Mengapa Tombol Numerik pada Telpon Berbeda dengan Keyboard dan Kalkulator?

0
4

Para anak akuntansi pasti udah nggak asing dengan yang namanya kalkulator. Ya, benda yang katanya sangat keramat untuk para penghitung uang setan ini adalah alat penting para akuntan. Bukan hal aneh memang, mengingat setiap hari benda ini menjadi benda wajib yang harus ada, kapanpun dan dimanapun.

Namun, pernahkah kalian memperhatikan kalau susunan angka di kalkulator dan keyboard berbeda dengan susunan angka di telepon? Kira-kira kenapa susunannya harus berbeda ya?

Yuk simak ulasan berikut ini!

Jika sekarang kalian sedang memegang smartphone, cobalah sebentar saja untuk membuka aplikasi kalkulator, ingat-ingat bagaimana susunan angkanya. Lalu, setelah itu, sentuh ikon ‘Telepon’, perhatikan dan bandingkan dengan susunan angka pada aplikasi ‘telepon’. Berbeda bukan?

Kalkulator pertama di dunia dikenalkan pada awal abad ke-19. Saat itu, orang-orang jenius mencetuskan ide untuk membuat mesin yang dapat mempercepat penghitungan. Mereka terinspirasi dari alat musik piano, dimana ada tuts yang harus ditekan saat dimainkan.

Dari situ mereka ingin menciptakan mesin hitung yang memiliki tombol, hal itu menjadi dasar bagaimana nantinya para pengguna menggunakan si mesin penghitung.

Sebelumnya, mesin hitung sudah ditemukan oleh seorang pria bernama Jean-Baptiste Schwilgue (jen baptiste eswilg ) dari Strasbourg, Perancis. Penemuannya dipatenkan dan dikenalkan pada dunia sebagai mesin hitung mekanis pertama yang dapat berfungsi dengan baik.

Desainnya sederhana, susunan angkanya ditempatkan dalam satu baris dengan angka 1 sampai 9 yang ditempelkan pada setiap tombol tanpa angka nol. Mesin ini mampu melakukan perhitungan sederhana.

Desainnya pun terus berevolusi. Sampai pada tahun 1879, ada seorang pemilik toko bernama James Ritty menemukan mesin hitung yang bisa menghitung penjualan. Dia menambahkan beberapa tombol 10-90 dan 5-95 pada mesin hitung yang ia kembangkan. Semua tombol disusun dalam dua baris, dengan tombol 1 dan 9 diatur di sisi kanan.

Lalu pada tahun 1902, seorang pria bernama James Dalton memperkenalkan pada khalayak umum soal hasil karyanya yang saat itu ia beri nama ‘Dalton Adding Machine’.

Susunan tombolnya sama dengan kreasi James Ritty, terdiri dari dua baris dengan 2,4,5,7 dan 9 di baris atas dan 1,3,0,6, dan 8 di baris bawah. James Dalton juga menambahkan tombol ‘0’ di mesin hitung ciptaannya, yang menjadikan hasil eksperimennya berbeda dengan temuan sebelumnya.

Saat itu, ‘Dalton Adding Machine’ resmi menjadi mesin hitung pertama yang meletakkan angka nol pada keyboard.

Sayangnya, meski dapat melakukan penghitungan dengan cepat, pengaturan tombol pada Dalton Adding Machine masih kurang nyaman saat digunakan.

Inovasi berikutnya dilakukan oleh seorang pria bernama David Sundstrand pada tahun 1914. Pria berkebangsaan Swedia itu mengubah susunan angka pada Dalton Adding Machine, yang semula hanya 2 baris, ia atur jadi 3 baris, dengan angka 7,8,9 di bagian atas dan angka 0 di bagian bawah.

Dengan susunan yang seperti itu, si pengguna dapat menghitung dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya dapat melakukan hal lain, seperti memegang dokumen.

Tata letak 3×3 ini tetap digunakan sampai hari ini untuk tujuan komputasi, baik pada kalkulator maupun tombol numerik keyboard.

Lalu, mengapa susunan angka pada telepon berbeda dengan kalkulator dan keyboard?

Puluhan tahun silam, telepon putar menjadi alat komunikasi paling populer. Telepon ini menggunakan sistem putar, dimana kita harus memutar untuk menekan nomor tersebut.

Akan tetapi, ternyata sebelum sistem telepon putar lahir, telepon dengan sistem menekan tombol sudah dikenalkan sejak tahun 1887, yang disebut dengan ‘micro telephone push button’.

Namun, 5 tahun setelahnya, telepon putar hadir dan jadi booming selama puluhan tahun.

Sebenarnya, pada tahun 1919, ada sebuah perusahaan bernama Western Electric yang berupaya untuk menghasilkan produk telepon tombol komersial. Sayangnya, produk itu gagal di pasaran karena fungsinya terbatas.

Hal itu membuat telepon putar jadi teknologi panggilan jarak jauh yang tetap populer hingga era 1950-an.

Namun, walau populer, bukan berarti penggunaan teknologi ini tanpa masalah. Sejak awal dikenalkan, meski operator telepon menggunakan konektor panggilan dengan papan tombol vertikal, keluhan soal telepon yang susah digunakan kerap terdengar.

Selain itu, sejak panggilan jarak jauh mulai dikomersialkan, ada beragam keluhan yang dihadapi oleh para pengguna telepon, dimana ada banyak kesalahan selama panggilan berlangsung. Ditambah dengan nomor telepon semakin lama semakin panjang, masalah-masalah lain jadi bermunculan.

Kemudian memasuki tahun 1955, AT&T Company melakukan observasi untuk mengidentifikasi tata letak terbaik untuk produk terbaru yang akan mereka publikasikan. AT&T Company merasa bahwa mereka harus menemukan perangkat telepon yang ramah pengguna dan minimal kesalahan saat melakukan panggilan.

Dalam kurun waktu 5 tahun, mereka melakukan studi sebanyak 2 tahap. Seperti, mengembangkan prototipe 15 tata letak kunci telepon agar makin sesuai, dari bentuk piramida bulat (seperti susunan berputar), horizontal, setengah lingkaran dan berbagai pengaturan lainnya.

Salah satu pengaturan yang masuk dalam observasi AT&T adalah meniru susunan keyboard kalkulator. Namun, hasilnya ternyata, pengaturan tersebut kurang sesuai untuk telepon. Meski tidak sesuai untuk telepon, namun mereka menemukan fakta lain bahwa pengaturan yang digunakan oleh David Sundstrand mudah digunakan.

Dari semua susunan yang berhasil mereka teliti, ada dua yang dianggap paling sesuai. Yang pertama, susunan seperti kalkulator, 3×3 dengan 1, 2, dan 3 berbaris sedangkan angka 0 tepat di bawah angka 8. Dan yang kedua, susunan 2 garis horisontal, dengan 1 sampai 5 ada di baris atas dan 6 sampai 0 di baris bawah.

Lalu, pada penelitian berikutnya, mereka menentukan desain mana yang paling pas dari segi estetika dan desain fisik pada perangkat ponsel. Setelah mempertimbangkan jarak antar tombol, ukuran tombol, dan tingkat kesalahan saat panggilan, akhirnya AT&T memutuskan untuk menggunakan tata letak tombol telepon saat ini sama seperti kalkulator hanya saja posisinya terbalik.

Nah, kira-kira seperti itulah alasan mengapa tata letak tombol numerik pada kalkulator dan keyboard berbeda dengan telepon, selain dari segi fungsi keduanya memang sudah sangat berbeda, tetapi juga karena saat diterapkan satu sama lain ternyata tidak sesuai. Semoga bermanfaat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here