Michael Carrick, Pemain Paling Underrated Manchester United dan Inggris

0
144

Musim panas 2006, Manchester United berada dalam krisis.

Chelsea mencaplok dua gelar liga terakhir, Arsenal menembus final Liga Champions dan hijrah ke stadion megah mereka yang baru, Liverpool meneruskan sukses juara Eropa dengan trofi Piala FA dan sekarang siap mengejar gelar liga.

Di mana Manchester United? Mereka tak memenangi liga selama tiga tahun, puasa terlama di era Sir Alex Ferguson. Penampil paling konsisten dalam lima tahun terakhir, Ruud van Nistelrooy, dijual ke Real Madrid. Dua pemain muda yang diharapkan berbagi pundak, Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney, terlibat keributan di Piala Dunia.

Bukan krisis biasa.

Lini tengah mereka pun cuma berisi John O’shea, seorang bek, dan Alan Smith, seorang gelandang. Roy Keane sudah pergi dan Paul Scholes absen setengah musim. Merespon hal ini, Sir Alex merekrut satu pemain. Hanya satu pemain: Michael Carrick.

Dia bukan penjagal seperti Roy Keane atau Patrick Vieira. Bukan pula Steven Gerrard dan Frank Lampard, dua gelandang terbaik Inggris bernuansa lini serang.

Apa yang sebenarnya dia lakukan di lapangan? Well, Carrick merupakan pengumpan andal, bisa mengarahkan bola ke dua sisi lapangan, menjaga tradisi United bermain dengan sisi sayap. Secara defensif, dia jarang melakukan tekel karena memang tidak memerlukannya: pengambilan posisinya mantap, dan caranya membaca permainan tak bercela.
“Carrick adalah pengumpan alami tepat saat Scholes memasuki pertengahan tiga puluhan,” tulis Sir Alex di otobiografinya. “Yang membuatku terkesan dari Carrick ialah bahwa dia selalu mencari celah mengumpan secara vertikal. Dia dapat melakukannya dari jarak jauh sehingga dapat mengubah pola permain.”

Terhitung sampai 2013, tahun ketika Ferguson pensiun, United menikmati musim-musim gemilang. Mereka merebut lima gelar liga dan dua peringkat dua, serta satu gelar Eropa dan dua kali kalah di final. Ada banyak faktor yang menyebabkan peningkatan performa ini, dan peran Carrick dirasa krusial.

Meski begitu, bahkan dengan rekam jejak sementereng itu, Carrick tak pernah disinggung secara serius di tim nasional. Dia cuma mencatat 34 caps bagi tim Tiga Singa, hanya satu di antaranya yang berupa laga turnamen mayor.

Di Piala Dunia 2006, dia cuma sekali bermain. Empat tahun kemudian, pelatih Fabio Capello lebih memilih Gareth Barry. Tak heran saat Euro 2012, dia menolak panggilan Roy Hodgson. Bahkan ada anekdot, orang-orang sibuk berdebat bagaimana sebaiknya agar Gerrard dan Lampard bisa bermain bersama, tanpa memikirkan kenapa Carrick tak pernah dipertimbangkan bermain di belakang mereka.

Sebaliknya, di luar negeri, penampilan Carrick dipuja. Xavi dan Xabi Alonso menyebutnya sebagai pemain Inggris favorit mereka. Pep Guardiola bahkan mengagumi gaya mainnya, berujar bahwa dia adalah salah satu gelandang bertahan terbaik di hidupnya. Bila ada gelandang Inggris yang mampu mengemban peran Sergio Busquet di Barcelona atau Xabi Alonso di Bayern Munich untuk Pep, maka Carrick-lah orangnya.

Kini, gelandang bertahan yang bekerja dalam senyap itu sudah pensiun. Keputusan Jose Mourinho menariknya ke jajaran pelatih seakan menjawab banyak pertanyaan: ia begitu kharismatik, tapi tak terdeteksi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here