Salah Satu Korban Selamat Kapal Titanic Ini Dianggap Pembohong Selama Hidupnya, Siapa Dia?

0
64

Mendengarkan kisah dari orang yang selamat dari tenggelamnya kapal Titanic mungkin bisa menjadi bbagian yang sangat mengharukan. Mendengarkan bagaimana cara mereka bertahan pada malam 14 April 1912.

Misalnya saja kisah dari Richard Norris Williams II yang bisa bertahan dalam sekoci dengan keadaan kaki yang terbenam dalam air es. Lalu saat seorang dokter memintanya memeriksa RMS Carpathia, Williams harus menerima informasi bahwa dia harus melakukan amputasi., dan Williams menolaknya.

Williams mendapatkan keajaiban, kakinya sembuh. Dia bertahan cukup baik melewati rasa sakit. Bersama dengan Chuck Garland, pada tahun 1920 delapan tahun setelah musibah itu dia memenangkan kejuaraan Wimbledon. Kisah Jennie Louise Hansen dari Wisconsin memiliki kisah yang tidka menyenangkan. Tragedi itu berhasil ia lewati, namun ia sangat tercengang dengan semua yang ia lihat. Bahkan wanita itu harus mengalami trauma yang sampai merusak syarafnya.

Hansen dikabarkan tidak lagi mampu mengeluarkan air mata saat menangis.
Kisah lainnya dari korban selamat kapal Titanic yang satu ini cukup mengejutkan. Sayangnya, ketika dia membagikan kisahnya, tak ada yang percaya pada dirinya. Dan parahnya lagi dia dianggap sebagai pembohong sepanjang hidupnya. Sampai dirinya menutup usia, seluruh kisah yang ia ceritakan dan dianggap sebagai kebohongan terungkap kebenarannya.

Berthe Antonine Mayne adalah seseorang yang dikenal sebagai penyanyi kabaret di Brussels. Ketika Mayne bertemu dengan seorang Milyuner dari Kanada, Quigg Edmond Baxter di akhir 1911, dia sedang menjalin hubungan dengan seorang tentara dari Prancis yang menjalankan tugas di Belgia, bernama Fernand de Viliers. Perkembangan roman mereka sangat cepat.

Baxter yang awalnya seorang pemain hoki terpaksa berhenti karena menderita cedera parah pada satu bagian matanya, kemudian dia menjadi seorang pelatih hoki. Dia bersama ibu dan saudara perempuannya melakukan perjalanan ke Eropa, mereka bertiga berencana untuk kembali ke AS dengan RMS Titanic. Walaupun Baxter dan Mayne telah saling bertemu selama beberapa bulan, Mayne adalah teman
keempat dalam pelayaran.

Dari Cherbourg, Prancis, mereka naik kelas pertama.
Mendapatkan tiket kelas di kapal paling mewah sedunia tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi setiap orang di kala itu, tak terkecuali Mayne. Namun sayangnya, mereka berdua tidak diijinkan untuk merasakan bahagia dalam waktu lama.

Suatu yang menakutkan berawal ketika Titanic menabrak gunung es 300 mil tenggara Newfondland. Baxter mencari tahu tentang apa yang terjadi dan bertemu dengan Kapten Smith serta Bruce Ismay saat kapal laut tiba-tiba berhenti di antah berantah.

Baxter mendekat pada mereka berdua dan sang kapten diduga berucap, “ Ada Kecelakaan, Baxter, tapi tidak apa-apa.”

Kapten Smith kemudian bergerak cepat menuju jembatan dan Ismay memerintahkan Baxter untuk mengumpulkan keluarganya dan menuju ke sekoci. Orang-orang dalam kabin dengan cepat diusir oleh Baxter. Saat itu Mayne dikawal ke sekoci nomor 6. Tanpa Baxter, Mayne merasa ragu untuk naik ke sekoci. Kala itu, Mayne menyatakan keinginan untuk kembali ke kabin dan mengambil perhiasan yang tertinggal. Sayangnya, keinginannya tidak terwujud.

Tenggelamnya kapal itu berlangsung dengan cepat. Baxter melambaikan tangan kepada kekasihnya dan juga kepada ibunya serta saudara perempuannya, ketika sekoci diturunkan ke laut. Namun, siapa yang menyangka jika lambaian tangan itu menjadi lambaian pertemuan terakhir antara Mayne dan Baxter. Baxter hilang bersama dengan tenggelamnya kapal Titanic. Bahkan hingga sekarang, mayatnya tak pernah ditemukan.

Berthe Mayne memutuskan untuk sementara waktu bersama dengan keluarga Baxter yang tengah berduka setelah tragedi itu. Lalu kemudian dia pindah ke Paris, kembali melanjutkan karir menyanyinya. Mayne juga tidak menikah dengan siapa pun setelah itu.
Setelah pensiun, Mayne pindah ke Brussels. Walaupun wanita Belgia itu tidak memiliki suami dan anak, dia masih memiliki keponakan dan anggota keluarg dekat lainnya.

Sangat disayangkan, tidak ada yang memercayai wanita itu telah melakukan perjalanan di Titanic pada masa mudanya. Kisahnya yang menyedihkan ini bahkan dianggap sebagai kebohongan oleh keluarganya. Oleh keluarganya Mayne dianggap sebagai penipu.
Pada tahun 1962, di usia Mayne yang ke-75 sekaligus sebagai tahun Mayne menutup mata, keluarga Mayne baru percaya kisah memilukan Mayne.

Saat sedang memilah-milah barang Mayne, sebuah kotak sepatu ditemukan oleh keponakannya. Kotak itu berisi penuh kenangan seperti surat, foto, dan barang-barang pribadi lainnya. Memori itu menjadi saksi bisu perjalanan memilukan bibinya di seberang lautan.

Kisah yang menyedihkan ini semoga menginspirasi kalian ya! 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here