Pengemis Sukses ! Penghasilan 9 Juta Per Bulan

0
113
http://bio.or.id

Cak To adalah seorang pengemis, dimana dia pun berasal dari keluarga pengemis, berkaris menjadi pengemis dan sekarang menjadi bos untuk seluruh pengemis di Surabaya. Dulu dia adalah seseorang yang sering meminta-minta, namun sekarang Cak To sudah mempunyai sepeda motor, sebuah mobil yang cukup gagah dan empat rumah bagus.

Cak To tidak pernah mau nama aslinya di ketahui oleh oran-orang. Maka dari itu dia pun tidak mau wajahnya terlihat pada saat di foto di harian ini yang akan di terbitkan. Akan tetapi Cak To mau berbagi dengan segala pengalamannya selama ia hidup menjadi pengemis dan bisa menjadi bos seperti sekarang ini. Cak To merupakan anak pasangan dari pengemis yang ikut mengemis sampai sekarang ini dan ia pun sekarang sudah menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis yang berada di kota Surabaya.

Setelah ia melakukan kegiatan selama puluhan tahun dengan mengemis, Cak To saat ini pun sudah bisa menikmati hidupnya. Sejak 2000, Cak To sudah tidak memerlukan lagi profesinya mengemis dengan meminta-minta di jalanan atau perumahan untuk dia mencari pendapatanya setiap hari. Saat ini Cak To cukup mengelola 54 anak buahnya yang sudah dia asuh selama ini dan saat ini pun uang mengalir teratur ke dalam kantongnya.

Sekarang ini, setiap hari, Cak To menceritakan bahwa dirinya mempunyai pemasukkan bersih dua ratus ribu sampai tiga ratus ribu. Pendapatan bersih itu pun sudah bersi ia kantongin dan apabila di jumlahkan dalam sebulan, maka pendapatan Cak To dalam sebulan yaitu enam juta rupiah sampai Sembilan juta rupiah.

Dan apabila kita mingintip tentang kekayaan Cak To sekarang ini, Cak To sudah memiliki rumah yang berada di kawasan Surabaya barat, dimana rumah tersebut didirikan di atas tanah seluas empat ratus meter persegi. Dan jika kita lihat lagi di kampung halaman tempat Cak To di Madura, Cak To sudah mendirikan dua rumah lagi. Rumah tersebut dia bangun satu rumah untuk dirinya dan yang satu rumah lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah berumur senja. Selain itu, ada pula satu rumah lagi yang akan dia bangun di kota semarang.

Namun jika di ketahui Cak To pada saat berpergian, dia pun mempunyai sepeda motor Honda supra fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran tahun 2004. Akan tetapi kenyataannya tidaklah mudah untuk menemui seorang bos pengemis. Pada saat ia akan menemui wartawan harian pada hari ini di tempat yang sudah di janjikan, Cak To pun datang dengan mobil CR-V nya yang berwarna biru metalik.

Walaupun mobil yang di tumpanginya kinclong, akan tetapi ternyata penampilan Cak To tetap seperti orang yang tidak memiliki uang saja. Bentuk badanya yang kurus, kulitnya yang hitam dengan rambutnya yang berombak dan terlihat awut-awutan. Dengan gaya bicaranya sudah pasti orang pun akan menebak jika pria ini kelahiran tahun 1960 ini memang kurang mengenyam bangku pendidikan yang cukup. Cak To memang tidak pernah menamatkan bangku sekolah dasarnya.

Dengan logat bahasa Madura yang sesekali di campur dengan bahasa Indonesia, pria yang sudah memiliki anak dua ini mengakui bahwa profesinya ini akan selalu dicibir orang. Akan tetapi, pria yang berasal dari bangkalan tersebut tidak meperdulikannya karena yang penting halal. Cak To bercerita bahwa hampir semua hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Anak sulung di antara empat bersaudara ini menjalani dunia tersebut sejak sebelum usianya menginjak sepuluh tahun.

Menurut dirinya tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30 S/PKI dirinya sudah mengemis. Wajar saja, emak dan bapaknya dulu nya juga pengemis di bangkalan. Dan pada awal dia di ajak emaknya untuk meminta-minta di perempatan, dia pun mengemis di bangkalan akan tetapi kurang menjanjika pada awal tahun 1970-an. Cak To pun di ajak orang tuanya pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut denganya dan di titipkan di rumah neneknya yang berada di sekitar bangkalan.

Mereka pun tinggal di emperan sebuah toko di kawasan jembatan merah, bertahun-tahun mereka menjadi pengemis di Surabaya. Pada saat remaja Cak To menjadi bos pengemis sudah mulai terlihat. Waktu itu uang yang mereka dapatkan dari mengemis sering di ambil preman. Orang tua nya sudah mulai sakit-sakitan. Akan tetapi Cak To berani untuk mempertahankan pendapatannya dan ia pun semakin banyak memiliki anak buah karena dia pun tidak memasang target pada anak buah nya untuk setor padanya. Dan ia pun hanya meminta setoran secara sukarela. Namun karena kebaikannya itulah maka dari itu anak buahnya loyal dengan nya dan dia tidak pernah mendapatkan setoran baik itu seminggu sekali atau pun sebulan sekali. Menurutnya profesinya memang dicibir tapi menurutnya tetap lebih baik daripada mencuri uang rakyat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here