Misteri Pesugihan Gunung Kawi

0
23

Gunung kawi merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Gunung ini sangat terkenal di kalangan masyarakat jawa timur. Gunung kawi berada di kecamatan Wonosari Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Saat ini Gunung Kawi telah menjadi obyek wisata yang digemari masyarakat. Terletak di sebelah barat kota Malang, Gunung kawi merupakan obyek wisata yang perlu untuk dikunjungi bila sedang berada di Jawa Timur. karena keunikannya obyek wisata ini lebih tepat dijuluki sebagai “kota di pegunungan”. Di sini kita tidak akan menemukan suasana gunung yang sepi, tapi justru kita akan disuguhi sebuah pemandangan yang mirip di negeri tiongkok pada zaman dahulu.

Namun, selain pemandangan alamnya yang indah, ternyata di Gunung kawi banyak menyimpan cerita mistis, Gunung kawi dipercaya sebagai tempat yang paling pas untuk melakukan pesugihan, bahkan gunung kawi dianggap sebagai tempat pesugihan terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. walaupun belum ada data valid mengenai kisah seseorang yang sukses atau gagal setelah melakukan pesugihan di gunung kawi.

Banyak orang yang gila harta ingin menambah kekayaannya dengan melakukan ritual-ritual di area gunung kawi. Saat berkunjung ke Gunung Kawi, suasana mistis akan terasa sangat kental. Terdapat beberapa tempat atau petilasan yang digunakan beberapa orang untuk berdoâ dan memohon sesuatu untuk kesuksesan usaha, jodoh atau banyak hal lainnya.

Biasanya banyak pengunjung atau peziarah yang melakukan ritual pada hari jumat legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan di bulan Suro tanggal 12 (memperingati wafatnya Eyang Sujo/Raden Mas Iman Sudjono). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bertapa selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Di dalam bangunan makam, pengunjung atau peziarah tidak diperbolehkan memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung atau peziarah harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Lalu siapa sebenarnya Mbah jugo atau Eyang Jugo ? Eyang Jugo yang memiliki Nama asli Kyai Zakaria II hidup di zaman penjajahan belanda di era tahun 1800-an, beliau termasuk orang yang sakti, berilmu tinggi, dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, sehingga banyak orang di sekitarnya yang menghormatinya. Beliau wafat pada tanggal 22 Januari 1871 dan dimakamkan di wonosari, di lereng gunung kawi yang pada waktu itu sudah menjadi sebuah perkampungan. Lalu bagaimana asal mula gunung kawi dijadikan sebagai tempat pesugihan ?

Asal mula pesugihan di gunung kawi diceritakan oleh Suharto, Beliau adalah pewaris penerus juru kunci makam sebelumnya. Ia menceritakan bahwa pada awalnya makam Eyang Jugo di Gunung Kawi tidak dikenal sebagai tempat pesugihan hingga datangnya sesosok pria dari daratan Cina bernama Tamyang.

Suharto mengaku mengenal Tamyang. Tentu saja saat dirinya masih kecil. Tamyang ini biasa datang ke padepokan Eyang Jugo menemui ayahnya yang saat itu menjadi juru kunci. Dikisahkan, Eyang Jugo pernah melakukan perjalanan ke daratan Cina. Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang perempuan hamil yang kehilangan suaminya. Lalu Eyang Jugo membantu ekonomi janda yang hidup dalam kemiskinan tersebut.

Tentu saja perempuan ini sangat senang dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Eyang Jugo. Sesuatu yang sudah menjadi tabiat Eyang Jugo dalam membantu sesama. Ketika Eyang Jugo hendak kembali ke Pulau Jawa, dia berpesan kepada janda itu agar kelak jika anaknya sudah besar disuruh datang ke Gunung Kawi di Pulau Jawa. Anak dari janda miskin inilah yang diberi nama Tamyang.

Pada era tahun 1940-an, datanglah Tamyang ke Gunung Kawi. Tentu saja ia hanya melihat makam Eyang Jugo, sebab Eyang Jugo sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Tamyang ingin membalas jasa Eyang Jugo yang telah berbuat baik kepada ibunya di daratan Cina. Itulah sebabnya, ia merawat makam itu dengan baik. Pria Cina yang biasa berpakaian hitam-hitam mirip pendekar silat ini merawat makam Eyang Jugo dan membangun tempat berdoa dengan arsitektur Cina.

Sejak saat itulah, para peziarah semakin ramai mengunjungi Gunung Kawi. Tetapi anehnya para peziarah datang dengan tujuan mencari pesugihan dan bukan belajar bagaimana menjadi orang bijak seperti Eyang Jugo.

Di Gunung Kawi terdapat banyak benda keramat dan beberapa tempat untuk melakukan ritual pesugihan dan tempat-tempat tersebut diyakini sangat magis karena dianggap mampu mendatangkan kesuksesan dunia bagi orang yang melakukan pesugihan.

Ada Rumah Eyang Jugo yang berbentuk padepokan. Rumah ini lebih dikenal sebagai padepokan Eyang Jugo, rumah ini biasa digunakan untuk dakwah Islam, ajaran moral Kejawen, keterampilan bercocok tanam, pengobatan, ilmu kesaktian, dan lain sebagainya. Sepeninggalnya Eyang Jugo, rumah ini ditempati oleh pengikut terdekatnya yang bernama Ki Maridun. Padepokan tersebut terletak di desa Jugo, Kesamben, Blitar, Jawa timur

Di padepokan tersebut juga terdapat berbagai peninggalan barang-barang yang dikeramatkan milik Eyang Jugo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro. Padepokan eyang Jugo konon dikabarkan memiliki koneksi dengan pesugihan gunung kawi.

Banyak peziarah yang mengetahui keberadaan padepokan tersebut namun sangat sedikit yang mengunjunginya. dengan kata lain, Para peziarah Gunung Kawi, khususnya yang bertujuan mencari pesugihan, tidak serta merta mengunjungi padepokan ini di Blitar. Melainkan langsung menuju makam keramat Eyang Jugo di Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Inilah yang kemudian menjadi masalah tersendiri bagi peziarah yang datang langsung ke Gunung Kawi tanpa menyempatkan diri mengunjungi Padepokan Eyang Jugo di Blitar. Masalahnya adalah para peziarah yang datang langsung di gunung kawi untuk melakukan pesugihan tidak tahu tata cara atau syarat-syarat khusus yang harus dilakukan.

Sementara itu, bagi para peziarah yang pernah datang ke Padepokan Eyang Jugo justru mengaku merasa lebih mantap saat berziarah ke makam eyang jugo di Gunung Kawi. Terutama menyangkut tata cara dan prasyarat ritual yang harus dipenuhi.

Kemudian di kawasan gunung kawi juga terdapat Pohon Dawandaru, Terletak di area pemakaman, pohon dawandaru (pohon keberuntungan) ini disebut juga sebagai shian-to atau pohon dewa oleh orang Tionghoa. Para pengunjung atau peziarah sering menunggu dahan, buah ataupun daunnya yang jatuh. Konon katanya bila dahan, buah dan daunnya itu disimpan, dapat menambah kekayaan untuk orang tersebut. Namun seperti namanya, dibutuhkan kesabaran hingga berbulan-bulan untuk menunggu beberapa bagian dari pohon itu jatuh.

Cerita misteri lain di Gunung kawi adalah keberadaan dua buah guci kuno. Pada zaman dahulu, Eyang Jugo menggunakan guci kuno ini untuk menyimpan air suci yang akan digunakan untuk pengobatan. Masyarakat setempat sering menyebut guci kuno tersebut dengan nama ‘janjam’. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean (makam eyang jugo). Masyarakat percaya bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.

Di gunung kawi terdapat juga petilasan prabu sri kameswara. Terdapat sebuah keraton yang pernah menjadi pertapaan milik Prabu Kameswara yang berada di ketinggian 700 meter dan dapat ditempuh sekitar 30 menit dari makan eyang sujo dan eyang jugo. Prabu kameswara merupakan pangeran dari Kerajaan Kediri yang beragama Hindu. Dulu dikabarkan bahwa setelah sang prabu selesai bertapa di tempat tersebut, beliau berhasil menyelesaikan kekacauan politik di kerajaannya. Kini, petilasan tersebut telah digunakan sebagai tempat pemujaan dan praktik pesugihan.

Orang-orang yang melakukan pesugihan setelah melewati satu tahun, pemilik pesugihan biasanya akan mulai mangalami peningkatan kualitas dan kuantitas ekonomi dalam kehidupannya. Ketika hal tersebut sudah ia rasakan, ia harus mulai menyerahkan tumbal yang berupa seorang manusia yang memiliki hubungan darah dengannya untuk dijadikan sebagai salah satu pesuruh kerajaan gaib di Gunung Kawi. Seseorang yang ditunjuk untuk menjadi tumbal tersebut biasanya mati tanpa diduga-duga secara tiba-tiba. Selain itu, setiap kali diberikannya tumbal, kekayaan orang yang melakukan pesugihan biasanya akan meningkat secara drastis.

Kisah nyata tentang kegiatan pesugihan yang harus memberikan tumbal pernah dialami oleh seseorang sebut saja bernama joni. Ceritanya sebagai berikut : Ketika dia memiliki usaha ekspor-impor yang cukup sukses. Namun, usahanya bangkrut saat terjadi krisis moneter tahun 1999. Segala yang dia miliki lenyap dalam waktu yang singkat. Dia mengalami banyak kerugian. Dalam kondisi dan situasi seperti itu, untuk sementara dia menitipkan anak dan istrinya pada orang tua dan dia beralasan akan mencari uang lagi. Joni berkonsultasi dengan teman-temannya dan akhirnya ada yang menyarankan agar Joni melakukan pesugihan Gunung Kawi.

Joni pun mulai melakukan segala ritual di sana, mulai dari bakar kemenyan hingga tidur di bawah pohon. Hingga suatu hari keberuntungan datang, temannya menawarkan bisnis ekspor-import kepada joni, tentu saja Joni tidak menyia-nyiakan. Dalam waktu singkat kekayaan kembali dia dapatkan. Namun, Joni merasakan perubahan dalam dirinya bahwa dia merasa lebih sombong dan serakah. Bahkan dia berusaha menjatuhkan teman yang sudah menolongnya itu. Sementara anak istrinya juga bermasalah, istrinya ternyata selingkuh dengan pria lain dan anaknya terlibat kasus hukum. Di situlah Joni menyadari kesalahannya, bahwa para iblis bisa mengabulkan setiap permintaan tetapi ada tumbal yang harus dibayar.

Itulah kisah misteri di gunung kawi yang sering dijadikan sebagai tempat pesugihan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here