Legenda Minak Jinggo & Damarwulan

0
69
pesugihan.com

Pada jaman dahulu ketika pemerintahan majapahit yang di pegang oleh Ratu Ayu Kencana Wungu telah terjadi pemberontakan yang di lakukan oleh Minak Jinggo. Ketika itu jengho mengacau melaluia banyuwangi pintu belakang untuk mengalihkan perhatian majapahit yang sedang melindungi pintu laut jawa sampai beberapa pasukan jenggho sudah masuk dari semarang tanpa di ketahui. Namun pokok permasalahan pemberontakan itu adalah minak jingo mau menjadikan Ratu Ayu sebagai istri.

Namun tidak di terima karena muka dari minak jingo seperti raksasa. Hampir saja minak jingo meraih kemenangan karena dia begitu sakti sebab mempunyai senjata yang di maksud gada wesi kuning. Dan akhirnya Ratu kencana wungu membuka sayembara jika ada yang bisa menaklukkan Minak jinggi akan memperoleh hadiah yang luar biasa. Setelah itu ada seorang ksatria putra seorang pendeta yang bernama Raden Damarwulan yang masuk arena sayembara.

Dalam peperangannya bersama Minak Jinggo hampir saja Damarwulan tersingkir. Meskipun begitu berkat pertolongan dua istri Minak Jinggo yang bernama Dewi Waita dan Dewi Puyengan akhirnya Minak jingo bisa di taklukkan. Pada saat itu Dewi Waita serta Dewi Puyengan menjadi istri damarwulan. Dan sebagai bahan imbalan karena kemenangannya Damarwulan pun akhirnya menjadi suami Ratu Ayu Kencana Wungu. Mereka pun mempunyai putra yang bernama Raden Paku/Sayid Ainul Yaqin yang nantinya menjadi raja di demak karena ibunya adalah Ratu majapahit.

Damarwulan dana Minak Jinggo ini sangatlah terkenal di jawa tengah terutama daerah jawa timur. Dan sampai sekarang ini kita pun masih bisa melihat peninggalan yang berbentuk makam kuno yang ada di desa Troloyo, Trowulan dan mojokerto. Disana kita bisa melihat kompleks makam yang menurut masyarakat dikira makam Ratu Ayu Kencana Wungu. Dewi Waita dan Dewi Puyengan juga pengikutnya, berdasarkan riset beberapa pakar yang sesungguhnya yaitu makam-makam islam yang awal.

Berdasarkan angka tahunnya sudah tercatat pada nisan-nisan yang menunjukkan angka 1295 m – 1457 m. Bahkan tidak jauh dari troloyo, masihdi desa trowulan juga di temui satu candi yang mana masyarakat setempat dinamakan candi Minak Jinggo. Melihat beragam hiasan dan peninggalan lain yang ada di sekitaran candi itu bisa di prediksi kalau candi Minak Jinggo datang dari jaman majapahit.

Kerajaan majapahit, dimana ratu suhita menggelar ratu ayu kencono wungu terasa resah karena saling serang dengan kebo marcue. Kebo marcue digambarkan sebagai makhluk manusia berkepala kebo marcuet. Raden ayu kencana wungu sebagai ratu mengambil aksi mengadakan sayembara barang siapa saja yang dapat membunuh kebo marcuet bakal mengadakan sayembara jika siapa saja bisa membunuh kebo marcuet bakal mendapat hadiah di ijinkan mempersunting ratu ayu serta jadi raja majapahit.

Sayembara dengan hadiah mengundang selera ini sampai terdengar ke telinga adipati blambangan bhre wirabumi ( minak jingo) serta waktu itu juga minak jingo mengambil keputusan untuk mengikuti sayembara yang ada.
Dengan Gadha wesi kuningnya, minak jingo sukses menaklukkan kebo marcuet. Diceritakan barang siapa saja yang dihadapkan pada gadha wesi kuning punya minak jingo bakal lemas juga ambruk dengan mudahnya. Meskipun kebo marcuet juga mempunyai kesaktian hingga dapat melukai bagian badan minak jinggo sampai jinggo awalnya tampan rupawan jadi cact jelek rupa. Melihat rupa fisik minak jingo yang sudah jelek ratu suhita ingkar janji dengan menampik pinangan minak jinggo.

Sudah pasti keadaan ini membuat minak jinggo geram dan melakukan penyerangan untuk memperoleh haknya mempersunting putri ayu serta jadi raja majapahit. Dan untuk menghadapi pemberontakan adipati blambangan, ratu ayu kembali mengadakan sayembara, siapa saja yang bisa membunuh bhre wirabumi atau minak jinggo bakal di perbolehkan mempersunting serta jadi raja di majapahit.

Seorang pemuda bernama dharma sasongko yang disebut sebagai dammar wulan yang di kenal sebagai pemuda tampan dan bertugas mengurus kuda-kuda patih lohgender ketika itu. Dua putra mahapatih tidak suka pada damarwulan, laying seto serta laying seto serta laying gumitir malah cenderung memusuhi serta kerap berbuat tidak etis dammar wulan iri dengan ketampanan serta kepopulerannya. Patih lohgender juga memiliki seorang putrid bernama anjasmoro yang senang pada damarwulan.

Dalam perjalanannya di satu gunung dammar wulan di hadang laying seto serta laying gumitir dengan maksud merebut kepala minak jinggo. Tujuan seto serta laying gumitir sukses membunuh minak jinggo agar mendapatkan perhatian dari ratu ayu dan di persuntingnya. Namun hal itu tidaklah pernah terjadi karena malah laying seto dan laying gumintir mati di tangan dammar wulan di atas gunung itu. Dan akhirnya dharma wulan sasongko atau dammar wulan jadi raja majapahit dan menikahi ratu ayu suhita.

Itu lah sepenggal cerita tentang kisah sejarah minak jinggo dan damarwulan, semoga cerita ini bisa menambah pengetahuan kita. Dan kita pun paham akan kisah sejarah pada zaman dahulu kala.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here