Satu Setengah Tahun Milla di Indonesia

0
111

Setelah secara mengejutkan mampu menembus babak Final Piala AFF 2016, muncul pertanyaan di benak suporter dan stakeholder sepak bola nasional. Kiranya siapa sosok yang dipandang kompeten untuk menangani tim nasional, menggantikan sosok Alfred Riedl yang mampu membawa timnas ke dua final Piala AFF?

Pada akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017, santer beredar kabar bahwa PSSI tak akan tanggung-tanggung dalam menentukan pelatih. Dua pelatih kenamaan Eropa diisukan akan datang ke Indonesia, yakni mantan pelatih Paris Saint-Germain Luis Fernadez, atau Luis Milla, mantan pelatih timnas junior Spanyol.

Pada akhirnya, Milla-lah yang menginjakkan kakinya di Indonesia pada 21 Januari 2017. Ia membawa serta dua asistennya dari Spanyol, yaitu Miguel Gandia dan Jesus Perez. Tak lupa, PSSI juga menyisipkan Bima Sakti sebagai asisten Milla.

Meski dikontrak untuk menangani timnas senior dan timnas U-23 sekaligus, Milla lebih banyak mempersiapkan timnas U-23 karena ketiadaan agenda bagi timnas senior. Pada awal kedatangannya, Milla dibebani target yang cukup muluk: membawa Indonesia lolos ke Piala Asia U-23 2018, juara SEA Games 2017, dan menembus semifinal Asian Games 2018.

Sayangnya, tak ada satu pun dari target tersebut yang mampu direalisasikan. Di ajang Kualifikasi Piala Asia U-23, kekalahan telak dari Malaysia di laga perdana membuat timnas hanya memperoleh 4 poin dan harus berada di posisi ketiga, menyaksikan Thailand dan Malaysia lolos.

Di gelaran SEA Games 2017, Indonesia cuma mampu meraih medali perunggu. Kembali dikalahkan rival kesumat Malaysia di babak semifinal, Indonesia mampu mengalahkan Myanmar di perebutan tempat ketiga.

Turnamen pamungkas Milla ialah Asian Games 2018 yang berlangsung di negeri sendiri. Sesuai prediksi, tim Garuda mampu lolos dari fase grup dengan status juara grup. Namun sayang, di babak 16 besar, kekalahan dari Uni Emirat Arab melalui adu penalti membuat harapan publik berprestasi di kandang sendiri pupus.

Di luar kompetisi resmi di atas, Milla juga sempat mengantarkan timnas meraih posisi dua pada turnamen Aceh World Solidarity Tsunami Cup 2017 dan menempati peringkat ketiga di PSSI Anniversary Cup 2018.

Secara total, 34 laga dijalani Luis Milla bersama tim Merah Putih, dengan torehan 14 kemenangan, 11 kekalahan, dan 9 hasil seri.

Kegagalan di Asian Games menimbulkan friksi antara Milla dengan PSSI. Pihak federasi menuduh Milla tak beri’tikad baik melanjutkan kontrak dengan pulang ke Spanyol tanpa keinginan kembali ke Indonesia. Sedangkan pihak Milla menyatakan PSSI tak sanggup menunaikan kewajiban yang tertuang dalam kontrak.

Menjelang Piala AFF 2018 (yang seharusnya didampingi Milla), PSSI akhirnya menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih utama. Bima diharapkan mampu menularkan ilmu yang didapat dari Milla untuk memecahkan rekor buntu Indonesia di ajang terbesar Asia Tenggara.

Dalam pernyataan perpisahannya di Instagram, Milla menulis, “Sebuah proyek yang lebih dari satu setengah tahun berjalan harus berakhir dalam keadaan manajemen yang buruk, kerap melanggar kontrak, dan rendahnya profesionalisme sang pemimpin. Dalam 10 bulan terakhir, saya pergi dan merasa bahwa saya telah melakukan pekerjaan dengan baik.”

Milla pergi dengan meninggalkan fondasi yang cukup kuat. Beberapa nama muda memiliki jam terbang internasional mencukup berkat keseriusannya membenahi kualitas sepak bola Indonesia.

Terima kasih, Milla…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here