat sedih. Tidak cukup sampai disitu kesedihan ibuku, ibuku yang sangat aku cintai ini juga harus dijauhi oleh keluarga besarnya. Keluarga yang aku pikir adalah pihak yang seharusnya mampu memberikan dukungan penuh atas apa yang menimpaku dan ibuku, malah memilih menjauh.

Sungguh. Itu sangat menyakitkan. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi ibuku tidak menyerah. Dia sangat luar biasa. Dia tidak menyerah atas keadaanku. Ibuku sosok yang memberiku motivasi untuk terus maju dan berkembang.

Pada episode berikutnya setelah kelahiranku, yang bisa dibilang cukup menyakitkan. Aku juga harus menerima kenyataan bahwa kedua kakiku harus diamputasi. Kedua kakiku terlalu lemah jika digunakan untuk berjalan dan tak bisa berjalan lama. Kedua jariku juga lemah, sampai-sampai aku tak bisa menggenggam pensil di sekolah.

Ibu lantas mendorongku untuk berlatih piano, kata beliau untuk menguatkan jari-jariku. Tapi, aku ‘kan hanya memiliki 4 jari, apa aku bisa bermain piano? Aku tahu ini tidak akan mudah untukku. Tapi semangat dan kasih sayang ibu mendorongku.

Saat itu, ibuku berkata padaku bahwa jari-jariku lemah. Jadi, ibu memintaku untuk berlatih piano sebagai terapi, agar aku bisa memegang pensil di sekolah. Aku mempercayai apa yang dikatakan pahlawanku itu.

Woo Kap Sun adalah seorang ibu sekaligus pahlawan bagi kehidupanku. Kondisiku yang tidak memungkinkan ini, menjadikanku anak yang tidak bisa hidup tanpa keberadaan beliau disampingku. Dengan kasih sayang dan kesabaran yang ibu miliki untukku, beliau berjuang agar anak gadisnya ini bisa menjadi seorang yang memiliki kemahiran dalam bermain piano.

Tidak sedikit orang yang meremehkan harapan ibuku, tapi ibu dengan keyakinannya meyakini bahwa setiap ada kekurangan pasti Tuhan akan selipkan kelebihan, karena beliau yakin tidak ada manusia yang terlahir dengan sempurna. Walaupun secara fisik aku tidak sempurna, tapi ibuku yakin suatu saat kelebihanku itu pasti akan muncul.

Perjuangan ibuku mencari sekolah piano untukku tidak mudah. Banyak sekolah yang menolakku karena kekurangan fisikku. Tapi, semangat ibuku benar-benar luar biasa. Ibuku tidak kehilangan semangatnya, ia tetap terus berusaha mencarikanku sekolah yang bisa menerima bocah cacat sepertiku. Usaha ibuku membuahkan hasil. Beliau temukan satu sekolah untukku, sekolah itu mau menerimaku.

Namun, guru pianoku awalnya tak merespon niat ibu. Dia mengatakan, gadis sepertiku yang hanya memiliki 4 jari ini tak memiliki bakat. Walaupun begitu, aku tetap berlatih piano. Aku membutuhkan waktu beberapa bulan untuk bisa menekan tuts piano. Kedua jariku memang benar-benar lemah pada saat itu.

Pada awalnya aku mengalami banyak kesulitan dalam belajar piano, bisa kamu bayangkan bagaimana sulitnya belajar bermain piano hanya dengan 4 jari dan kaki sampai selutut? Sungguh, itu sulit. Tapi, aku pantang menyerah, aku terus menerus berusaha belajar bermain piano, bahkan aku pernah mengalami bengkak pada jari-jariku karena tidak terbiasa melakukan itu semua.

Selain bermasalah dalam menekan tuts-tuts piano, aku juga kesulitan dalam menginjak pedal piano karena kakiku yang hanya sampai selutut itu. Aku juga tak bisa menyesuaikannya dengan ketukan dan melodi karena aku juga mengalami disfungsi otak. Ini adala hal berat bagi hidupku, ini sama sekali tak mudah. Aku tak bisa mengingat melodi lebih dari 5 menit. Kalau lebih dari itu, dokter mengatakan disfungsi otakku akan bertambah parah.

Bagiku, agar aku bisa memainkan 1 buah lagu, aku butuh waktu belajar selama 10 jam lamanya. Dan untuk memainkan 1 buah lagu dengan notasi rumit aku harus belajar selama 5,5 tahun. Ibu sampai harus mengorbankan pekerjaannya sebagai seorang perawat karena ingin selalu menemaniku belajar dan memberikan dukungan padaku dengan sepenuh hati.

Bermain piano adalah hal yang tak mudah bagiku. Kadang aku sendiri kesulitan saat menyambung setiap melodi, karena aku hanya punya 4 jari. Menurutku, piano akan dimainkan dengan berirama jika dimainkan dengan 10 jari. Dan aku memiliki waktu yang paling sulit saat melodi tak terkoneksi dengan halus.

Namun, keajaiban itu datang saat aku akhirnya bisa memainkan Impromptu Fantasia, karya Chopin hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun.

Setelah aku mampu bermain piano dengan baik, aku mencoba,untuk memulai konser pertamaku. Namun, seperti biasa, aku harus mendapatkan penolakan terlebih dahulu, pihak penyelenggara konser pada awalnya menolakku untuk untuk bergabung.

Aku dan ibu berusaha dengan gigih agar boleh ikut serta dalam konser piano. Dan apa yang terjadi? Aku memenangkan kompetisi itu untuk pertama kalinya. Perasaan bahagia dan haru menyelimuti kami berdua.

Sejak itu aku putuskan untuk terus bermain piano. Album pertamaku berjudul “Hee Ah, A Pianist with Four Finger”. Aku juga sudah melakukan konser di berbagai negara, seperti Amerika, Inggris, Jepang, China, Singapura dan Indonesia.

Aku perempuan biasa, sama seperti yang lainnya. Satu-satunya yang berbeda adalah fisikku yang tidak sempurna. Tapi ini tidak akan membuatku putus asa dan menyerah, cuma karena aku tidak punya kaki dan beberapa jari. Aku percaya akan selalu ada harapan kalau aku terus bermimpi dan bekerja keras untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Oh ya, kamu belum tahu siapa namaku, ‘kan?

Namaku, , Lee Hee-Ah. And I am a Pianist with Four Finger.

Semoga kisahku dan ibuku dapat menginspirasi. Karena keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah. Tuhan selalu selipkan kelebihan pada setiap orang yang lahir di dunia. Yang harus kamu tahu adalah bahwa kemauan kita dalam menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan, pantang menyerah dan tulus dalam menghadapi semua kesulitan hidup akan membuahkan hasil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here