Mengapa Eks Pemain Hebat –Guardiola, Zidane, Gattuso, dkk- Bisa Jadi Pelatih Hebat

0
128

Terlalu tinggi bila kita membandingkan torehan AC Milan yang diasuh Gennaro Gattuso dengan tim-tim legendaris Rossoneri yang dilatih Arrigo Sacchi, Carlo Ancelotti, atau Fabio Capello. Gattuso sendiri juga tak punya rekam jejak mengesankan selama jadi pelatih. Ia tak pernah bertahan lebih dari semusim di klub-klub sebelumnya.

Namun tetap saja, pendukung dan jajaran manajemen percaya bahwa Gattuso akan membawa Milan kembali ke masa jaya. Mantan presiden klub Silvio Berlusconi menyatakan bahwa” Milan harus kembali ke gaya main dan mengejar hasil yang selaras dengan sejarah klub ini.” Eks pelatihnya, Ancelotti meyakini, “Gattuso punya jiwa Milan”. Sementara rekan setimnya Andriy Shevchenko menyebutnya, “Milan pada masa lalu.”

Gattuso, yang bermain bersama Andrea Pirlo, Ricardo Kaka, dan Zlatan Ibrahimovic, paham bagaimana memburu kemenangan, menyerap pengalaman dari pemain-pemain hebat di masanya. Ia membangun skuad bermaterikan produk akademi seperti Gianluigi Donnarumma, Patrick Cutrone, atau Davide Calabria di samping bintang-bintang seperti Leonardo Bonucci, Gonzalo Higuain, atau Ricardo Montolivo.

Pemain berjuluk Rhino, Si Badak, tersebut dipercaya mampu mengubah mentalitas tim. “Aku tidak ingin menelan kekalahan, bahkan saat menghadapi anakku,” klaim Gattuso.

Hal yang sama berlaku untuk Pep Guardiola. Sebagai anggota skuad Barcelona Dream Team asuhan Johan Cruyff, Guardiola paham betul bagaimana cara memainkan bola di Camp Nou.

Dalam sesi latihan pertamanya memimpin tim utama Barcelona, ia menekankan gaya main yang akan diusungnya. “Gaya main ini diturunkan dari sejarah klub ini dan kita akan sepenuhnya menerapkannya. Kita harus menguasai bola dan tak boleh kehilangannya. Ketika bola hilang, lari dan dapatkan kembali. Sesederhana itu.”

Para pemain segera tahu apa yang sang pelatih inginkan. Sebuah gaya bermain yang akan membuat mereka menaklukkan 14 trofi dalam 19 kompetisi yang tersedia selama empat tahun di bawah kepemimpinan Guardiola. Keputusan Pep menaikkan Pedro dan Sergio Busquet dari La Masia dan membeli Gerard Pique dari Manchester United, lalu mengkombinasikannya dengan pemain-pemain paten seperti Xavi, Iniesta, dan Carles Puyol terbukti mampu membuat Barca dan Spanyol merajai sepak bola dunia.

Penunjukan nostalgik semacam Guardiola di Barca dan Gattuso di Milan juga terjadi di Real Madrid bersama Zinedine Zidane.
Zidane merupakan simbol skuad Real Madrid era 2000-an yang dijuluki Los Galacticos. Sedekade setelah pensiun, ia ditunjuk mengambil alih kursi entrenador klub menggantikan Rafael Benitez. Madrid masih mengumpulkan pemain bintang.

Zidane selalu menjadi bagian dari Madrid sejak kedatangannya pada 2001. Setela bermain bagi tim di level tertinggi, lalu melatih di tim junior, dia tahu semua tekanan dan ekspektasi yang menyelimuti klub ini. “Tak ada contoh yang lebih baik (dibanding Zidane) dalam hal menyampaikan misi dan mewakili nilai dari Real Madrid,” ucap Steven Mandis, penulis buku Real Madrid.

Pemain-pemain dari galaksi lain semacam Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale ia pasangkan dengan lulusan akademi seperti Dani Carvajal dan Lucas Vazquez. Hasilnya, tiga trofi Liga Champions dicaplok secara beruntun.

Gattuso, Guardiola, dan Zidane mewakili perspektif unik dari masing-masing klub yang membuat mereka dipercaya menangani tim. Kemampuan mereka jadi membedakan mengapa legenda seperti mereka diingat, sedangkan legenda lain dilupakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here