Para Peri Dan Pembuat Sepatu

0
22
catsoffice.wordpress.com

Pada jaman dahulu kala hidup lah seorang pembuat sepatu yang begitu miskin. Dia sangat pekerja keras di setiap harinya, namun uang yang di perolehnya tidaklah cukup untuk membuat nya kaya. Pada suatu ketika dia hanya mempunyai uang untuk membeli selembar kulit untuk membuat sepasang sepatu. Ia pun mulai bekerja dan memotong kulit itu. Dia menyiapkan pola sepasang sepatu yang akan di selesaikannya di esok hari nya. Malam itu dia dan istrinya tidur terlelap. Keesokan harinya ketika menuju meja kerjanya betapa terkejutnya dia ketika mendapati sepatu sudah berdiri dengan indah di atas mejanya. Dia memeriksa sepasang sepatu itu dengan teliti. Dia tidak menemui satu kesalahan pun pada sepatu itu.

Bahkan sepatu itu terlihat lebih rapi daripada buatan tangan nya yang biasa. Ketika pelanggan yang datang dan mencoba sepatu itu, si pelangga begitu tampak sangat puas dan senang. Pelanggan mengatakan jika ukuran sepatu ini sangat cocok untu aku. Sepatu ini juga sangat di pakai. Bagus sekali pekerjaan mu, ucap si pelanggan. Karena merasa sangat puas maka dia pun tidak segan-segan untuk membayar lebih pada si pembuat sepatu. Uang yang di dapatnya hari itu cukup untuk membeli kulit untuk membuat dua pasang sepatu. Maka seperti biasa, si pembuat sepatu memotong kulit itu dan menyiapkan potongan-potongan untuk membuat dua pasang sepatu yang akan di selesaikan nya esok hari nya. Lalu apa yang terjadi kemudian?

Esok hari nya lagi-lagi si pembuat sepatu mendapati dua pasang sepatu yang berjajar rapi di atas meja kerjanya. Dan para pelanggan nya yang mulai datang pada hari itu juga sangat puas dengan sepatu buatan si pembuat sepatu. Mereka pun membayar lebih pada si pembuat sepatu. Uang yang di dapatkan hari itu cukup banyak untuk membeli beberapa lembar kulit untuk membuat empat pasang sepatu. Si pembuat sepatu pun dengan bersemangat memotong lembaran-lembaran kulit itu. Dimana si pembuat sepatu menyiapkan potongan-potongan untuk empat pasang sepatu.

Seperti hari-hari sebelumnya di esok harinya dia mendapati empat pasang sepatu berjajar rapi di atas meja kerja nya. Empat pasang sepatu itu pun terjual dengan harga yang sangat tinggi hingga si pembuat sepatu dapat membeli berlembar-lembar kulit sepatu. Kejadian itu berlangsung terus-menerus selama beberapa waktu hingga akhirnya si pembuat sepatu pun mulai menjadi orang yang kaya. Namun suatu malam di musim dingin, sang istri pembuat sepatu mengatakan pada sang suami nya. Istri pun berkata “ suamiku kita harus berterima kasih pada yang telah membantu kita membuat sepatu-sepatu itu selama ini”. Malam ini bagaimana jika kita lihat siapa sebenernya yang mengerjakan sepatu-sepatu itu? sang istri pun mengajak si pembuat sepatu.

Si pembuat sepatu pun setuju dengan usul istrinya. Maka malam itu setelah menyiapkan potongan-potongan kulit untuk membuat beberapa pasang sepatu. Si pembuat sepatu dan istrinya bersembunyi di balik tirai dan menunggu apa yang akan terjadi. Saat malam hari tiba, dan muncul beberapa peri kecil dari jendela. Peri-peri itu segera menuju meja kerja si pembuat sepatu dan memulai pekerjaan mereka dengan gembira. Para peri kecil itu menjahit dan memoles sepatu yang sangat bagus. Dan setelah mereka selesai bekerja mereka pun melesat secepet kilat keluar lewat jendela. Pagi hari nya sang istri si pembuat sepatu pun mengatakan lagi pada suaminya. Ternyata peri-peri kecil kecil itulah yang telah membantu kita selama ini. Kita harus membalas kebaikan hati mereka. Aku akan membuat kan mereka baju-baju kecil, mantel kecil dan syal kecil agar mereka tidak kedinginan. Sang istri mengatakan sebaiknya kita membuatkan sepasang sepatu untuk masing-masing peri kecil itu, ucap sang istri.

Ide yang bagus istriku, ucap sang suami pembuat sepatu itu. Sang suami mengatakan benar kata-kata mu, mereka telah banyak membantu kita hingga kita menjadi sekaya ini. Kita harus membalas semua kebaikan hati mereka, ucap si pembuat sepatu. Maka si pembuat sepatu dan istri nya pun mulai bekerja dan mereka meletakan hadiah-hadiah mereka pada peri-peri kecil diatas meja kerjanya. Malam itu si pembuat sepatu dan istrinya kembali bersembunyi di balik tirai, mereka menunggu datang nya peri kecil itu. Dan ketika tengah malam datang, peri-peri kecil pun bermunculan masuk dari jendela. Tidak seperti biasa nya mereka tidak mendapati potongan-potongan kulit untuk membuat sepatu, namun mereka mendapat hadiah-hadiah berupa baju kecil dan sepatu kecil untuk mereka. Dengan segera peri-peri itu segera memakai baju, mantel, syal dan sepatu itu dan berlarian kesana kemari dengan gembira. Setelah itu mereka pun melesat secepat kilat keluar dari jendela dan menghilang dari hadapan si pembuat sepatu dan istrinya. Sejak saat itu peri-peri kecil itu tidak datang lagi. Akan tetapi si pembuat sepatu tetap rajin bekerja dan mereka tetap bersyukur bahwa peri-peri kecil itu pernah membantu mereka, bahkan membuat mereka kaya. Dan mereka hidup dengan berkelimpahan harta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here