Sahabatku Orang yang Merebut Suamiku

0
8

Sahabat.
Setiap orang pasti punya sahabat. Sahabat adalah sosok dari luar lingkungan keluarga yang bisa dianggap sebagai saudara walaupun tak sedarah. Lebih dari itu, sahabat adalah orang yang juga sangat bisa kita percaya. Karena bagiku sahabat adalah orang yang siap menolongku saat jatuh dan yang paling aku yakini, sahabat bukanlah orang yang akan tega mengkhianati kita atau bahkan mungkin mengambil sesuatu yang sangat berharga dari kita. Itu adalah definisi sahabat versiku.

Orang-orang memanggilku Nana. Kata mereka aku adalah orang yang sangat ceria dan sangat mudah percaya pada orang lain, istilahnya, tidak pernah berprasangka buruk gitu, aku sudah berkeluarga. Aku punya dua anak yang lucu dan saat ini aku sedang hamil. Aku ingin berbagi cerita tentang persahabatanku.

Namanya Kara. Dia sahabatku, dia sudah kuanggap seperti adik kandungku. Orang-orang yang melihat kami berjalan bersama akan berpikir bahwa kami saudara kandung atau kadang pas aku dan Kara mengenakan pakaian yang sama, kami sering dikira kembar.
Kara adalah orang pertama yang akan kuberitahu semua masalahku dan menjadi orang kedua setelah keluargaku yang keberitahu kabar bahagiaku. Kara selalu mendukungku.

Saat aku ada masalah dia akan mengulurkan tangannya dan akan menjadi orang yang memberikan pelukan hangat saat aku sedang bahagia.

Aku dan Kara pertama kali bertemu saat kami sama-sama sedang ikut kelas marketing. Waktu itu Kara sendirian dan menghampiriku. Dia minta izin duduk di sebelahku. Melihat Kara yang sendirian tentu saja aku kasihan, dia mengajakku berkenalan. Seperti dua orang teman lama yang bertemu, kami ngobrol banyak. Dan sejak saat itu dia menjadi orang yang sangat dekat denganku. setiap ada kelas marketing aku dan Kara akan duduk berdampingan dan keluar kelas bersama-sama.

Aku mengenalkan Kara pada seluruh anggota keluargaku. Dia juga aku kenalkan pada suamiku. Dia menjadi teman berbagi cerita paling asyik yang pernah aku kenal. Dan.. mungkin kalau aku dan dia bertengkar, dan dia mau bongkar semua aibku, maka orang-orang akan tahu semua hal buruk tentangku. Tapi aku percaya Kara tidak akan melakukan itu.

Aku selalu mengajak Kara jalan bertiga denganku dan suamiku. Suamiku juga sangat akrab dengan Kara. Bahkan jika aku ingin pergi berdua dengan suami, suamiku malah menyarankan untuk mengajak Kara, biar rame katanya. Dan aku tidak keberatan, bagiku itu malah bagus. Suamiku masuk dalam circle pertemananku dengan Kara. Dengan begitu suamiku tidak perlu khawatir saat aku hanya pergi berdua dengan Kara.

Orang-orang yang mengenalku sering berkata padaku begini ‘Nana, jangan terlalu percaya sama orang lho. Nanti kecewa’, aku tidak pernah mengindahkan omongan mereka. aku ingin selalu berpikir positif tentang sahabatku.

Orang-orang melihat pernikahanku adalah pernikahan yang keren. Padahal itu karena aku dan suami yang saling bekerja sama menutupi masalah kami. Pernikahanku dan suami tidak semulus yang seperti orang-orang bilang.

Dulu suamiku hanya pengusaha kecil, sebagai seorang istri aku harus bisa mencukup-cukupkan penghasilan yang ia peroleh. Aku selalu mendukungnya dalam keadaan apapun dan aku akan selalu berkata bahwa usaha takkan mengkhianati hasil. Aku selalu bilang begini pada suamiku ‘suatu hari nanti kamu akan jadi pengusaha sukses’, dan harapan itu terkabulkan. Suamiku berhasil menjadi pengusaha sukses yang omsetnya mencapai angka milyaran rupiah.

Kara sahabatku, menurutku dia berhak tahu semua ceritaku. Dan kadang tingkat kekepoan Kara itu sangat parah, jadi daripada aku dirusuhi oleh pertanyaan-pertanyaannya, aku memilih untuk bercerita tentang pernikahanku. Kata Kara begini ‘Kak Nana itu wanita paling inspiratif yang pernah aku temui, jadi aku ingin tahu bagaimana kisah lengkapnya kakak’. Kara pintar mengambil hati orang-orang, termasuk aku.

Aku pun menceritakan kisah jatuh bangunnya usahaku dan suami pada Kara. Seperti biasa, Kara selalu jadi pendengar yang baik. Dia berkata padaku seperti ini ‘Kakak benar-benar perempuan terhebat yang pernah aku temui. Mau mendampingi suami dari nol sampai sukses’, kemudian aku akan mendoakan Kara agar mendapatkan suami seperti suamiku.

Tapi, ternyata aku harus mulai mendengar nasihat dari orang-orang yang mengatakan ‘jangan terlalu percaya nanti kecewa’, kepercayaanku pada Kara mulai luntur.

Suatu malam tanpa aku rencanakan sebelumnya aku membuka-buka facebook suamiku. Setelah bosan melihat-lihat beranda, aku membuka menu pesan. Aku melihat hal yang mengejutkan disana. suamiku sering berkirim pesan dengan Kara. Isi pesan-pesannya sangat mesra. Hatiku hancur berkeping-keping, perasaanku tidak menentu, aku menangis, orang yang aku anggap adik kandungku ternyata malah menusukku dari belakang.

Semua kenanganku bersama semua kebaikan Kara langsung hancur. Dia berkhianat.
Tapi otakku langsung berpikir cepat. Pesan-pesan mesra mereka aku screenshots, lalu aku simpan. Ini benar-benar di luar dugaan. Ternyata Kara tidak hanya dekat denganku, tapi juga dekat dengan suamiku. Atau sebenarnya dia mendekatiku karena dia ingin mendekati suamiku? Jangan-jangan alasan suamiku selalu mengajak Kara bukan karena dia sudah seperti saudara, jangan-jangan karena suamiku jatuh cinta pada Kara? Ya Tuhan…

Ternyata selama ini mereka bermain di belakangku.

Setiap kali membaca chat-chat mesra antara Kara dan suamiku, membuatku geram. Aku bertekad menyelidiki hubungan kedua manusia itu. Dalam keadaan sedang hamil tua, aku berusaha untuk tidak banyak pikiran. Aku harus tetap berkepala dingin. Aku tidak mau hal buruk terjadi pada kandunganku.

Aku me-stalk media sosial Kara, karena kemarin dia posting foto hadiah ulang tahunnya. Saat kutanya siapa pengirimnya, dia cuma bilang, ‘biasalah kak, secret admirer’, dan aku percaya, aku tidak banyak bertanya lagi. Sebenarnya sikap Kara terhadapku kurang terbuka, setiap kali kutanya ia sedang dekat dengan siapa, ia tak pernah menjawabnya, dia selalu tersenyum dan berkata ‘jodoh sudah diatur Allah kak. Kara hanya ingin fokus dengan perbaikan diri Kara’, jangan-jangan secret admirer itu suamiku?

Dan sepertinya Allah memang menunjukkan siapa Kara sebenarnya. Beberapa waktu kemudian aku diberi tahu oleh seseorang dari travel umrah dan haji, jika suamiku dan Kara merayakan ulang tahun kara di Madinah saat keduanya umrah.

Aku berusaha menguatkan hati saat mendengar berita itu. Pernikahanku yang sudah aku jaga 11 tahun, kandas gara-gara sahabatku sendiri. Kenapa harus suamiku sih, Kara? Aku kan sahabatmu!

Tak lama setelah mendengar kabar Kara dan suamiku umrah, aku harus dikejutkan lagi dengan kabar bahwa mereka menikah diam-diam di luar negeri. Ternyata doaku pada Kara tempo hari terkabul, dia tidak hanya mendapatkan suami seperti suamiku, tapi malah mendapatkan suamiku seutuhnya.

Sahabat yang dulu aku kira tak mungkin berkhianat padaku, ternyata malah tega merebut suamiku.

Aku sudah memutuskan, aku akan meminta cerai pada suamiku. Jadi untuk apa aku bertahan. Suamiku lupa diri dan melupakan siapa orang yang menemaninya dulu saat dia masih berada di titik terendah.

Karena terlalu sakit hati, aku me-share foto suami dan Kara di media sosialku. Kukatakan pada warga dunia maya, bahwa orang yang sudah kuanggap seperti adik sendiri ternyata tega mengambil suamiku. Reaksi para warganet lumayan menghiburku, ada yang menghujat Kara sebagai orang yang tidak tahu diri ada juga yang memberikan kata-kata penghiburan untukku.

Ini adalah kehilangan paling buruk yang pernah aku alami. Aku kehilangan seseorang karena orang itu direbut oleh orang terdekatku. Sampai kapan pun ini akan selalu membekas. Pesanku padamu yang sudah mendengar cerita ini, jangan terlalu percaya pada siapa pun, sepertiku, nanti nasibmu bisa sama denganku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here