Mengapa Joe Hart Tiba-Tiba Jadi Kiper Medioker?

0
121

Joe Hart merupakan kiper andalan tim nasional Inggris semenjak Piala Eropa 2012. Ia jadi nomor satu di negaranya juga bukan tanpa alasan. Ia merupakan kiper utama Manchester City sejak musim 2010.12, menjadi bagian dari tim yang menjuarai liga pada musim 2011/12 dan 2013/14. Ia menjadi andalan tim asal Manchester baik saat ditangani Roberto Mancini maupun Manuel Pellegrini.

Akan tetapi, mengapa ia sama sekali tidak digubris Pep Guardiola?

Semenjak pelatih yang membuat sepak bola tiki-taka populer tersebut datang di Etihad Stadium, karier Hart tiba-tiba menurun drastis. Di musim pertama Guardiola, ia terpaksa pindah ke Torino untuk mencari kesempatan bermain. Musim kedua tak ada bedanya, ia kembali dipinjamkan ke klub lain, kali ini rival senegara West Ham United. Akibatnya, tempatnya di timnas Inggris tergusur, ia pun tak mendapat panggilan di Piala Dunia 2018 lalu.

Di musim pertama, Guardiola lebih memilih mendatangkan Claudio Bravo dari Barcelona. Bravo kurang ciamik, Pep beli pemain lagi dalam wujud Ederson. Pemain terakhir ini pada akhirnya solid di bawah mistar City dua musim belakangan.

Semua pengama setuju mengenai alasan Hart terpental: ia tak punya kemampuan distribusi bola. Dalam bahasa lebih sederhana, Hart tak sanggup bekerja dengan kakinya. Kiper modern dituntut untuk mampu memulai serangan dari lini belakang, di antaranya dengan kemampuan menggulirkan bola dari kaki ke kaki, meski di dalam kotak penalti sendiri.

Itu yang kita lihat dalam diri Ederson tetapi tak dimiliki Hart.

Hart terlihat kaku saat menguasai bola, terlihat seperti kiper yang memakai sepatu bot. Ia pun lebih terbiasa melepas umpan lambung, bawaan dari kebiasaan pemain-pemain Inggris berduel udara. Lain hal dengan Ederson, yang dengan anggun menggerakkan kaki bersama boa.

Perkembangan taktikal sepak bola belakangan ini memang membuat para kiper perlu mengembangkan diri. Manuel Neuer memukau dunia lewat peran sweeper-keeper-nya yang revolusioner di Piala Dunia 2014. Neuer banyak berdiri di depan kotak penalti, bahkan saat lawan menguasai bola. keuntungannya, ia bisa segera mengintersep bola yang kadung melewati pemain belakang timnya.

Bukan kebetulan pula bila Joe Hart menemukan sinarnya kembali di Burnley. Tim ini menerapkan strategi yang benar-benar tradisional khas Inggris, sehingga banyak memainkan umpan lambung. Kiper seperti Hart mampu tampil ciamik sejauh musim ini berjalan.

Penggemar Inggris pun tak perlu risau dengan siapa yang akan berdiri sebagai palang pintu terakhir. Negeri ratu Elizabeth tersebut telah menemukan sosok Ederson/Neuer dalam diri Jordan Pickford. Pickford, yang kalah dari Hart untuk urusan postur, punya atribut yang dimiliki kiper modern: footwork dan kemampuan distribusi bola.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here