Legenda Kipas Bulu Angsa

0
64
Source : http://www.3kingdomspodcast.com

Pada suatu hari di daerah Tiongkok, hiduplah seorang ahli strategi militer yang sangat terkenal dalam kisah Tiga Kerajaan. Sang ahli tersebut bernama Zhuge Liang. Selain mempunyai kecerdasan tertentu untuk menentukan setiap langkah yang akan ia ambil, ternyata Zhuge Liang juga mengalami sebuah kejadian menarik ketika ia masih terbilang jauh lebih muda.

Kejadian bermula pada saat ia berusia 9 tahun. Sebenarnya, ia adalah anak yang cukup lincah dan berbakat. Sayangnya, ia sulit untuk berbicara. Oleh sebab itu, seorang pendeta Tao bertemu dengan dia lalu menyembuhkannya dan menjadikan Zhuge sebagai muridnya.

Di bawah pengawasan gurunya, Zhuge Liang tumbuh dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Mulai dari astronomi, filsafat, seni hingga geografi. Karena kerajinan serta ingatan tajam akan pelajaran yang ia miliki, pendeta Tao mengangkat Zhuge menjadi murid kesayangannya.

Semuanya berjalan lancar. Waktu berlalu dan tidak terasa Zhuge Liang kecil kini sudah menginjak usia remaja. Tepat ketika ia berumur 17 tahun, takdir membuat ia berjalan melewati sebuah biara yang sepi. Karena waktu itu hujan sedang turun dengan deras, ia pun terpaksa berlindung di bawahnya.

Sementara ia menetap di sana, tiba-tiba seorang gadis muda menghampirinya lalu mengundangnya masuk ke dalam untuk meminum teh. Ia berkata kepada Zhuge Liang bahwa ia tinggal sebatang kara di dalam biara karena kedua orang tuanya telah meninggal.

Mendengar penjelasan dari sang gadis yang terlihat cantik dan tidak jauh berbeda usianya, hati Zhuge Liang pun menjadi amat senang. Ia masuk ke dalam biara, bercakap-cakap dengan gadis itu lalu memutuskan untuk pulang saat hujan sudah berhenti. Ketika Zhuge Liang berpamitan, gadis muda tersebut mengeluarkan senyum lalu berkata bahwa ia bisa datang kembali apabila sedang merasa lelah.

Di tengah perjalanan, Zhuge Liang mulai merasakan keganjilan karena sebelumnya, ia tidak pernah melihat seorang pun yang tinggal di dalam bangunan biara yang baru saja ia tinggalkan. Meskipun demikian, Zhuge Liang memutuskan untuk sering berkunjung ke dalam biara dan bertemu dengan sang gadis muda.

Berkat pertemuan yang tidak di sangkanya itu, konsentrasi Zhuge Liang sempat menurun. Ia bahkan tidak bisa mengingat pelajaran-pelajaran dengan baik sehingga memberikan jawaban yang tidak masuk akal atas persoalan yang di perhadapkan kepadanya oleh sang guru.

Menyadari apa yang Zhuge Liang alami, pendeta Tao mengajak murid kesayangannya tersebut untuk berdiskusi dengannya. Sambil meratapi segala penurunan dari Zhuge, pendeta Tao bertanya kepadanya dalam bentuk perumpaan. Saat Zhuge Liang membalas perumpaan dari gurunya, ia menjadi tahu bahwa tidak ada masalah apapun yang bisa ia sembunyikan darinya.

Karena pendeta Tao mengetahui apa yang Zhuge Liang sedang hadapi, ia pun memutuskan untuk mengungkap identitas asli dari gadis muda yang Zhuge temui di sebuah biara. Pendeta Tao berkata bahwa gadis muda itu bukanlah manusia melainkan seekor angsa yang di hukum turun ke Bumi karena mencuri buah persik di sekitar Istana Kayangan.

Sejak tiba di Bumi, angsa tersebut mengubah wujud dirinya menjadi seorang gadis cantik. Sekalipun cantik, sebenarnya ia bodoh dan memiliki sifat pemalas dan penuh dengan nafsu. Karena Zhuge Liang terus memperhatikan si gadis angsa, pendeta Tao mengingatkan bahwa ia dapat kehilangan akalnya sehingga merasa tersiksa.

Zhuge Liang amat tercengang mendengar perkataan guru terbaiknya. Karena merasa khawatir akan keadaan dirinya, ia pun memutuskan untuk bertanya mengenai hal-hal yang harus ia lakukan supaya terbebas dari keadaan tersebut.

Melihat raut wajah muridnya yang penuh dengan kekhawatiran, sang pendeta tersenyum lalu memberi nasihat bahwa ia harus membawa sebuah tongkat berkepala naga dan pergi ke dalam biara untuk membakar baju dari gadis muda saat ia sedang terbang ke langit pada tengah malam untuk mandi.

Singkat cerita, Zhuge Liang muda menuruti nasihat gurunya. Ia pergi ke biara diam-diam ketika tengah malam lalu mencari, menemukan serta membakar baju dari angsa yang menyamar menjadi manusia. Melihat kepulan asap keluar dari tempat tinggalnya, angsa itu segera turun ke Bumi dan berusaha untuk mematuk kedua mata Zhuge.

Upayanya tidak berhasil. Zhuge Liang memukul dirinya dengan tongkat sehingga ia terpaksa terbang menjauh dan meninggalkan sekumpulan bulu di tangan Zhuge Liang. Akhirnya, Zhuge Liang terbebas dari kontrol si angsa dan kembali menjalani hari-harinya seperti biasa.

Zhuge Liang mengolah bulu kipas yang ia dapatkan menjadi sebuah kipas yang sering ia bawa kemana pun. Kipas bulu angsa itu tetap ia pakai bahkan pada saat ia menyusun serta mengeluarkan taktiknya terhadap musuh sebagai peringatan bahwa ia harus tetap berhati-hati akan segala sesuatu yang terlihat manis di depan namun kenyataannya tidak demikian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here