Sebegitu Burukkah Liga Indonesia Dikelola?

0
109

Tagar #SiapPakEdy yang viral di linimasa beberapa waktu lalu hanyalah pertunjukan komedi dari geliat frustasi pencinta sepak bola Indonesia. Kenapa pula Edy Rahmayadi muncul di televisi swasta—dalam kapasitasnya sebagai ketua umum PSSI- dua malam berturut-turut? Benar, karena ia harus menjelaskan kepada publik perihal kasus pembunuhan Haringga Sirla oleh Bobotoh saat Persija Jakarta bertandang ke Persib Bandung akhir September lalu.

Kasus suporter klub Indonesia meregang nyawa di stadion bukan realita kemarin sore. Catatan Save Our Soccer yang baru dimulai sejak 1995 menunjukkan 76 suporter pulang tinggal nama saat mendukung tim kesayangannya. Rata-rata lebih dari tiga orang per tahun meninggal dunia, dan semasa rezim Edy, persoalan ini malah bertambah parah saja.

PSSI pun seperti tak punya ramuan ampuh untuk menanggulangi persoalan ini. Sejauh ini, yang dilakukan federasi ini hanyalah memberi sanksi denda dan skorsing, yang tentu saja tak akan berdampak apa pun bagi suporter di akar rumput. Penghentian Liga 1 menyusul kematian Haringga selam dua minggu pun tak menunjukkan imbas meyakinkan. PSSI hanya mikirin sanksi selama dua pekan kemarin, tanpa merumuskan solusi baku agar kejadian ini tak terulang.

Jika pun hukuman berupa denda dan sanksi dirasa cukup memberi efek jera, benarkah demikian jika besaran hukuman itu berbeda meski pelanggaran yang dilakukan sama jenisnya? Mungkinkah kita berandai-andai ada hukuman untuk Arema FC ketika pendukungnya melakukan vandalisme saat laga menjamu Persebaya lalu? PT Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi dan PSSI selaku pemilik sah sepak bola negeri ini harus konsisten dengan regulasi dan statuta yang mereka anut sendiri.

Itu hanya persoalan di satu dimensi. Di dimensi lain, PT LIB dan PSSI gagal dalam menciptakan kompetisi yang seharusnya bermuara pada tim nasional yang kuat. Problem ini berlangsung tiap tahun dan PT LIB tampak tak punya usaha untuk memperbaikinya. Pada pekan internasional ini saja—belum menghitung Piala AFF November-Desember mendatang, Liga 1 tetap berlangsung. Realita yang menunjukkan tidak sinkronnya kompetisi dengan tim nasional.

Musabab kejadian ini setidaknya bisa dirunut pada satu hal: penjadwalan yang buruk. Liga 1 musim ini baru dimulai pada 23 Maret 2018, paling telat di antara liga-liga Asia Tenggara lain dan akibatnya, mengakhiri musim paling belakangan. Ini makin diperparah dengan terlalu banyaknya jatah libur, seperti saat bulan Ramadan atau saat Asian Games dihelat.

Demi sinkronisasi kompetisi dengan tim nasional, pengelolaan Liga Indonesia harus lebih matang di musim depan. PT LIB seharusnya melepaskan diri dari kebiasaan menyelenggarakan turnamen pramusim Inter Island Cup/Piala Presiden di awal musim. Mereka harus fokus mempersiapkan musim baru, mengkonfigurasi jadwal klub agar tak berbenturan dengan kepentingan tim nasional.

Jika memang PT LIB dan PSSI begitu bebal dan tetap mempertahankan kebiasaan lama yang buruk, tak ada lagi yang bisa diharapkan dari olahraga paling kita cintai ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here