Philippe Coutinho: Dia yang Mampu Lepas dari Bayang-Bayang Kegagalan

0
105

Sepak bola modern seringkali jadi arena yang rumit, sebuah tempat yang kadang membuat pemain bertalenta gagal menyuguhkan yang terbaik dari mereka. Ada perbedaan tipis antara “calon bintang” dan “bintang sesungguhnya”, yang disebabkan oleh ketidaksabaran manajemen klub dan penggemar. Para pemain dituntut membarikan dampak yang instan, jadi ketika ia tidak mampu memanfaatkan kesempatan, pemain tersebut amat mungkin dibuang oleh klub.

Salah satu pemain yang mampu lepas dari bayang-bayang kegagalan demikian ialah Philippe Coutinho.

Pemain kelahiran 12 Juni 1992 tersebut tumbuh di Distrik Rocha, Rio de Janeiro, tempat di mana ia mempelajari mengolah kulit bundar dalam ruang sempit. Benar, Coutinho terlebih dulu mencicipi olahraga futsal sebelum pindah ke lapangan besar.

Dia bermain futsal sejak usia enam tahun. Setahun setelahya, pemandu bakat dari Vasco da Gama membawanya. Pada usia 11 tahun ia baru berlatih sebagai pesepak bola. Kecepatan tekniknya yang kini jadi andalan ia dapat dari pengalaman hidup di lapangan futsal. Video Coutinho muda yang menggocek bola futsal, masih dengan rambut ikalnya, dapat ditonton di Youtube.

Selama tumbuh di akademi Vasco da Gama, ia sering dihubung-hubungkan dengan calon bintang Brasil lainnya, Neymar. Coutinho mengalahkan Neymar dalam Piala Brasil u-17 pada 2008, dengan Coutinho memperkuat Vasco dan Neymar membela Santos.

Sewaktu berusia 18 tahun, ia dibeli oleh Inter Milan, yang saat itu berstatus juara Liga Champions. Enam bulan pertamanya di Inter, banyak pujian ia tuai. Pelatih Rafael Benitez bahkan melabelinya “masa depan Inter”. Sayangnya, enam bulan itu pula usia Rafa di Inter. Begitu Rafa dipecat, Coutinho tak lagi mampu menembus tim utama.

Untungnya, ia sempat bersinar dalam masa peminjaman di paruh akhir 2011/12 di Espanyol di bawah bimbingan Mauricio Pochettino. Pengalamannya jadi starter di Liga Spanyol kemudian mampu menjadikannya pilihan utama di Inter musim berikutnya.

Entah mengapa, Inter menjualnya ke Liverpool pada Januari 2013. Hanya dengan harga 8 juta poundsterling. Fan meradang karena calon bintangnya dijual terlalu dini, bahkan terlalu murah.

Kehilangan bagi Inter berarti anugerah bagi Liverpool. Di Anfield, kreativitas Coutinho langsung mendapat tempat. Berkat adanya Luis Suarez dan Daniel Sturridge, dia mendapat rekan yang mampu ia sokong dengan gaya. Liverpool asuhan Brendan Rodgers kemudian hampir memenangi Liga Inggris musim 2013/14, musim penuh pertama Coutinho di Inggris.

Seiring dengan penjualan Suarez ke Barcelona, bersamaan dengan penurunan performa Sturridge, beserta kesuraman Liverpool di bulan-bulan terakhir Rodgers, Coutinho juga mengalami masa-masa susah. Coutinho yang tadinya hanya menjadi penyedia kreativitas, kini ia juga harus menjadi penyelesai serangan.

Kedatangan Jurgen Klopp membuatnya lebih baik. Dia lebih konsisten mencipta keajaiban di lini tengah. Terlebih fantasinya didukung oleh keberadaan Roberto Firmino dan Sadio Mane. Kedua pemain membuat beban Coutinho sebagai penggerak serangan Liverpool menjadi lebih ringan.

Bagaimanapun, pemain terbaik selalu dikelilingi isu pindah ke klub terbaik. Neymar dan Ronaldinho sudah berkata, Barcelona selalu membutuhkan pemain terbaik, dan Coutinho punya segala yang dibutuhkan untuk kompetitif dengan standar tinggi El Barca.

Bersamaan dengan menuanya Andres Iniesta, Coutinho direkrut Barcelona pada Januari 2018 dengan harga lebih mahal daripada Luis Suarez dan Raheem Sterling, dua pendahulunya di Liverpool.

Begitu Iniesta hengkang pada akhir musim, giliran Coutinho yang akan mengisi lini tengah Camp Nou. Mulai musim ini, ia akan melegenda di Barca…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here