Legenda Jaka Tarub

0
37

Dahulu kala Di desa Tarub, tinggalah seorang ibu bernama Mbok Randa Tarub. Ia hidup sebatang kara. Oleh karenanya Mbok Randa Tarub kemudian mengangkat seorang anak laki-laki yang ia beri nama Jaka Tarub, Mbok Randa sangat menyanyangi jaka tarub, ia mengasuhnya dari kecil sampai jaka tarub tumbuh dewasa dengan penuh perhatian selayaknya anak sendiri.

Setelah dewasa. jaka tarub sering membantu ibunya, ia juga menjadi pemuda yang tampan dan sering berburu binatang di hutan menggunakan sumpitnya. karena ketampanannya itu sehingga banyak wanita yang menyukainya dan menginginkan jaka tarub jadi suaminya. Namun Jaka Tarub belum berniat untuk menikah. Namun Mbok Randa sudah menginginkan jaka tarub untuk menikah.

“Jaka, Mbok ingin kamu segera menikah, kamu sudah dewasa lagian juga wajah kamu tampan pasti banyak wanita yang mau sama kamu ” ujar Mbok Randa.

Namun rupanya jaka tarub belum berkeinginan untuk berumah tangga, ia masih menginginkan waktu yang tepat untuk menikah. Hingga suatu hari Mbok Randa meninggal dunia karena sakit. Jaka tarub sangat sedih ditinggal oleh mbok randa, ia merasa bersalah karena belum mampu memenuhi keinginan mbok randa. Kini jaka tarub menjadi pemuda pemalas dan merasa semangat hidupnya berkurang akibat kepergian mbok randa.

Di suatu hari Pada saat tidur siang jaka tarub bermimpi sedang makan daging rusa yang sangat lezat. Kemudian setelah terbangun ia segera bergegas untuk memburu rusa di hutan, Ia menjelajahi hutan untuk memburu rusa, namun usahanya sia-sia, tidak satu ekor rusa pun ia dapatkan. hingga ia kelelahan sampai akhirnya ketiduran di sebuah batu besar. saat tertidur tersebut jaka tarub mendengar suara sayup-sayup dari perempuan yang sedang bercanda.
“Aku mendengar suara-suara perempuan. Aku harus mencari tahu siapa mereka?” gumam Jaka.

Setelah mencari-cari sumber suara itu, rupanya suara tersebut berasal dari sebuah telaga. kemudian jaka tarub pergi menuju telaga tersebut untuk melihatnya, betapa terkejutnya jaka tarub ketika melihat tujuh orang perempuan sedang mandi di telaga tersebut. Ia terperanjat merasa heran, bagaimana mungkin ada tujuh perempuan cantik bisa mandi di tengah pedalaman hutan seperti ini. 

“Siapa mereka?, dan bagaimana mereka bisa mandi di pedalaman hutan seperti ini.”. pikir jaka tarub.

Ketujuh perempuan tersebut sangat cantik luar biasa, ia belum pernah melihat perempuan secantik ini, oleh karena itu ia sangat berhasrat untuk menikahi salah satu di antara mereka. Saat ia melihat tujuh selendang tergeletak di pinggir telaga, jaka tarub mencuri salah satu selendang tersebut dan menyembunyikannya.
“Aku ingin menikahi salah satu dari mereka, sebaiknya aku sembunyikan selendang ini”. ucap jaka tarub.

Menjelang sore hari, ketujuh perempuan cantik ini mengakhiri mandinya dan segera bergegas ke kahyangan. Jaka Tarub akhirnya tahu bahwa mereka adalah bidadari kahyangan. Salah seorang dari bidadari yang bernama Nawang Wulan, terlihat kebingungan mencari selendangnya sementara keenam perempuan lainnya telah terbang ke kahyangan.
“Aduh dimana selendangku, kalau hilang aku tidak bisa kembali ke kahyangan.”, ucap nawang wulan panik.

Di tinggal para saudaranya yang lebih tua, nawang wulan sedih dan menangis.Ia merasa takut karena tidak mungkin ia tinggal di dunia manusia. Melihat hal tersebut, Jaka Tarub segera mendekati nawang wulan dan menawarkan bantuan untuknya.
“Hai, kenapa adinda menangis ? Nama saya Jaka Tarub. Saya tinggal di desa di dekat sini. Apa yang bisa saya bantu?” Jaka berpura-pura menawarkan bantuan.

“Oh, saya kehilangan selendang jadi tidak bisa pulang ke kahyangan” kata Nawang Wulan.
“Oh, begitu, kalau begitu adinda jangan takut, kamu boleh tinggal di rumahku, tenang aku akan menjagamu” kata Jaka tarub.
“OK Baiklah kalau begitu. Aku akan tinggal di rumahmu saja. Daripada aku tidak punya tempat tinggal” Ujar nawang wulan dengan terpaksa.

Dewi nawang wulan akhirnya tinggal di rumah jaka tarub, tidak lama mereka berdua pun menikah, dari pernikahannya mereka di karuniai anak yang diberi nama Nawangsih. mereka bertiga hidup bahagia, tiap hari dewi nawang wulan memasak nasi untuk jaka tarub. Pada suatu ketika, saat nawang wulang memasak nasi, Ia akan pergi ke sungai sebentar dan berpesan kepada jaka tarub agar menjaga apinya dan jangan membuka tutup kukusnya. Jaka tarub mengiyakan, namun karena penasaran jaka tarub akhirnya membuka tutup kukusan itu, dilihatnya ternyata nawang wulang hanya memasak satu butir beras.

Ketika Nawang Wulan pulang dari sungai, ia mendapati kukusannya hanya ada satu butir beras.
“Di dalam kukusan hanya ada satu butir beras, berarti suamiku telah melanggar larangan dengan telah membuka kukusan ini.” ujar Nawang Wulan.

Nawang wulan ternyata memiliki kesaktian yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, ia bisa menanak satu butir padi menjadi sebakul nasi. Nawang Wulan akhirnya mengerti bahwa suaminya telah membuka kukusan tersebut. Alhasil, kesaktian Nawang Wulan yang dirahasiakannya, menjadi hilang. akibatnya, kini ia harus berkerja seperti manusia biasa, seperti menumbuk padi dan sebagainya.

Suatu ketika nawang wulan hendak mengambil padi, namun hanya tersisa sedikit padi. dan tiba-tiba selendang yang dimilikinya muncul dari tumbukan padi tersebut. Nawang wulan akhirnya tau bahwa suaminya lah yang telah mencurinya.

Ia marah “Suamiku. Gara-gara Kakanda membuka tutup kukusan, kesaktianku menjadi musnah. Dan juga ternyata, selama ini kamu lah yang menyembunyikan selendangku. Ini Semua adalah rencanamu. Sampai disini berakhir sudah hubungan kita. Aku akan kembali ke kahyangan.” kata Nawang Wulan.

Jaka tarub meminta maaf kepada nawang wulan namun permintaan maafnya tidak di terima oleh nawang wulan, dan akhirnya nawang wulang pergi ke kahyangan. Nawang wulan meminta dibuatkan dangau di dekat rumahnya. Ia menyuruh suaminya untuk meletakkan Nawangsih di dangau tersebut agar tiap malam ia bisa menyusuinya.

Atas perbuatannya Jaka Tarub merasa sedih dan sangat menyesal, Ia segera membuat dangau di dekat rumah. Dan sesuai permintaan istrinya, ia meletakkan anaknya, Nawangsih, setiap malam di dangau untuk disusui oleh Nawang Wulan.

Sejak saat itu, Jaka Tarub menjadi pemuka di desanya dengan gelar Ki Ageng Tarub. Ia bersahabat dengan Raja brawijaya. Beberapa tahun kemudian setelah nawangsih tumbuh dewasa ia menikahkan dengan putra kandung brawijaya yang bernama lembu peteng. waktu berlalu akhirnya jaka tarub meninggal dunia.

kemudian Lembu Peteng menggantikan posisinya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Pernikahan lembu peteng dan nawangsih melahirkan anak bernama Ki Ageng Getas Pandawa. Setelah dewasa dan telah menikah, Ki Ageng Getas Pandawa memiliki seorang putra yang bergelar Ki Ageng Sela. Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya) (1587 – 1601) sang pendiri Kesultanan Mataram, merupakan cicit Ki Ageng Sela.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here