Legenda Rawa Pening

0
18

Pada zaman dahulu kala di desa Ngasem hidup sepasang suami istri bernama Ki hajar dan nyai selakanta. Mereka berdua hidup sederhana. Namun Nyai selakanta tak kunjung mempunyai anak. Hingga akhirnya Ki Hajar sang suami minta izin untuk pergi bertapa untuk meminta kepada tuhan agar diberikan keturunan.
Awalnya nyai selakanta tidak mengizinkan suaminya untuk pergi, namun dengan berat hati ia pun mengizinkan suaminya pergi bertapa. Dan pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Hajar ke lereng Gunung Telomoyo.

Kini Nyai Selakanta hidup sendiri dan kesepian. Beberapa bulan ia menunggu suami nya pulang bertapa, namun suaminya tak kunjun pulang, hingga pada suatu hari Nyai Selakanta merasa mual dan muntah-muntah, Ia pun berpikir bahwa dirinya sedang hamil. Ternyata dugaannya benar. Semakin hari perutnya semakin membesar. Setelah itu ia melahirkan. Namun, alangkah terkejutnya ia karena anak yang dilahirkan bukanlah seorang manusia, melainkan seekor naga.

Ia menamai anaknya itu Jaka Baru Klinthing. Nama ini diambil dari nama tombak milik suaminya yang bernama Baru Klinthing. Kata “baru” berasal dari kata bra yang artinya keturunan Brahmana, yaitu seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara kata “Klinthing” berarti lonceng. Anehnya walaupun berwujud seekor naga namun jaka baru klinting dapat berbicara seperti manusia. Nyai Selakanta pun kaget sekaligus merasa malu telah melahirkan seekor naga, ia berhasrat ingin merawat baru klinting tanpa sepengetahuan masyarakat.

Waktu terus berjalan, di usia remaja Jaka Baru Klinting bertanya kepada ibunya. “Bu,apakah saya mempunyai Ayah?, Kalau iya, dimanakah ayah saya sekarang bu?”.

“Ayahmu bernama Ki Hajar, namun saat ini ia sedang bertapa di gua lereng gunung Telomoyo”.Ujar sang ibu. “Kamu sudah waktunya mencari dan menemui bapakmu. Saya ijinkan kamu ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu, kamu katakan kepada ayahmu bahwa kamu adalah putranya.”. Kemudian dengan senang hati Jaka Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar sang ayahnya.B

Setiba di lereng gunung telemoyo, Jaka Baru Klinting masuk ke dalam gua dan mendapati seorang ada laki-laki sedang duduk bersemedi. Kedatangan Baru Klinting rupanya mengganggu kekhusukan petapa itu. “Siapa di sana?”, tanya pertapa itu.

“Maafkan saya tuan, Jika mengganggu tuan, saya hanya ingin bertanya kepada tuan, Apakah benar tuan ini Ki Hajar?”, Betapa kagetnya Ki Hajar saat melihat seekor naga dapat berbicara.

‘Kamu siapa ?”, Tanya ki hajar heran.

“Saya Jaka baru klinting tuan.” Jawab Jaka baru klinting.

“Ya, benar, saya Ki Hajar. Darimana kamu tahu namaku? dan siapakah kamu sebenarnya?”, tanya ki hajar.

Mendengar jawaban itu, Jaka Baru Klinthing langsung bersembah sujud di hadapan ayahnya. Ia kemudian menjelaskan siapa dirinya. Awalnya, Ki Hajar tidak percaya jika dirinya memiliki anak berujud seekor naga. Ketika naga itu menunjukkan pusaka Baru Klinthing kepadanya, Ki Hajar pun mulai percaya. Namun, ia belum terlalu yakin.

Ki hajar belum sepenuhnya mempercayai bahwa naga itu adalah anaknya, Ia minta satu bukti lagi pada naga tersebut. Ia meminta kepada naga itu untuk melingkari gunung Telomoyo ini, kalau bisa, kamu benar-benar anakku. Berbekal kesaktiannya Jaka Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Jaka Baru Klinting untuk bertapa di bukit tugur. Ia menyuruh anaknya bertapa di sana supaya anaknya dapat berubah jadi manusia. Akhirnya jaka baru klinting pergi ke bukit tugur.

Sementara itu pada suatu hari di desa Pathok, para penduduknya akan mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen. Mereka akan mengadakan pertunjukkan seni dan tari-tarian, berbagai makanan lezat pun akan dihidangkan untuk para tamu. Maka para penduduk setempat beramai-ramai berburu hewan untuk di masak.

Namun dalam pencarian hewan di hutan tidak ditemukan satu ekor pun.
Ketika hendak kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat seekor naga sedang bertapa. Naga ini tak lain adalah Baru Klinthing. Kemudian mereka berama-ramai menangkap naga itu lalu memotongnya dan dijadikan sebuah masakan yang lezat sebagai hidangan pesta.

Pada saat para penduduk menikmati hidangan pesta, tiba-tiba muncul sosok laki-laki yang berbau amis dan tubuhnya penuh dengan luka. Sosok laki-laki ini adalah anak jelmaan Jaka Baru Klinting. Laki-laki itu ikut dalam keramaian dan ingin menikmati hidangan. Namun laki-laki itu di usir oleh penduduk yang sangat angkuh dengan alasan ia dianggap pengemis yang menjijikan.

“Hey pengemis jelek yang bau amis, pergi kamu dari sini”. ucap salah satu penduduk.

Dengan rasa sakit hati anak laki-laki itu pun pergi meninggalkan pesta. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Nenek tersebut bernama Nyai Lanthung. Ia sangat kasihan melihat anak laki-laki tersebut dan kemudian mengajaknya mampir ke rumahnya. Nyai Lanthung memberinya makanan yang lezat. “Asal kamu tau cu’, semua warga sini itu memiliki sifat yang sombong dan angkuh, mereka tidak mengundang nenek ke acara pesta karena jijik melihat nenek yang jelek ini”, ujar nyai lanthung bercerita.

“Ooo,, begitu ya nek, kalau begitu mereka harus dikasih pelajaran”, ujar Jaka baru klinting.

Kemudian sang anak laki-laki itu berpesan,”Nek, Kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.

Kemudian sambil membawa sebuah lidi anak laki-laki itu kembali ke pesta untuk meminta hidangan. Namun para warga tetap menolaknya dan kembali mengusirnya. Rasa sakit hati yang ada pada dirinya membuat si anak laki-laki tersebut melakukan sebuah tantangan. Lalu ia menancapkan lidi ke tanah.

“Wahai kalian semua yang sangat angkuh, Jika kaliah merasa paling hebat, cabutlah lidi yang ku tancapkan di tanah ini”.

Semua warga berusaha mencabut lidi tersebut, namun tak satupun yang berhasil. Akhirnya anak laki-laki itu sendiri yang mencabutnya, Setelah tercabut terdengar suara gemuruh dan getaran yang menggetarkan desa tersebut kemudian dari lubang tancapan tadi muncul mata air yang sangat deras makin, kemudian semakin membesar dan menggenangi desa itu, semua penduduk tenggelam, kecuali Nyai Lanthung yang sangat baik hati itu, ia yang masuk lesung dan dapat selamat, setelah itu anak laki-laki itu kembali menjadi Naga. dan semua desa itu menjadi rawa-rawa.

Karena airnya bening sekali, maka dinamakanlah“Rawa Pening” yang berada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here