Sakitnya Menjadi Anak dari Pelaku Pengeboman

0
33

Kamu pasti pernah mendengar siapa itu Amrozi, seorang pelaku bom bali 1 yang sudah dieksekusi.

Apakah kalian akan berpikir bahwa seluruh keluarganya akan mengikuti jejaknya? Atau mungkin kamu akan menganggap keluarganya sebagai sampah masyarakat? Atau mungkin kalian akan menjauhi keluarga dari pihak pelaku? Aku yakin jawaban sebagian dari kalian pasti sama, kalian pasti akan berpikir bahwa satu keluarganya terlibat dalam kejadian itu, dan dampaknya adalah keluarga dari Amrozi itu harus dijauhi karena dianggap sebagai sampah masyarakat.

Perkenalkan, aku adalah putra sulung dari seorang Amrozi. Namaku Zulia Mahendra, hari ini aku akan bercerita bagaimana rasanya menjadi anak dari seorang pelaku bom bali.

Dulu, saat aku masih remaja berusia 16 tahun. aku tidak pernah tahu apa yang sedang direncanakan bapak. Aku hanya memandang bapak sebagai ayah yang baik karena sikapnya menurutku jauh dari aneh. Walaupun aku jarang bertemu dengan bapak karena kedua orangtuaku sudah berpisah sejak aku masih bayi.

Sama seperti remaja lainnya, aku sedang mencari jati diri.

Tapi, suatu hari aku dikejutkan dengan berita bahwa ayahku ikut berperan dalam peristiwa bom bali. Aku benar-benar merasa marah dan kaget secara bersamaan. Mana mungkin ayahku segila itu? iya kan, dia orang yang baik. tapi, aku memang dipaksa untuk menerima takdir, ayahku memang termasuk dari salah satu pelaku utama serangan terburuk di Indonesia yang merenggut 202 korban jiwa itu.

Aku tidak tahu apa motif bapak melakukan pengeboman itu.

Bukti-bukti yang sudah terkumpul dan mengarah pada bapak. Pihak kepolisian langsung menahan bapak. Jujur saja, aku sangat kecewa saat melihat bapak ditangkap. sebagai anak aku jadi merasa tidak tahu apa-apa tentang bapak.

Setelah bapak ditangkap dan diputuskan akan dijatuhi hukuman mati. aku sangat marah, emosiku yang saat itu masih remaja meledak-ledak. Aku akan kehilangan bapak dan setelahnya aku akan hidup tanpa bapak, bagaimana nanti nasibku?

Kukira, penangkapan bapak sudah cukup membuatku terpukul, ternyata aku juga harus menerima kenyataan pahit lainnya, aku dijauhi oleh orang-orang, mereka menatapku seolah-olah aku juga akan meledakkan bom di kepala mereka.

Di sekolah aku dijauhi oleh teman-temanku, semuanya menatapku takut sekaligus jijik. Dan itu terus berlangsung sampai aku lulus sekolah. Di usiaku yang masih sangat muda, hal itu benar-benar membuatku sangat depresi dan aku juga merasa seperti sampah.

Bertahun-tahun lamanya aku terbebani dengan perasaan itu, aku merasa jadi orang yang tidak berguna.

Tiba di hari eksekusi bapak, aku benar-benar sangat marah pada Indonesia.

Sebelum bapak dieksekusi aku sempat bertemu dengan bapak di nusakambangan beberapa kali dengan perasaan yang campur aduk, aku masih belum bisa mempercayai bahwa bapak akan dieksekusi.

Setelah bapak dieksekusi, pikiranku kacau. Aku melihat jenazah bapak. Aku down. Emosiku memuncak.

Di tengah emosi yang cukup tinggi dan dipenuhi rasa dendam, aku punya pikiran untuk meneruskan apa yang dilakukan bapak dengan belajar membuat senjata dan sempat meminta pamanku, Ali Fauzi, untuk mengajariku membuat bom. Tapi sayangnya permintaanku ditolak.

Dua pamanku yang lain tidak mungkin membantuku, karena mereka berdua juga terlibat bom bali 1. Pamanku yang bernama Ali Guron dieksekusi bersama dengan bapak sedangkan pamanku yang bernama Ali Imron dijatuhi hukuman seumur hidup karena dia menyatakan penyesalan.

Karena kejadian itu, aku tidak mau hormat lagi dengan bendera merah-putih.

Setelah lulus sekolah aku juga kesulitan mencari kerja, banyak perusahaan menolakku karena aku adalah anak dari seorang pelaku bom bali.

Sungguh, aku tidak pernah ingin berada di posisi ini. aku tidak bisa memilih akan menjadi anak dari seseorang yang seperti apa, bukankah aku dan ayahku adalah dua orang yang berbeda. Bukan aku yang melakukan pengeboman itu, tapi ayahku, kenapa hanya karena aku anak dari seorang pelaku peledakan bom, seolah-olah mereka punya hak untuk menyamakan siapa aku dan ayahku.

Aku putus asa. Lamaranku semuanya ditolak. Sampai akhirnya aku memilih untuk berjualan fried chicken kecil-kecilan.

Untuk melampiaskan dendamku pada Indonesia yang tidak kunjung reda, aku meninggalkan Indonesia. Aku masih sangat sakit hati karena ayahku dieksekusi. Aku pergi ke Brunei Darussalam, Malaysia, sampai ke Thailand. Tapi aku tidak tahu, kenapa aku merasa hidupku seperti tidak tenang. Lalu aku memutuskan kembali ke Indonesia. Mungkin dengan cara meleburkan dendam dan menerima semua yang sudah terjadi, perasaanku akan membaik.

Dengan dibantu pamanku, aku mulai membangun usaha dari nol. Aku mendirikan perusahaan di bidang kontraktor. Semakin lama, rasa cintaku pada Indonesia tumbuh kembali.

Satu hari saat aku mengibarkan bendera dan semua orang hormat pada sang merah putih, aku terharu. Kakiku rasanya kaku, perasaanku campur aduk. Sudah sepuluh tahun lamanya aku tidak pernah upacara, tidak pernah hormat pada bendera, maupun menyanyikan lagu indonesia raya. Sungguh, ini adalah salah satu hal luar biasa dalam hidupku.

Di tengah usahaku membangun usaha, aku bertemu dengan seorang perempuan yang mau menerimaku apa adanya. Dia menerimaku walaupun aku adalah anak dari seorang teroris.

Aku menikah dengannya, dan kami dikaruniai seorang anak laki-laki.

Dan ada satu malam, aku merasa emosional, aku ingat bapak. Lalu aku melihat anak pertamaku tertidur pulas. Saat aku menatap dia tidur, tiba-tiba aku menangis. Aku harus membahagiakan dia.

Kukatakan pada diriku sendiri, bahwa jangan sampai anakku bernasib sepertiku. Dari apa yang sudah aku lewati selama ini, sungguh itu sangat berat. Dikucilkan oleh orang-orang, dan aku tidak mau kalau sampai anakku harus merasakan apa yang aku rasakan.

Dan sekarang aku sedang berusaha mengembalikan semuanya agar bisa diterima lagi.

Setiap aku keluar, aku akan memeluk anakku. Dan kemudian membayangkan jika aku melakukan seperti yang dilakukan bapak, siapa nanti yang akan dipeluk anakku? Dan itu membuatku sadar.

Lalu aku mengontak pamanku Ali Fauzi, aku mengatakan padanya bahwa aku berjanji untuk berubah.

Bersama pamanku yang memimpin Lingkar perdamaian, organisasi yang dibentuk untuk program deradikalisasi termasuk untuk para mantan narapidana terorisme, aku ikut aktif mengajak anak-anak muda yang terpapar radikalisme.

Orang-orang yang masih radikal, kita rangkul, bersama-sama tidak hanya napi teroris tapi juga dari preman-preman kita ajak bekerja, yang terpenting ada aktivitas, lepas dari pemikiran radikal.

Aku sangat bersemangat saat aku dan pamanku menjemput narapidana terorisme yang dibebaskan.

Aku dan pamanku harus bergerak cepat menjemput mereka, kalau tidak begitu mereka akan kembali lagi ke kelompok yang dulu. Keluar dari lapas langsung kami jemput, kami kumpulkan keluhannya lalu kami tanya apa pekerjaannya, aku mencarikan sedikit banyak. Lalu aku dan teman-teman lainnya mencari dana.

Seseungguhnya ini bukan masalah agama dan pelajaran-pelajaran yang radikal tapi aktivitas dan kebutuhan ekonomi, itu adalah faktor utama.

Dan saat aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan salah satu korban bom bali yang bernama Garil, aku langsung menyampaikan permintaan maaf atas tindakan ayahku yang sebenarnya menurutku juga ikut aku tanggung sebagai beban.

Sudah kuceritakan di awal bukan? Kalau aku harus dijauhi dan susah cari kerja hanya karena aku anak dari seorang Amrozi.

Kukatakan pada Garil dan Ibunya, bahwa aku anak dari pelaku bom bali 1, aku minta maaf yang sebesar-besarnya, mewakili keluarga. kujelaskan pada mereka bahwa aku juga korban, hanya saja bedanya, bapak terlibat di kejadian itu.

Kusebut diriku sendiri sebagai korban, karena aku tidak tahu apa-apa terkait rencana dan tindakan bapak dalam tindak terorisme itu.

Aku sudah berubah. Cukup kita yang merasakan, cukup kami yang menjadi korban, dan kita memilh jalan yang lebih baik. aku terbebani dengan kesalahan bapakku. Aku juga terbebani sebagai korban.

Aku dan Garil saling bertukar cerita, kami sama-sama mengalami kesulitan yang sama termasuk merasakan trauma dan depresi.

Dan terakhir, aku berharap jangan sampai ada korban-korban lain baik dari korban atau pelaku, seperti yang aku alami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here