Murid-muridku Demi Kalian, Ibu Rela Jadi Wanita Penghibur

0
5

‘Via…’

Semua orang memanggilku Via. Jika yang memanggilku muridku maka akan ada tambahan ‘Bu Guru’. Jika yang memanggilku tukang ojek akan ada tambahan ‘Non’, jika ibukku yang memanggil maka akan ada tambahan ‘Anakku’. Tapi… aku paling tidak suka dipanggil oleh para laki-laki yang tinggal dekat rumahku, tambahannya membuatku ingin muntah, kadang ‘Via… seksi banget sih!’ atau ‘Via… ikut om yuk!’, serem banget kan?

Seperti biasa, hari ini aku berangkat mengajar. Aku seorang guru sukarela di sebuah sekolah dekat rumagku. Kamu pasti berpikir apa untungnya untukku menjadi guru sukarela? Gajinya pasti sedikit atau bahkan tidak dibayar. Aku sendiri tidak tahu. Aku senang saja melakukannya. Murid-muridku sangat lucu, mereka menyayangiku dan aku juga menyayangi mereka. Kami saling menyayangi dan itu lebih dari cukup.

Sebenarnya menjadi guru sukarela bukan tanpa alasan. Aku hanya merasa miris dengan pendidikan anak-anak di sekitar rumahku, merasa bertanggung jawab dengan keadaan mereka. Aku ingin mereka punya masa depan yang bagus. Di sekolah ini aku mengajar berbagai macam mata pelajaran.

Aku sendiri tinggal di sebuah pemukiman padat penduduk yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai perempuan penghibur. Orang-orang sekitar tempat tinggalku sering bertanya-tanya kenapa aku tidak menjadi wanita penghibur saja. ‘Via, kamu cantik dan tubuhmu ideal. Akan ada banyak laki-laki yang rela membayarmu mahal, kenapa kamu tidak menjadi bagian dari kami saja?’ itu yang pernah mereka ucapkan padaku saat secara tidak sengaja aku bertemu mereka. ‘Tidak ah. Aku tidak berbakat seperti kalian’, aku akan menjawab pertanyaan mereka sambil tertawa pada mereka selalu seperti itu. Pikir mereka daripada aku menjadi guru sukarela yang gajinya tidak tentu lebih baik seperti mereka, menjual kehormatan akan lebih cepat mendapatkan banyak uang. Apalagi kata mereka, aku didukung tubuh ideal dan wajah cantik.

Suatu hari kepala sekolah mengajakku berbicara mengenai masa depan sekolah kami. Sekolah tempatku kondisi bangunannya bisa dibilang sangat tidak layak. Cat temboknya sudah banyak yang terkelupas, atap yang bisa roboh kapan saja saat hujan deras dan buku-buku pelajaran yang terbatas. Sekolah kami butuh pertolongan dan kepala sekolah mengajakku untuk membuat proposal permohonan bantuan pada walikota.

Kepala sekolah dan aku mendatangi kantor walikota untuk menyerahkan proposal permohonan kami. Kebetulan saat itu pak walikota sedang berada di tempat. Aku pikir dia orang yang baik, dia mau duduk berbincang bersama kami membahas pembangunan sekolah. Namun, saat kami berbincang pak walikota menatapku cukup lama, dia menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Aku merasa sedikit jengah ditatap seperti itu, tapi aku tetap bersikap biasa saja.

Tak lama kemudian dia berkata pada kami “Via, besok kamu menemui saya ya di kantor. Membahas tentang proposal yang kalian ajukan. Oh, ya, datang sendiri saja, saya rasa kamu lebih dari mampu membahas hal ini hanya berdua dengan saya”, aku tidak menaruh curiga pada pak walikota karena kupikir mungkin dia tidak ingin kepala sekolah yang sudah berumur itu harus bolak-balik ke kantor walikota yang letaknya memang cukup jauh dari sekolah kami.

“Baik, Pak walikota.”
Aku dan kepala sekolah merasa senang, kami pikir kami akan punya harapan untuk masa depan sekolah kami.

Maka keesokkan harinya aku pergi menuju kantor walikota sendirian. Wajahku memasang senyum terbaikku. Terbayang wajah-wajah murid kesayanganku. Mereka akan mendapat fasilitas layak untuk belajar, pikirku.

Aku dengan semangat mengikuti pak walikota masuk ke ruangannya. Dan… klik klik.
Bunyi pintu dikunci. Pak walikota langsung memelukku. Aku sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan. Aku berusaha memberontak, tapi tenagaku tidak cukup kuat untuk menahan dia agar tidak menciumku. Tuhan…tolong aku! Aku hanya ingin menyelamatkan nasib murid-muridku. Tapi ruangan itu benar-benar kedap suara, sekuat apapun aku berteriak aku tidak akan ada yang bisa mendengarku. Dan… aku harus menerima kenyataan bahwa semuanya sudah terlambat dan hilang. Tuhan… hilang sudah kehormatanku.

Pak walikota memberiku puluhan lembar uang untuk apa yang sudah ia lakukan padaku. detik itu juga aku langsung membuat keputusan besar. Lupakan tentang proposal permohonan sekolah, aku tahu kemungkinan proposal itu diterima sangat sedikit. Lupakan tentang aku yang mati-matian mempertahankan kehormatanku. Demi murid-muridku aku rela menghancurkan prinsip yang sudah kubangun.

Ya, dengan penuh rasa terpaksa aku mau menjadi wanita penghibur. Rencananya uang yang aku dapatkan akan aku gunakan untuk membiayai sarana dan prasarana sekolah itu.
Aku berangkat ke kota besar. Aku pikir di sana akan lebih banyak laki-laki hidung belang yang punya banyak uang. Menjadi wanita penghibur benar-benar pekerjaan yang menghasilkan uang dengan sangat cepat. Uang yang berhasil aku kumpulkan aku kirimkan ke pihak sekolah tempatku dulu mengajar, kata kepala sekolah sarana dan prasarana sekolah kami sudah mulai membaik. Aku menangis terharu mendengarnya.

Perbaikan gedung sekolah kurang sedikit lagi. Dan aku harus bergerak cepat mencari orang yang mutuh ‘pelayananku’. Dulu aku pernah bilang kalau aku tidak berbakat, sampai sekarang pun aku tidak berbakat. Aku hanya mengandalkan wajah dan tubuh idealku dan para laki-laki hidung belang tertarik padaku.

Setiap hari aku memasang senyum menggoda di depan mereka. Aku tidak menerima tawaran kencan dengan harga murah. Tapi orang-orang yang membutuhkanku tidak pernah menawarku dengan harga rendah, tawaran mereka selalu tinggi.

Dan hari itu aku mendapat tawaran dari seorang pengusaha. Dia menawarkan pembayaran yang sangat mahal. Tiga kali lipat lebih tinggi dari harga yang biasa aku dapat. Tanpa pikir panjang aku menerimma tawaran itu.

Nominal yang ia tawarkan bisa membuatku berhenti lebih cepat dari pekerjaan laknat ini, jumlah uang yang ia tawarkan bisa menutup kekurangan biaya yang dibutuhkan untuk sarana dan prasarana pembangunan sekolah yang sedang berjalan. Bayangan senyuman murid-muridku melekat kuat di otakku. Kamu pasti bisa, Via! Demi murid-murid kesayanganmu!

Di hari yang telah ditentukan aku dan pengusaha itu bertemu. Seperti yang sudah-sudah aku memaksakan senyum menggoda padanya. Kami berjalan bersama menuju kamar hotel. Ternyata… di luar dugaanku, disana kami sudah ditunggu oleh dua orang laki-laki yang aku tidak tahu siapa. Perasaanku mulai tak enak.

Aduh, apalagi ini? Apa yang akan terjadi padaku.

Aku bersikap biasa saja awalnya, tapi semuanya terjadi dengan sangat cepat. Mereka memperkosaku secara bergiliran. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku terlalu lemah untuk melawan. Mereka terlalu kuat. Kukira orang paling kejam adalah walikota yang dulu pertama kali merusakku, ternyata mereka bertiga lebih dari itu.

Tuhan, aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka puas melakukannya padaku. aku pasrahkan semuanya padamu Tuhan. Aku sudah tidak sanggup. Dan tusukan tajam berhasil merobek perutku. Darah mengucur dengan sangat deras. Aku tidak tahu setelah ini apa yang terjadi, semuanya terasa gelap dan semakin gelap. Aku mulai sulit bernafas.

Murid-muridku, maafkan Ibu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here