Panglima Kerajaan dan Kakek Tua Penjual Minyak

0
119
Source : http://www.manchuarchery.org

Pada zaman dahulu kala di dataran Tiongkok, hiduplah seorang panglima kerajaan yang namanya sangat terkenal di kalangan masyarakat. Semuanya itu terjadi berkat adanya keahlian spesial yang ia miliki dalam bidang memanah. Mereka menganggap bahwa keahlian sang panglima dalam memanah benar-benar tiada tandingannya.

Karena berbagai pujian muncul dari semua kalangan, panglima ini menjadi begitu bangga sehingga ia memutuskan untuk mempertunjukkan sesuatu di hadapan semua orang sebagai bukti bahwa dialah salah satu pemanah terhebat di Tiongkok.

Ia menyuruh para bawahan untuk mempersiapkan segala sesuatu. Mulai dari panah sebanyak 100 buah hingga sampai kepada papan sasaran. Setelah semuanya lengkap, panglima mengundang seluruh rakyat pada hari yang di tentukan lalu masuk ke dalam lapangan pertunjukan dengan penuh percaya diri.

Sang panglima berjalan ke tempat di mana alat panah berada. Sambil di perhatikan oleh rakyat yang penasaran tentang kemampuannya, ia mengambil busur serta anak panah. Kemudian, ia menariknya lalu melepaskan tembakannya ke papan sasaran.

Tembakan pertama mengenai sasaran dengan ketepatan penuh. Begitu juga selanjutnya. Panglima kerajaan terus menembakkan panah ke arah papan hingga semuanya habis tak tersisa. Sekalipun angin kencang sempat datang, masyarakat kagum akan kemampuannya yang terlihat bak seorang dewa.

Dengan senyum riang, panglima bertanya kepada rakyat mengenai pendapat mereka akan aksi yang baru saja ia lakukan. Ada yang bersorak-sorai. Ada yang bertepuk tangan. Ada juga yang mengeluarkan kata-kata pujian sebagai bukti bahwa mereka bangga mempunyai panglima seperti dirinya.

Panglima kerajaan pun merasa senang. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat yang sudah mendukungnya. Akan tetapi, di antara kumpulan tersebut, ada seorang kakek tua penjual minyak yang tiba-tiba berkata dengan lantang bahwa panglima memang hebat namun semua kehebatan yang di perolehnya itu berasal dari kebiasaan yang terus di ulang.

Mendengar perkataan dari sang penjual minyak, panglima beserta segenap rakyat terkejut bukan main. Mereka menatap kakek tua itu sambil bertanya-tanya apa maksud dari perkataannya yang berani. Singkat cerita, ketika melihat reaksi yang penuh dengan kebingungan itu, penjual minyak meminta mereka untuk menunggu karena ia ingin mengambil sebuah botol dan koin berlubang.

Sesudah mengambilnya, ia meletakkan koin dengan lubang tersebut di atas mulut botol. Lalu, dengan yakin ia mengambil gayung yang berisi minyak sepenuhnya dan menuangkannya tepat di atas lubang koin. Seketika, minyak yang turun dari gayung pun mengisi botol yang kosong. Tidak ada percikan apapun yang tumpah ke permukaan koin berlubang yang kecil itu.

Sontak masyarakat beserta panglima terdiam untuk sesaat. Setelahnya, mereka bersorak dan memberikan pujian kepada sang penjual minyak yang sudah lanjut umurnya. Meskipun mendapat pujian, dengan rendah hati kakek tua itu membungkuk di hadapan mereka dan berkata bahwa apa yang ia lakukan bukanlah apa-apa melainkan hanya sebuah kebiasaan yang di latih setiap hari sehingga menimbulkan kekuatan dalam diri.

Sejak saat itu, seluruh masyarakat beserta panglima berusaha untuk meneladani tingkah laku kakek tua penjual minyak yang begitu rendah hati terhadap kemampuan yang ia peroleh. Mereka tidak lagi saling menyombongkan diri dan memandang sesuatu dengan remeh melainkan saling menghargai satu sama lain.

Demikianlah kisah dari seorang panglima di sebuah kerajaan beserta dengan salah satu rakyat yang berprofesi sebagai penjual minyak. Kisah mereka dapat mengajarkan kepada kita keteguhan, kegigihan dan kepercayaan diri. Untuk itu, semoga cerita ini turut memberikan manfaat bagi kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here