Lika-Liku Hidup Dele Alli

0
117

Bamidele Jermaine Alli, siapa sangka, adalah pembelian terakhir Tottenham Hotspur di bursa transfer bulan Januari hingga detik ini. Pemain yang direkrut dari Milton Keynes Dons tersebut hingga kini jadi salah satu kepingan terpenting strategi Mauricio Pochettino, yang menaruhnya di belakang Harry Kane. Pemain ini seolah menjadi simbol dari deretan pemain muda yang diorbitkan pelatih Argentina sejak menangani Spurs empat tahun lalu. Dia menaklukkan semua lawan di Liga Inggis, terhitung sejak me-nutmeg Luca Modric di laga debut dalam uji tanding melawan Real Madrid.

Ketika tiba giliran untuk mendeskripsikan latar belakangnya, “susah” barangkali kurang garang untuk menyebut jalan hidupnya. Dia tumbuh di kawasan Bradwell di Milton Keynes, yang bisa saja salah dikenali sebagai kawasan kumuh seperti di Jakarta atau Rio de Janeiro. Kehidupan keluarga Alli, kalau boleh dikata, amat menyedihkan.

Ibunya, Denise, mempunyai empat anak dari empat ayah yang berbeda. Ayahnya yang berdarah Nigeria, Kenny, meninggalkan keluarga ini saat Alli baru berusia seminggu. Jadi, tidak ada figur ayah dalam keluarga ini. Ibunya pun, karena mengalami kecanduan terhadap minuman keras, tak pernah mampu mendidik Alli sebagaimana orang tua pada umumnya. Alli muda jadi harus menghadapi dunia dengan kesendirian. Seringkali ia terlibat keributan di sekolah, atau bahkan bergabung dengan geng-geng di jalanan.

Pelatihnya di MK Dons suatu hari pernah berujar bahwa pengalaman di jalanan ini yang justru menempa mental Alli, “Dia belajar untuk dirinya sendiri, membuat kesalahan demi kesalahan dan bekerja keras bagaimana menebusnya. Dia selalu mencoba banyak trik di sesi latihan, seperti yang mungkin ia lakukan bersama teman-temannya di jalanan. Kecintaannya akan sepak bola tercipta dari kehidupan masa itu.”

Ketika usia Alli menginjak 13 tahun, ibunya menerima realita bahwa keadaan rumah tangganya mungkin akan berpengaruh buruk bagi perkembangan karier Alli. Menjelang usia remaja dan kenyataan bahwa Alli akan lebih sering mendapat pengaruh buruk dari pergaulannya di jalanan, Ibunya setuju untuk melepaskan puteranya ke keluarga asuh di daerah yang lebih berpendidikan. Keluarga Hickford kemudian menjadi rumahnya hingga akhir waktunya di Milton Keynes.

Kondisi keluarga kandung yang seakan tak “berbelas” padanya membuatnya menjadi lebih dihargai saat memasuki akademi MK Dons. “Pada usia 11 tahun dia tiba di lingkungan kami yang bersahabat, tempat semua orang akan memperhatikan dirinya,” ucap pelatihnya, Dove. “Dan yang menyeneangkan dari situasi ini ialah selalu ada letupan dalam dirinya: adakah sesuatu dari jalanan yang bisa aku bawa ke permainanku?”

Bisa jadi, jalanan yang keras itu pula yang menjadikannya agak bersumbu pendek dan kadang terpancing godaan lawan. Dia sudah pernah disanksi FIFA satu pertandingan karena gesture ofensif saat melawan Slovakia. Skorsing tiga pertandingan karena tekel berbahaya di Liga Champions pun pernah dijalaninya.

Sebagai calon bintang terbesar timnas Inggris, Alli diminta untuk berusaha meredam emosinya. Karena kalau tidak, bisa-bisa ia malah mengikuti ironi David Beckham, yang dianggap bertanggung jawab menggugurkan Inggris di Piala Dunia 1998 karena kartu merah bodohnya.

Namun tentu saja, musuh terbesar bagi Alli ialah popularitas dan kesombongan diri. Ia masih sering bikin sensasi di media sosial. Tinggal bagaimana Pochettino mengontrol anak asuhnya tersebut,, serta cara Gareth Southgate (pelatih timnas) memberdayakan darah mudanya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here