Mak Bilang Coba Lagi dan Aku Berhasil yang Ke-54 Kali!

0
43

Aku lahir pada bulan November tahun 1993. Aku terlahir dari ke dua orangtua yang berdagang sayur. sejak kapan mereka berjualan sayur? Aku sendiri tidak tahu pasti, tapi yang jelas ketika aku lahir mereka sudah berjualan sayur. Lalu kenapa jika mereka berjualan sayur? Tidak apa-apa sih, aku kan hanya ingin memperkenalkan mereka. Dua orang yang sudah sangat berjasa dalam hidupku.

Orangtuaku dulunya berjualan sayur dengan cara door to door, tapi sejak tahun 2000 memutuskan untuk membangun kios kecil mungil beratapkan rumbia di depan rumah kami. Sejak itu, ibunda tercinta tidak perlu lagi berkeliling kampung menjajakan dagangannya.

Aku tidak tahu persis sih berapa usia ibuku, tapi mungkin sekitar 60-an, karena ibu-ibu di sekitar tempat tinggalku berusia sekitar 70-an. Ibuku adalah yang termuda diantara mereka semua.

Walaupun aku hidup dalam keterbatasan, aku merasa bahagia karena masih memiliki ayah ibu dan kakak-kakak yang menyayangiku. Keadaan susah pun tidak akan terasa.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terus berputar, hingga tiba saatnya sebagai manusia kamu dipaksa untuk menerima yang sudah menjadi ketentuan-Nya. Kejadian tragis yang menimpa keluarga kami terjadi pada tahun 2004. Tahun 2004 adalah tahun terburuk yang pernah aku alami, di tahun ini aku kehilangan 3 orang yang aku cintai. Pertama adalah ayahku, dia ditemukan sudah tergeletak tak bernyawa di dekat sebuah sawah. Kematian ayahku membuatku sangat terpukul, bagaimana tidak? Dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah ya, Tuhan! Ayahku bukan meninggal karena sakit atau apa, tapi karena ia menjadi korban atas konflik yang terjadi di Aceh. Setelah kepergian ayahku yang tragis, dua saudaraku menyusul. Yang satu karena sakit parah dan yang satu karena menjadi korban tsunami. Tahun 2004 adalah tahun yang berat untukku.

Sepeninggal ayahku, ibuku harus berjuang sendiri. Ibu menjadi orang tua tunggal yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan anak-anaknya. Sebagai anak aku ingin ikut berperan dalam perjuangan ibu, aku dan kakak-kakakku bahu-membahu membantu ibu berdagang sayur.

Salah satu momen yang selalu terkenang adalah saat aku masih duduk di bangku SMP. Kala itu kegiatanku waktu pagi adalah ngantar ibu ke pasar untuk belanja sayur, terus jemput ibu lagi. Setelah semua beres aku berangkat sekolah. Waktu itu jam masuk sekolahnya jam 2. Setiap hari seperti itu. Tapi aku senang, karena aku bisa membantu ibu.

Di keluargaku, pendidikan selalu menjadi nomor satu. Walaupun almarhum ayah hanya menempuh pendidikan tingkat sekolah dasar di sekolah rakyat, dan ibu tidak pernah sekolah, bahkan tidak bisa membaca dan menulis. Bagi mereka anak-anaknya harus bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Aku masih ingat dulu, ketika SD, kakak-kakakku pernah cerita, jika mereka sekolah tanpa ada uang jajan. Bahkan jika sakit pun tidak boleh libur. Tetap harus berangkat ke sekolah.
Walaupun pendapatan keluarga kami sedikit, orangtua kami tidak pernah memperbolehkan anak-anaknya membantu mencari uang. Ayahku akan marah jika kami melakukannya, pokoknya pendidikan adalah yang utama.

Tentu saja masa-masa bersekolah untuk meraih pendidikan harus dilalui dengan penuh perjuangan. Setiap tahun ajaran berganti aku selalu bertanya pada diriku, ‘tahun ini bisa sekolah nggak ya?’. Tapi aku benar-benar manusia paling beruntung, aku memiliki orangtua dan kakak-kakak yang selalu ikut membantu dan berjuang bersamaku.

Ada beberapa momen yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun, saat itu aku akan masuk SMP. Pada masa ini kakakku rela menjual perhiasan supaya aku bisa masuk sekolah. Hal serupa kembali terjadi saat aku akan masuk SMA, tapi aku tidak tahu persis barang apa yang dijual kakakku, yang aku tahu hasil penjualannya digunakan untuk membayar uang sekolahku.

Hidup dalam keterbatasan ekonomi menjadikanku lebih semangat untuk mengukir prestasi. Aku sering mengikuti berbagai macam lomba dan berhasil menjadi juara. Mulai dari juara pidato, cerdas cermat, olimpiade fisika dan matematika, public speaking, hingga MTQ.

Tahun 2010 saat aku duduk di bangku SMA, aku membuat sebuah film pendek berdurasi sekitar 15 menit. Dalam kurun waktu satu bulan film pendek itu berhasil aku garap. Film pendek itu bercerita tentang seorang anak yang berasal dari keluarga kaya namun tidak diizinkan untuk bersekolah. Anak ini lalu kabur dari rumah, rela mengemis dan menyemir sepatu demi bisa mengenyam pendidikan.

Aku tidak menyangka film itu akan meraih penghargaan di ajang Festival Film Anak Aceh yang diselenggarakan oleh dinas sosial dan didukung oleh UNICEF Indonesia.

Hidupku masih terus berlanjut, tiba saatnya aku tamat SMA. Aku menerima undangan masuk perguruan tinggi negeri mana pun di Indonesia dari program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sesuatu yang membanggakan dan membingungkan di saat bersamaan. Aku bingung, karena jika aku menerima undangan ini, nanti yang bayar uang sekolahku siapa? Padahal aku tahu itu adalah satu hal yang diinginkan oleh setiap siswa.

Kukira masa dimana ketiga orang tersayang pergi menghadap ilahi adalah masa paling menyedihkan, ternyata aku masih harus bertemu masa itu lagi.
Saat itu ada yang berkata padaku seperti ini, ‘lu jangan harap deh bisa masuk kuliah, Aula. Kalau lu nggak bisa sogok orang dan lu nggak punya orang dalam,’.
Bagiku itu sama saja dia ngomong , ‘oh, anak miskin itu nggak bisa sekolah. Anak miskin itu nggak bisa kuliah’, ‘kan?

Tapi semangatku untuk meraih pendidikan berhasil mengalahkan rasa sedihku. Langkah selanjutnya yang aku ambil adalah aku memutuskan untuk mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) biasa dan memilih universitas Syiah Kuala dengan jurusan pendidikan fisika, sesuai dengan keinginanku. Dan… aku pun berhasil masuk. Hal yang membuatku lega adalah aku dapat beasiswa bidikmisi dari semester satu sampai aku lulus.

Ibuku yang biasa aku panggil dengan ‘Mak’ pun ikut gembira mendengarnya, apalagi melalui beasiswa S1 tersebut, aku bisa membantu keuangan keluarga. Tidak besar sih, tapi lumayan kok bisa untuk beli sayur dan makan sehari-hari.

Bulan November tahun 2016, aku wisuda. Wisuda kuliah yang biasanya menjadi momen kebanggaan dan penuh canda tawa, ternyata malah menjadi titik terendah dalam hidupku. Karena dulu almarhum ayahku berkata begini ‘Pengin banget lihat si bungsu ini wisuda’, aku juga teramat sangat ingin saat namaku diumumkan sebagai mahasiswa berprestasi kedua orangtuaku bisa hadir.

Rasanya benar nano-nano. Saat kamu ingin mempersembahkan yang terbaik pada orang yang kamu sayangi, tapi orang yang kamu sayangi malah sudah pergi. Jujur saja, walaupun aku laki-laki aku tidak bisa menahan air mata yang jatuh saat prosesi wisuda berlangsung.

Saat itu aku berkata pada diriku, untuk apa sertifikat ini. Untuk apa semua hal yang aku perjuangkan ini? Jika orang yang selama ini orang yang kita harapkan hadir malah sudah tidak bernafas lagi.

Tapi ibuku memberiku motivasi terbaiknya. Pelan-pelan aku bangkit dari kekelamanku dan kemudian mengucap syukur karena telah berhasil memenuhi impian orang-orang terkasih. Kelulusanku menjadi bukti bahwa meskipun mengalami keterbatasan ekonomi aku tetap bisa meraih pendidikan tinggi.

Setelah lulus kuliah, aku mulai bekerja freelance sebagai blogger untuk dunia gaya hidup dan juga menekuni bidang media sosial. Aku juga mulai terjun ke dunia pendidikan dengan mengajar Al-Qur’an dan Kitab Kuning di pesantren tradisional atau mengajar fisika, baik di kampus juga di sekolah untuk olimpiade sains nasional tingkat Aceh.

Aku tuh dari dulu pengin banget ke luar negeri. Tapi prinsipku sudah bulat dan kuat, aku ke luar negeri, naik pesawat, tapi tidak boleh dibayar oleh diri sendiri. Karena alasan itulah akhirnya aku dikenal sebagai ‘scholarship hunter’ alias pemburu beasiswa.

Menurutmu apakah rencanaku berjalan mulus? Tentu saja tidak. Mau tahu berapa kali aku mencoba mendaftar beasiswa? 53 kali dan semuanya gagal total. Mimpiku untuk menuntut ilmu ke Swedia, Portugal, Republik Ceko, Taiwan, dan negara lainnya pun terpaksa kandas.

Aku pernah berpikir seperti ini ‘Apakah memang diriku tidak pantas untuk ke luar negeri?’.
Sudah 53 kali gagal membuatku kehilangan minat untuk kuliah ke luar negeri. Padahal saat itu teman-temanku mendaftar beasiswa di USAID prestasi program S2 di Amerika.

Mak yang melihat kepasrahanku berkata ‘Coba sekali lagi’. Karena Mak yang meminta maka aku mengisi formulir beasiswa ke 54 tanpa ada keinginan dan tujuan untuk lolos. Ambisiku untuk lolos sudah lenyap. Ditambah dengan tes TOEFL yang dijadikan persyaratan beasiswa, aku gagal meraih skor tinggi.

Saat itu aku memilih pulang, dan menangis di depan ibu. Mak bilang padaku ‘nanti daftar lagi’. Kukatakan pada Mak, ‘aku sudah tidak punya uang’ lalu Mak bilang padaku ‘Mak kasih uang’, tapi kan aku tahu keadaan Mak. Mak tidak punya uang banyak, keuntungan dari hasil penjualan sayur kan hanya kisaran Rp 20.000 atau Rp 10.000 per hari.

Tapi melihat Mak yang terus menyemangatiku, aku kembali mengambil tes TOEFL. Tapi yang namanya rezeki memang tidak akan kemana, waktu itu ada seorang teman yang memintaku untuk menerjemahkan sebuah jurnal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Aku mendapat bayaran Rp 500.000 dan uang itu sama dengan jumlahnya dengan biaya tes TOEFL dengan media kertas. Tes TOEFL selanjutnya aku berhasil mendapatkan skor yang diharapkan.

Akhirnya, setelah perjuangan dengan 53 kali gagal aku berhasil di angka yang ke-54. Bulan juni tahun 2018 aku berhasil menginjakkan kakiku di Amerika. Aula Andika Fikrullah Al Balad berhasil terpilih dan menjadi salah satu diantara 23 orang Indonesia yang mendapat beasiswa USAID prestasi untuk kuliah ke Amerika. Aku diterima di Lehigh University di Bethlehem, Pennsylvania. Aku mengambil jurusan Instructional Technology karena menurutku penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran bisa menjadi lebih menarik dan memotivasi baik siswa dan guru.

‘This is your time, Aula.’ Adalah kata yang aku ucapkan pada diriku sendiri saat kakiku menjejak negeri adidaya itu. Aku bertekad untuk menjadi bagian dari orang-orang yang membangun teknologi tersebut di dunia pendidikan.

Pencapaian yang berhasil aku raih tentu saja tidak terlepas dari peran ke dua orangtuaku. Semua keberhasilan yang aku capai membuat Mak berdiri bersama deretan para orangtua yang dianugerahi penghargaan ‘Orang Tua Hebat 2019’ oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat.

Ketiadaan orang tua yang lengkap, kemudian orang tua yang tidak berpendidikan, ekonomi yang tidak mendukung tidak boleh menghalangi kita untuk mencapai apa yang kita mau. Tidak menghalangi anak-anaknya untuk bisa berpendidikan dan melanjutkan pendidikan sampai dengan ke level yang tertinggi dan di luar negeri bahkan di negara paling adidaya sekalipun.

Mak selalu berpesan, ‘Aula boleh ke mana saja. Aula boleh tinggal di mana saja, tapi harus tetap menjadi Aula.’ Dalam artian bahwa jangan pernah tinggalkan salat, jangan pernah tinggalkan mengaji, jangan pernah tinggalkan nilai-nilai dasar keislaman yang memang itu selalu ditanamkan dalam keluarga kami.

Sedangkan pesan almarhum Ayah seperti ini, ‘Aula tetap lakukan kebaikan walaupun itu kecil dampaknya. Tapi jangan pernah berbuat sesuatu, tapi tidak bermanfaat untuk orang lain.

Terima kasih Mak dan almarhum ayah atas atas didikan dan ajaran akan nilai-nilai kehidupan yang tak pernah aku dapatkan di tempat lain.
Aku ingin menekankan sekali lagi bahwa jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang dalam mencapai cita-cita, namun tetaplah tertuju pada keunggulan yang dimiliki.

It’s not about perfect. It’s all about effort

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here