Pacarannya Sama Aku, Nikahnya Sama Kakakku

0
45

Punya kakak perempuan itu asyik dan seru. Enak diajak curhat dan asyik diajak ghibah. Nggak akan ngeluh pas diajak jalan ke mall, nggak protes saat harus muter-muter nyari barang, nggak bosen pas ditanya ‘ini pas nggak kak di badanku?’ atau ‘warna yang cocok mana kak?’ bisa juga ‘kak menurutmu merk yang bagus yang mana?’. Pokoknya seru banget menurutku.

Punya kakak perempuan yang selisih umurnya nggak jauh dari kita itu juga menyenangkan, aku dan kakakku nggak perlu malu curhat masalah percintaan, aku dan kakakku juga bisa bertukar baju kapan saja kami mau.

Selera kami juga sama, hampir di semua aspek.

Kakak perempuanku adalah kakak terbaik yang pernah aku punya, dia selalu jadi pendengar setia saat hubunganku dan abang pacar bermasalah. Saat aku sedang galau, dia selalu dengan kebaikan hatinya, akan membelikan aku banyak cemilan dan berbungkus-bungkus es krim, kata dia, biar semangat lagi.

Selain punya kakak perempuan yang keren, aku juga punya pacar yang ganteng dan baik hati. Hubunganku dan pacarku belum sampai pada tahap serius, kenapa? Karena kakakku masih sendiri, dia belum menunjukkan tanda-tanda akan melepas masa lajangnya, dan pihak keluarga masih mempercayai bahwa amat sangat pamali seorang anak sulung perempuan ‘dilangkahi’ adiknya. Aku selalu mengatakan pada pacarku untuk bersabar.

Akan ada masanya kok aku kenalin kamu ke keluargaku’, itu adalah kalimat yang selalu aku ucapkan pada pacarku. Dan pacarku akan menyahut seperti ini ‘Kan cuma ngenalin aja sayang, kita kan nggak cepet-cepet’, aduh andai saja pacarku tahu bahwa aku sedang menjaga perasaan kakakku, aku takut nanti saat aku mengenalkan pacarku pada keluargaku, mama dan papa akan menekan kakakku, dan aku nggak tega melihat wajah kakakku yang berubah murung. Jadi kesimpulannya, jika aku mengenalkan pacarku pada keluargaku sama saja aku menciptakan rasa tidak nyaman di hati kakakku, dan aku nggak mau melakukan itu.

Tapi, ternyata yang aku takutkan terlalu berlebihan. Ternyata kakakku nggak apa-apa kalau aku mau mulai mengenalkan pacarku pada mama dan papa. Mama dan papa juga setuju dengan pendapat kakakku, kata kakakku begini ‘Nggak apa-apa dek, kenalin ke sini aja. kasian kan, dianya udah takut kamu nggak serius gitu’, duuuhhh, kakakku bijak banget sih…

Serius nih? Aku kenalin pacarku?

Dan hari itu pun tiba, aku mengajak pacarku ke rumah, aku mengenalkan pada mama dan papa. Dan terutama pada pendengar setiaku, kakak perempuan tersayangku.

Kakakku menatap pacarku cukup lama, tapi aku tidak curiga, karena kata kakakku dulu dia memang punya kebiasaan menatap orang baru cukup lama karena sedang melakukan penilaian dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Cakep, begitu kata kakakku. Aku bangga banget dengar pujian seperti itu dari mulut kakakku.

Sejak acara perkenalan pacarku pada keluargaku, kami berdua mulai terbuka. Pacarku rajin berkunjung setiap malam minggu, kami tidak hanya menghabiskan waktu berdua, tapi bertiga. Yap, bertiga, aku, pacarku, dan kakakku. Kami selalu menghabiskan malam minggu bersama. Dan kalau malam minggu pacarku nggak datang, kakakku akan mencecarku dengan banyak pertanyaan. Terus kalau kakakku nggak ikut bergabung denganku dan pacarku, pacarku akan menanyai aku. Aku senang hubungan ini, pacarku bisa berbaur dengan keluargaku, begitu juga kakakku.

Tapi ternyata ada kisah tersembunyi di balik keakraban pacarku dan kakakku.

Awalnya, aku tidak ingin curiga. Tapi lama-lama terasa aneh. Bukannya aku cemburu atau apa, tapi mereka benar-benar aneh. Masak, sekarang kakakku kalau mau kemana-mana harus minta ditemani pacarku, dan pacarku juga akan selalu mengajak kakakku saat aku hanya ingin pergi berdua dengannya.

Tapi aku mencoba untuk nggak mikir macam-macam.

Dan sekarang kakakku agak tertutup denganku. waktu itu ‘kan nggak sengaja aku lewat depan kamar kakakku, aku dengar kakakku ketawa terus, kukira kakakku kesurupan, aku mencoba masuk ke kamarnya. Kamarnya dikunci. Aduh, aku auto panik kan. Tapi, pas ketawanya reda dia kayak ngobrol normal, dan aku sadar, kakakku ngobrol dengan temannya di telpon. Tapi, kakakku jarang telponan sampai berjam-jam, kakakku hanya telponan kalau urusan itu dirasa sangat penting untuknya.

Saat kami hanya berdua, aku berinisiatif nanya, “Kak, kamu udah punya pacar ya?”, dilihat dari ekspresi melompong kakakku itu aku tahu jawabannya, tapi nggak mikir macam-macam, jadi aku godain kakakku habis-habisan.

“Ciyee… ciyee… ciyee…” aku meledek kakakku, kakakku salah tingkah. Duh, kakak sayang kenapa harus malu sih? Aku ikut seneng kok!

Tapi, perasaanku berubah seketika saat keesokan harinya aku melihat kakakku jalan berdua dengan pacarku. Mungkin kalau jalan mereka nggak ada acara rangkulan dan mesra-mesraan, aku nggak apa-apa. Tapi, yang aku lihat mereka mesraaaa banget, mirip orang baru pacaran.

Sumpah! Hatiku hancur banget. Aku nggak peduli dengan kebrengsekan pacarku, tapi yang membuat hatiku sakit banget itu adalah kakak perempuanku. Kenapa dia tega? Aku adiknya, apa nggak ada laki-laki lain yang bisa dia pacari? Dan siapa yang memulai hubungan itu? Banyak pertanyaan bermunculan dalam otakku.

Di rumah aku nangis sejadi-jadinya, ya Tuhan… apa salahku pada kakakku?
Saat kakakku sudah sampai di rumah, aku sudah tak bisa menahan diri. Aku menghampirinya.

“Dari mana?” tanyaku penuh emosi.
“Shoping”, kakakku menjawab dengan santai, aku jadi gemas sendiri.
“Sama siapa?”
“Bukan urusanmu”, setelah menjawab seperti itu dia pergi ke kamarnya.

Duh, aku jadi merasa hidupku mirip drama, tapi ini memang nyata. Aku menyusul kakakku, kutampar pipinya.

“Kamu kakak paling jahat yang pernah aku temui!” teriakku.

Dia diam lalu setelah beberapa menit berkata, “Jadi kamu sudah tahu hubunganku dan pacarmu? Baguslah, sekalian aku mau bilang, lebih baik kamu putusin aja pacarmu. Karena dia juga punya perasaan padaku.”

Dia bukan hanya kakak terjahat, tapi juga kakak paling nggak punya perasaan yang pernah aku kenal. Aku kehilangan kakak perempuanku, rasa percayaku pada kakakku hilang seketika. Aku terlalu kecewa. Dia adalah orang yang paling aku percaya, semua orang tahu itu.

Singkat cerita, nggak perlu aku ceritain kan semua resah galau jiwaku? Baiklah, singkat cerita, aku putus dengan pacarku. Pas aku putusin, aseli ya, dia biasa aja, nggak ada perasaan nggak enak atau bersalah. Dia malah bilang ‘yaudah, kalau itu keputusanmu’, rasa kecewaku jelas makin menjadi-jadi melihat reaksi dia yang begitu santai.

Setelah sukses menghancurkan perasaanku, dia datang melamar kakakku. Dan tentu saja, dengan segenap hati yang bahagia kakakku menerima lamaran itu.

Acara pernikahan mereka akan digelar setelah satu minggu lamaran. Aku nggak tahu pasti sejak kapan mereka dekat dan merencanakan pernikahan mereka dariku, tapi ini adalah surprise terburuk yang pernah aku terima.

Tapi, sudah aku putuskan aku tidak akan datang ke pesta itu. Untuk apa? Aku nggak mau meyakiti diri sendiri.

Mama dan papa menasihatiku untuk merelakan pernikahan mereka dan sebagai adik aku harus mau menghadirinya.

Kata mama, ‘yang berlalu biarlah berlalu dek’, tentu saja aku jawab dengan lembut, ‘Nggak bisa ma, pernikahan itu perayaan bahagia, dan aku nggak bahagia dengan pernikahan mereka.’

Aku sama sekali nggak tertarik dengan pernikahan mereka. Bahkan aku sudah berencana untuk pergi dari rumah, bukan minggat, aku mungkin akan nge-kost. Karena mentalku akan merasa lebih baik saat jauh dari mereka.

Setahun kemudian, aku dikabari mama kalau kakakku akan punya bayi. Siapa yang peduli? Tentu saja itu hanya jeritan hati, aku nggak berani kasar pada mamaku. Dan seperti biasa mama memberiku nasihat ‘Dek, kamu bakal punya keponakan lho. Keponakanmu butuh kasih sayang dari tantenya’, dan aku akan jawab ‘Iya ma. Iya!’, tapi yang pasti itu hanya jawaban formalitas.

Kakak perempuanku benar-benar merusak kepercayaanku dengan cara yang sulit aku memaafkan.Aku masih butuh waktu, semoga suatu hari nanti aku bisa memaafkan dia dan kami bisa menjadi kakak beradik seperti dulu saat aku masih memanggilnya ‘Kakak tersayangku’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here