Legenda Bukit Kelam Sintang

0
22

Alkisah, di Negeri Sintang, Kalimantan Barat, hiduplah dua orang pemimpin dari keturunan dewa yang sama-sama memiliki kesaktian tinggi bernama bujang beji dan temenggung marubai. Bujang beji berwatak sangat jahat dan pendengki, Sementara Temenggung Marubai memeiliki watak yang sangat baik suka menolong, berhati mulia, dan rendah hati. Kedua pemimpin tersebut memiliki mata pencaharian menangkap ikan.

Bujang Beji dan anak buahnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di simpang melawi lebih banyak dan beraneka ragam daripada di simpang kapuas. Tidak heran jika Bujang beji sangat iri terhadap temenggung marubai.

Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan cara menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan bebatuan, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam perangkapnya. Hanya ikan-ikan yang besar saja yang ia ambil sedangkan yang kecil-kecil ia lepaskan kembali. Dengan hal ini stok ikan di simpang melawi tidak akan pernah habis.

Bujang beji yang melihat kesuksesan temenggung marubai menangkap ikan merasa iri. Tak mau kalah ia kemudian pergi menangkap ikan di Simpang Kapuas dengan cara menuba (racun).

“Kurang ajar, aku tidak boleh kalah dengan temenggung marubai,, aku harus mendapatkan ikan yang lebih banyak”, ujar bujang beji sinis.

Dengan cara menuba ia dapat menghasilkan banyak ikan. Namun, lama kelamaan ikan di simpang kapuas hampir habis karena ia tidak menyadari jika menangkap dengan cara menuba dapat mematikan banyak ikan. Akibatnya tiap hari ia hanya berhasil menangkap sedikit ikan, sementara temenggung marubai masih bisa menangkap banyak ikan di simpang melawi karena ia menggunakan cara yang baik.

Sejenak ia merenung ”wah, kalau seperti ini terus gawat nih, aku harus cari cara agar ikan-ikan di sungai melawi juga habis!” gumam Bujang Beji dengan geram.

Setelah sekian lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara. “Ya, aku harus menutup aliran ke Sungai Melawi dengan batu besar di hulu Sungai Melawi. Dengan begitu, aliran Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.” ujar bujang beji.

Keesokan harinya bujang beji langsung beraksi, ia mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memotong puncak Bukit Batu yang besar itu dan dipikul dipundaknya . Karena jarak antara Bukit Batu dengan hulu Sungai Melawi cukup jauh, dengan kesaktiannya pula ia mengikat puncak bukit itu dengan tujuh lembar daun ilalang.

Namun di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara beberapa perempuan yang sedang menertawakannya. Ternyata mereka sedang mengawasi tingkah laku bujang beji. Merasa kesal ia akhirnya menoleh ke atas, namun belum sempat menoleh, kaki bujang beji menginjak duri dan membuat kakinya berdarah.

”Aduuuhhh… !” jerit Bujang beji sambil merasakan sakit.

Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang tadi terputus. Akibatnya, puncak bukit batu jatuh dan tenggelam di sebuah rantau ( sebuah cekungan berbentuk teluk berupa rawa) yang disebut Jetak. Dengan sangat marah, Bujang Beji menatap wajah dewi-dewi yang masih menertawakannya.

”Awas, kalian ! Tunggu saja pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada dewi-dewi tersebut sambil menghentakkan kakinya ke arah bukit sekitarnya untuk melepaskan duri beracun yang menempel di kakinya.

”Enyahlah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji dengan perasaan marah.

Setelah duri itu terlepas, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rawa Jetak  itu. Namun, Bukit Batu itu sudah menancap sangat dalam pada rawa Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya Bujang Beji pun gagal memindahkan puncak Bukit Batu untuk menutup hulu Sungai Melawi.

Ia marah dan ingin balas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya. Ternyata aksi dari bujang beji diketahui oleh Tumenggung Marubai. Tumenggung Murubai hanya diam dan tersenyum saja melihat dewi-dewi yang menertawakan bujang beji.

Sementara itu Tumenggung Marubai dan anak buahnya seperti biasa, mengangkat bubu mereka dan dari beberapa tempat bubu yang mereka pasang berhasil menangkap banyak ikan.

“Ayo prabu tumenggung, kita cari ikan lagi di sungai”, ujar anak buahnya.

Dengan hasil dari menangkap ikan tersebut, kehidupan sehari-hari mereka kian hari menjadi lebih baik. Bujang Beji pun menjadi sangat iri terhadap tumenggung marubai. Dan ia juga berhasrat untuk balas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya.

Untuk dapat melaksanakan balas dendamnya, Bujang Beji kemudian menanam pohon Kumpang Mambu (kayu raksasa yang menjulang sampai ke langit) yang akan dipergunakan sebagai jalan ke Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya. Dalam hitungan beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dari bawah.

Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Beji melakukan upacara sesajen adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu upacara memberi makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan.

Namun, ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajennya. Binatang itu adalah kawanan Rayap dan Beruang. Mereka sangat kecewa, marah dan murka, karena merasa diremehkan dan tidak dihargai oleh Bujang Beji.

“Kurang ajar bujang beji, engkau tidak menganggap ku,, baiklah suatu nanti akan ku balas engkau”, ujar beruang.

“Ya benar, bujang beji juga meremehkan ku,, sebaiknya kita gagalkan saja rencana dari bujang beji”. ujar kawanan rayap.

Kemudian Kawanan Rayap dan Beruang tersebut berdiskusi untuk menggagalkan niat bujang beji pergi ke kahyangan. Akhirnya di temukan solusi yaitu dengan cara menghancurkan pohon tersebut disaat Bujang Beji sedang memanjatnya.

Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar dan batang pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat bujang beji akan mencapai kahyangan lalu terdengar suara keras yang sangat dahsyat.

”Kretak… Kretak… Kretak…kretaakk !!!” Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu yang sangat tinggi itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.

”Tolooong… ! Tolooong…Tooolooooong. !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong. Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itupun mati seketika. Maka gagal sudah usaha Bujang Beji untuk membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.

Menurut ceritanya, tubuh Bujang Beji di potong-potong lalu dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya agar dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam, Kelam berarti berwarna gelap. Gelap adalah warna dari waktu malam. Itulah mengapa disebut Gunung Kelam.

Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. kemudian bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap. Dasar gunung Nanga Silat yang puncaknya telah diangkat oleh Bujang Beji bernama Bukit Tanggul.

Tidak begitu jauh dari gunung di hulu Sungai Melawi Nanga Pinoh, kita dapat menemukan Batu Lintang. Berdasarkan ceritanya, Batu Lintang adalah bekas batu penahan untuk menempatkan bubu yang dibuat oleh Tumenggung Marubai, dan juga Batu Tinting yang terletak antara Wilayah Tempunak dan Sintang. Bila air sungai Kapuas menyusut, tiga-empat batu bisa dilihat dengan jelas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here