Legenda Danau Maninjau

0
9

Alkisah pada zaman dahulu di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, Sumatera Barat, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah meninggal dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, anak terakhir yang merupakan satu-satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau biasa dipanggil Sani. Karena jumlah laki-laki bersaudara itu sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan Bujang Sembilan.

Semenjak orang tua mereka meninggal dunia, mereka diasuh oleh seorang paman yang bernama Datuk Limbatang yang biasa mereka panggil Engku. Sementara Datuk Limbatang mempunyai seorang anak laki-laki bernama Giran.

Setelah menginjak dewasa, Sani tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik jelita. Ia sering bertemu dengan Giran. Giran dan Sani pun saling jatuh cinta. Mereka berdua akhirnya berpacaran.

“Aku sangat mencintaimu dik, aku harap hubungan cinta kita bisa sampai ke jenjang pernikahan” ucap Giran kepada Sani.

“Iya bang, adik juga mencintaimu”, ujar sani.

Pada mulanya, mereka menyembunyikan hubungan tersebut. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak balk, mereka akhirnya mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing-masing. Kedua keluarga itu menyambut hubungan Sani dan Giran dengan suka cita.

“Ok, jadi kapan pernikahan mereka berdua bisa dilaksanakan?,” ujar Datuk Limbatang kepada Kukuban kakak tertua dari sani.

“InsyaAllah secepatnya Datuk”, ucap kukuban.

Pada suatu hari, Saat panen usai, warga di desa itu melangsungkan perayaan adat berupa pertunjukan pertandingan silat. Semua bersemangat mengikuti kegiatan ini, termasuk Kukuban dan Giran. Kukuban yang cukup jago bermain silat berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama terjadi pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.

Ketika pertarungan berlangsung, keduanya mengeluarkan keahlian masing-masing. Kukuban sangat tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh Giran. Semua penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan.

Semenjak kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran. la tidak terima atas kekalahan tersebut yang menyebabkan kakinya patah.

“Aku tidak terima dengan kekalahan ini,, akan ku balas kau Giran”, ucap Kukuban dengan nada keras.

Pada suatu hari, Datuk Limbatang beserta keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sani dengan Giran. Di luar dugaan, Kukuban berubah pikiran, ia menentang hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban dan Datuk Limbatang.

“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan adikku Sani dengan anak engku,,Giran sudah mempermalukanku di depan banyak warga dan ia juga sudah mematahkan kakiku!” ujar Kukuban.

“Tenang, kukuban, tenang.. semua bisa dibicarakan baik-baik”, ujar datuk limbatang.

“Pokoknya aku tidak terima Giran menikahi adikku”, ucap kukuban. Usaha Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan persetujuannya tidak membuahkan hasil.

“Anakku, Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu patah. Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah kejadian yang sesungguhnya.”

Namun, semua sia-sia. Kukuban tetap menolak memberikan restunya. Sani dan Giran pun tidak bisa menikah.

Giran dan Sani pun sangat sedih, kemudian pada keesokan harinya Giran mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai untuk membicarakan masalah ini.

“Apa yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan kita,” keluh Giran.

“Entahlah, Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia sangat membenci Abang” isak Sani. Dengan perasaan tak karuan, Sani beranjak dari tempat duduknya. Namun, sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting berduri dan melukai kakinya hingga berdarah. Sani pun merintih kesakitan, “Aduh bang,, kaki ku,, sakit sekali”

“Astaga Adik, kakimu terluka, abang bantu mengobatinya,” ujar Giran. Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.

Mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah memanggil beberapa warga untuk mengawasi Sani dan Giran.

Melihat Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran pun akhirnya digiring warga untuk diadili, karena mereka berdua dianggap telah melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.

Sidang adat memutuskan bahwa mereka berdua bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk sekitar.

Kemudian Sani dan Giran digiring oleh warga menuju puncak Gunung Tinjau. Mata mareka ditutup dengan kain hitam. Giran dan Sani masih tetap berusaha meyakinkan penduduk bahwa mereka tidak bersalah, namun usahanya tidak berhasil.

“Kami tidak bersalah,, kalian semua keji..” teriak Giran ketika sedang digiring warga.

Giran-dan sani pun tiba di puncak Gunung Tinjau, disana Giran menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, Letuskanlah gunung ini agar menjadi pelajaran bagi mereka semua,” doa Giran sambil meneteskan air mata. kemudian, Sani dan Giran melompat ke dalam kawah yang sangat panas.

Bujang Sembilan dan para penduduk merasa cemas dengan doa yang dipanjatkan Giran. Jika ternyata mereka salah menuduh, mereka akan hancur.

Tidak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat yang menyebabkan gempa hebat yang menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk yang berada di sekitarnya.

Tidak ada satu pun yang selamat. Letusan tersebut menyebabkan terjadinya sebuah kawah yang lama kelamaan membentuk sebuah danau. Akhirnya Danau tersebut disebut dengan Danau Maninjau yang cukup terkenal hingga sekarang.

Untuk mengabadikan kisahnya, nama-nama mereka dijadikan sebagai nama daerah yang berada di sekitar Danau Maninjau seperti, Tanjung Sani, Koto Kaciak, Sigiran, Sungai Batang, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Sigalapuang, Balok dan Kukuban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here