Legenda Telaga Bidadari

0
15

Alkisah pada jaman dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah bernama Awang Sukma. Ia hidup seorang diri dan tidak mempunyai istri. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Selain memiliki wajah tampan, ia juga pandai meniup suling.

Awang sukma hobbi sekali menangkap burung,jika pohon limau sedang berbunga, ia sering menangkap burung dengan menggunakan getah pohon yang ia tempel pada sebuah bambu, kemudian bambu tersebut ia pasang pada sela-sela setangkai bunga. Terkadang awang sukma mampu mendapatkan banyak burung dari hasil berburunya itu. Namun pada suatu saat ia tidak dapat menangkap satu ekor burung pun, namun ia tidak putus asa, ia berusaha untuk mendapatkan burung, sambil menunggu burung yang datang ia berbaring di bawah pohon sambil memainkan suling kesayangannya.

Suara suling itu membuat awang sukma terpana, hingga akhirnya ia ketiduran. Di saat ketiduran tersebut tiba-tiba ia terbangun setelah mendengar suara hiruk pikuk sayap-sayap yang mengepak, tak percaya apa yang dilihatnya ia mencoba mengusap-usap matanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat tujuh gadis cantik turun dari angkas menuju sebuah telaga, lalu mereka bermain air disana.

“Siapa mereka?, Mungkinkah mereka itu para bidadari ?. pikir awang sukma. “aku ingin melihat mereka lebih dekat lagi” ujar awang sukma.

Tujuh gadis cantik itu tak menyadari jika mereka sedang diperhatikan oleh awang sukma dan tidak menghiraukan selendang mereka yang bertebaran di tepi telaga. Salah satu dari selendang yang digunakan untuk terbang tersebut terletak di dekat awan sukma. Ia kemudian mengambil selendang tersebut.

“Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang bidadari itu,” gumam Awang Sukma.

Setelah puas bermain air di telaga, ketujuh gadis cantik tersebut segera kembali terbang ke angkasa. ternyata ada salah seorang gadis yang tidak menemukan selendangnya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya yang sudah terbang ke angkasa duluan. Saat itu, Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya.

Si gadis itu panik karena ia tak bisa kembali ke angkasa kalau selendangnya tak bisa ketemu. “Jangan takut tuan putri, Hamba akan menolongmu, tapi nanti tinggallah bersama ku” bujuk Awang Sukma. Gadis itu masih ragu menerima uluran tangan Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk gadis itu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.

Gadis itu sangat cantik jelita sehingga membuat Awang Sukma sangat mengaguminya. Demikian juga dengan Gadis itu. Ia merasa sangat bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah. Hasil pernikahan mereka dikarunia anak yang diberi nama Kumalasari. mereka hidup dalam keluarga yang sangat bahagia.

Namun, apa yang selama ini di sembunyikan oleh awang sukma akhirnya tercium juga, pada suatu hari saat awang sukma lagi tidur dan sang istri lagi duduk menyusui anaknya, tiba-tiba ada seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas lumbung. Sang istri keluar rumah dan berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. “Apa kira-kira isinya ya?” pikir sang istri. Ketika bumbung dibuka, sang istri awang sukma terkejut dan berteriak. “Ini selendangku..”. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal, marah, kecewa, sedih bercampur jadi satu di dalam diri sang gadis (sang istri). Namun sang istri masih mencintai suaminya.

“Aku harus pergi sekarang juga”, ucap sang gadis dalam hati.

Akhirnya sang gadis (istri awang sukma) membulatkan tekadnya untuk kembali ke angkasa. Gadis itu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong Kumalasari.

Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan meminta maaf atas tindakan yang tidak baik yaitu menyembunyikan selendang Gadis itu. Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. “Kanda, dinda mohon dengan sangat rawatlah Kumalasari dengan baik,” kata sang istri kepada Awang Sukma.” Pandangan awang sukma kosong, ia masih tak percaya akan di tinggalkan oleh sang istri.

“Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ia ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling dari kanda. Pasti dinda akan segera datang menemui anak kita,” ujar sang istri.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke anggkasa meninggalkan suaminya dan anaknya. Awang Sukma sangat sedih, ia melakukan perintah dari sang istri karena masih ada rasa cinta. Tapi ia bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.

Kemudian telaga yang pernah di singgahi oleh tujuh gadis tersebut di namakan telaga bidadari, yang lokasinya terletak di desa pematang gadung di kecamatan sungai raya kabupaten Hulu sungai selatan provinsi kalimantan selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here