Rahasia Dua Belas Putri

0
27

Rahasia Dua Belas Putri

Di sebuah kerajaan ada seorang raja yang hidup bersama dengan dua belas orang puterinya. Kedua belas puterinya sangat cantik.

Namun, ada satu hal yang sangat meresahkan sang raja. Kedua belas puterinya yang sudah menjadi gadis dewasa itu selalu menghilang ketika tengah malam. Dan raja tidak pernah tahu kemana puteri-puterinya pergi. Ditambah lagi dengan fakta bahwa setiap hari para puterinya selalu membeli sepatu baru. Sepatu mereka selalu ditemukan dalam keadaan berlubang saat pagi hari. Dan ketika ditanya oleh sang raja, kedua belas puteri itu tidak ada yang mau menjawab. Sang raja sangat khawatir, dia sudah sangat tua. Sedang puteri tertuanya bahkan belum memiliki calon suami yang kelak menggantikan sang raja.

Karena sang raja pun akhirnya memutuskan membuat sayembara. Dia membuat sayembara bahwa jika ada seorang pemuda yang dapat menemukan tempat rahasia kemana para puterinya pergi ketika tengah malam, maka dia akan menikahkan salah seorang puterinya dan akan memberikan tahta kerajaan kepada pemuda tersebut. Namun, jika gagal maka peserta sayembara akan dibunuh.

Kabar tentang sayembara tersebut membuat banyak pangeran penasaran sekaligus tertantang.

pangeran pertama mengajukan diri. Sang raja cukup senang. Lalu dia mulai menjelaskan peraturan.

“Wahai pangeran waktumu hanya tiga hari. Jika dalam tiga hari kau gagal, maka kau akan dihukum mati,” jelas sang raja.

Sang pangeran tak kenal gentar. Dia menyanggupi aturan tersebut.

Sang pangeran diberi kamar yang bersebelahan dengan ruangan kedua belas puteri. Ruangan itu sangat strategis untuk memantau kegiatan para puteri kerajaan.

Tibalah waktu malam, dua puteri tertua mendatangi pangeran peserta sayembara. Mereka memberikan segelas anggur yang langsung ditenggak habis oleh pangeran. Tak perlu menunggu waktu lama, sang pangeran langsung jatuh tertidur. Kedua puteri itu tertawa puas dan ber-tos ria kemudian pergi ke ruangan mereka.

Setelah tiga hari berlalu pangeran itu kembali menghadap raja dan bersedia dihukum karena telah gagal.

Begitu yang terjadi seterusnya. Setiap pangeran yang datang mnegikuti sayembara berujung dihukum mati. Karena mereka gagal mengetahui rahasia para puteri tersebut. Mereka mengalami kejadian yang sama dengan pangeran yang pertama mengikuti sayembara.

Namun, jauh di pelosok hutan ada seorang pemuda penjual sepatu yang merasa bahwa dia sangat tertantang dengan sayembara yang diadakan raja. Dia selalu menjual sepatu pada para puteri kerajaan. Namun, dia juga sangat penasaran bagaimana mungkin sepatu-sepatu itu selalu cepat berlubang. Dia memutuskan mengikuti sayembara karena dia hanya ingin tahu bagaimana sepatu-sepatu yang dipakai para puteri cantik itu cepat berlubang. Hal tersebut membuat dia harus selalu membuat sepatu dengan ukuran yang sama tiap malam.

Pada hari keberangkatan menuju istana ia bertemu dengan seorang wanita tua. Wanita tua itu tidak mengenakan sepatu dan tiba-tiba barang bawaanya terjatuh. Pemuda penjual sepatu itu memberikan sepatu untuk wanita tua itu dan merapikan barang bawaan si wanita tua. Wanita tua itu bertanya pada pemuda itu, kemana ia akan pergi. Setelah pemuda itu mengatakan bahwa ia akan ke kerajaan untuk mengikuti sayembara, wnaita tua itu menghadiahi dia jubah menghilang dan mengingatkan bahwa si pemuda jangan mau meminum anggur pemberian para puteri kerjaan itu. Pemuda itu mengangguk senang dengan hadiah dan peringatan wanita tua itu.

Setibanya ia di istana, pemuda itu juga diperlakukan sama seperti para pangeran-pangeran sebelumnya. Ia mendapatkan ruangan sebelah para puteri. Dan seperti pangeran sebelumnya ia diberi segelas anggur oleh puteri kerajaan. Kali ini yang memberikan anggur itu adalah puteri termuda.

Pemuda itu meminum anggur pemberian sang puteri. Dia sudah menyiapkan spon dalam mulutnya untuk menyerap anggur tersebut. Pemuda itu berpura-pura jatuh tertidur. Saat itu pula puteri termuda segera memberi tahu saudara-saudaranya. Mereka segera bergegas menuju ruangan mereka.

Dengan gerakan cepat pemuda itu mengenakan jubah menghilang dan segera mengikuti kedua belas puteri tersebut.

Ketika puteri tertua selesai mengetukkan tangannya di sebuah tempat tidur, tiba-tiba tempat tidur itu membuka berubah menjadi jalan menuju sebuah ruangan.

Pemuda itu bergerak cepat dan segera membuntuti para puteri. Puteri termuda yang berjalan paling belakang merasa takut, karena dia merasa ada yang mengikuti mereka. Ketika dia mengeluhkan ketakutannya, saudari-saudarinya mengatakan bahwa dia hanya berhalusinasi.

Setelah melewati tangga, mereka tiba disebuah ruangan yang penuh dengan tanaman emas. Pemuda itu memetik selembar daun emas. Namun saat dia memetik daun emas itu, suara bergemuruh terdengar. Hal tersebut membuat puteri termuda terkejut. Dia segera mengatakan pada kakaknya yang tertua. Lagi-lagi kakaknya berkata bahwa puteri termuda hanya berhalusinasi.

Tiba di ruangan berikutnya mereka masuk dalam ruangan dengan tanaman perak. Pemuda itu memetik buah berwarna perak dan kembali suara bergemuruh terdengar. Puteri termuda sudah tidak lagi memedulikan suara-suara itu walaupun sebenarnya ia sangat takut.

Berlanjut ke ruangan berikutnya, mereka memasuki ruangan yang penuh dengan permata dan berlian. Pemuda itu mengambil satu batu permata dan menyimpannya. Suara bergemuruh terdengar lagi.

Sesudah melewati ruang permata, mereka sampai pada sebuah danau yang sangat indah. Disana tersedia dua belas perahu. Di dua belas perahu itu masing-masing ada seorang pangeran yang menunggu. Kedua belas puteri segera menaiki perahu. Pemuda itu segera ikut naik dalam perahu puteri termuda.

Sang pangeran yang mendayung perahu puteri termuda merasa perahunya sangat berat.

Setelah sampai mereka berada dalam ruangan yang sangat luas dengan banyak alat musik yang bisa berbunyi sendiri. Alat musik mengalun indah dan kedua belas puteri itu segera menari tanpa henti hingga pagi.

Pukul tiga pagi semua puteri berhenti dan tersenyum puas. Mereka berjalan sangat cepat agar segera sampai ke kamar mereka.

Pemuda itu cepat-cepat naik perahu, kali ini dia memilih perahu puteri tertua.

Setelah tiga hari pemuda itu menghadap sang raja dan memberikan bukti bahwa para puteri pergi ke sebuah kerajaan dimana mereka menghabiskan waktu untuk menari. Pemuda itu mengatakan bahwa kerajaan bawah tanah itu sangat indah berhiaskan emas, perak dan permata. Sang raja memanggil kedua belas puterinya, memastikan bahwa semua yang diucapkan pemuda penjual sepatu itu benar.

Kedua belas puteri sangat tercengang. Mereka mengangguk lesu pada ayah mereka. Rahasia mereka telah terbongkar. Kesenangan mereka diketahui ayah mereka. Maka kini mereka sudah pasrah menerima keputusan ayah mereka.

“Kau boleh memilih salah satu puteriku, wahai pemuda penjual sepatu,” kata sang Raja.
“Aku tak mungkin memilih yang termuda, maka aku akan memilih puteri tertua,” kata pemuda itu

Puteri tertua tersipu malu. Pemuda itu memang sudah menyukai puteri tertua saat melihat puteri tertua menari di istana kerajaan bawah tanah.

Sang raja juga sudah menobatkan pemuda itu sebagai raja yang baru.

Pada hari itu juga, pernikahan sang puteri tertua dan pemuda penjual sepatu dilangsungkan dengan meriah. Akhirnya mereka berdua dan seisi kerajaan bahagia selamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here