Mengapa Para Dokter Kuno Memakai Topeng Burung?

0
20

Apa yang kamu bayangkan saat pertama kali mendengar kata ‘dokter’? Pasti yang terbayang dalam benakmu adalah sosok berpenampilan rapi mengenakan jas putih dengan berkalungkan stetoskop.

Ya, seperti itulah penampilan dokter di jaman sekarang. Selalu identik dengan jas putih.

Tapi, tahukah kamu kalau penampilan dokter jaman dulu identik dengan topeng burung? Kira-kira kenapa ya, para dokter jaman kuno itu memakai topeng burung?

Yuk kita simak ulasan berikut ini!

Dahulu kala, banyak manusia belum mengerti tentang kuman, virus dan bakteri, termasuk para dokter. Dan dokter-dokter di jaman itu, belum memahami cara kerja menyebarnya suatu penyakit.

Seorang dokter kuno bernama Aelius Galenus, mencetuskan sebuah teori sebelum kematiannya pada tahun 210. Aelius mengatakan bahwa wabah penyakit disebabkan oleh udara yang kotor. Saat itu, teori tersebut disebut ‘teori miasma’, ‘miasma’ dalam bahasa yunani artinya ‘udara kotor’.

Atas dasar teori ‘miasma’ tersebut, para dokter jaman dulu selalu mengaitkan udara kotor dengan penyebab utama suatu penyakit.

Atas dasar teori itu pula lah, di tahun 1619, seorang dokter bernama Charles de Lorme diserahi tanggung jawab untuk merancang seragam para ahli medis yang bertugas mengatasi wabah. Mengingat dokter berada di posisi yang sangat rentan terjangkit wabah

Charles de Lorme meniru desain pakaian militer, yang pada jamannya menutupi seluruh tubuh prajurit. Meski demikian, desain yang dirancang oleh de Lorme mulai digunakan pada tahun 1656, sesudah Napoli di Italia diserang.

Lalu, para dokter yang bertugas menangani para pasien terjangkit wabah diberi seragam khusus, berupa jubah panjang, sarung tangan, sepatu bot, dan topi yang tepiannya lebar.

Selain, berpenampilan sangat tertutup, para dokter itu juga membawa tongkat panjang, tongkat panjang itu dimaksudkan agar dokter tidak perlu bersentuhan secara langsung dengan pasien.

Dan yang paling unik dari seragam para dokter itu adalah adanya masker yang terlihat seperti topeng burung. Masker topeng burung memiliki paruh yang panjangnya sekitar 15 sentimeter dan dilengkapi dengan dua lubang untuk penglihatan dan dua lubang untuk penciuman.

Memang agak menyeramkan dan unik, namun, ternyata hal itu memiliki alasan khusus lho.

Berpegang teguh pada teori ‘miasma’, masker topeng burung itu sengaja dibuat sedemikian rupa dengan tujuan agar saluran pernapasan para dokter terhindar dari racun..

Mereka meyakini, bahwa jika ada udara yang baunya yang tidak sedap, maka hal itu artinya udara di sekitar mereka telah kotor dan dianggap sebagai wabah.

Karena alasan itu juga, para dokter di jaman itu meletakkan daun mint, mawar dan anyelir, sebagai penyaring pernapasan pada masker topeng burung mereka. Bahkan, tak jarang para dokter membakar tanaman-tanaman tersebut lebih dulu, asap yang keluar akibat pembakaran tersebut dipercaya oleh mereka sebagai salah satu alat untuk membersihkan udara.

Namun, meski sudah dirancang sedemikian rupa, kematian dalam jumlah besar tetap tidak bisa dicegah. Kala itu, kematiannya mencapai 145.000 di Roma dan 300.000 di Napoli.

Seiring berkembangnya pengetahuan di bidang mikrobiologi, teori ini mulai diragukan. Lalu pada tahun 1846, di London, ada undang-undang yang isinya perintah untuk mengidentifikasi penyebab sebenarnya dari wabah kolera, apakah memang karena air atau udara.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa teori ‘miasma’ bukanlah penyebab utama dari wabah. Teori yang dicetuskan oleh Aelius mulai ditemukan banyak ketidakpastian. Dan teori kuman dan benda asing mulai mendapat perhatian khusus.

Sayangnya, meski sempat ditentang, teori Aelius masih tetap dipercaya oleh para ahli medis jaman dulu hingga abad ke-19. Mereka masih mempercayai bahwa udara yang kotor dapat menyebabkan wabah.

Teori ini juga tetap dijadikan dasar saat terjadi wabah kolera di London dan Paris pada tahun 1850. Para ahli medis kala itu meyakini, jika wabah itu memang disebabkan oleh ‘miasma’. Mereka mengambil kesimpulan, bahwa dengan membersihkan tubuh dan barang-barang di sekelilingnya, maka udara akan jadi bersih dan penularan bisa ditekan.

Dua orang peneliti Islam, yakni Ibnu Sina dan Ibn Khatima, sejak abad ke-10 sudah menolak teori ‘miasma’ tersebut, karena menurut mereka berdua, infeksi dapat disebabkan oleh adanya keberadaan makhluk halus yang masuk ke dalam tubuh.

Namun, tentu saja, di jaman sekarang, kita sudah bisa memahami bagaimana terjadinya infeksi dan mengerti bahwa udara yang kotor bukanlah penyebab utama terjadinya suatu wabah penyakit. Dan seiring berjalannya waktu, teori yang menyebabkan suatu wabah semakin berkembang.

Itulah sekelumit sejarah mengenai ‘kenapa sih dokter jaman dulu pakai topeng burung?’, menurutmu, apakah memakai topeng burung bisa kita lakukan di masa-masa pandemi seperti ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here