Legenda Batu Raden

0
27

Alkisah, pada zaman dahulu, Hiduplah seorang pemuda tampan bernama Suta. Suta bekerja sebagai seorang abdi di Kadipaten Kutaliman, Banyumas, Jawa Tengah. Tugas yang harus dijalankan adalah merawat dan membersihkan kandang kuda milik Adipati Kutaliman. Selain itu Suta juga bertugas menjaga keamanan wilayah kadipaten dari gangguan orang-orang jahat. Suta terkenal akan sifatnya yang baik dan jujur, sehingga ia di sukai oleh banyak masyarakat di sekitarnya

Karena sifatnya yang baik, maka selama bekerja ia tidak pernah mendapatkan masalah yang berarti. Pada suatu hari, selepas bekerja Suta memutuskan untuk jalan-jalan keliling wilayah kadipaten, ia ingin mencari suasana baru sekaligus menghilangkan rasa penat karena seharian bekerja merawat dan membersihkan kandang kuda. Namun, karena wilayah kadipaten sangat luas, maka ia hanya dapat mencapai satu lokasi saja. hari berikutnya diulangi lagi perjalanan menuju ke lokasi lain, begitu seterusnya hingga suta berhasil mengelilingi wilayah kadipaten.

Pada suatu perjalanan, Ketika Suta baru saja melewati sebuah pohon mangga, ia mendengar jeritan seorang perempuan. Dia pun berlari menuju sumber suara tersebut. Ketika didatangi, Ternyata di balik pohon mangga tersebut terdapat seekor ular besar yang sedang membuka lebar-lebar mulutnya, dan ular tersebut siap memangsa seorang perempuan di hadapannya. Perempuan itu sangat ketakutan, wajahnya pucat seperti akan pingsan, ia berusaha meminta tolong kepada orang yang lewat.

“Tolong, tolong aku raden.. aku akan dimangsa ular tersebut”, ucap perempuan tersebut kepada Suta.

Melihat kejadian tersebut Suta langsung menolong perempuan itu. Meskipun sangat takut, Suta memberanikan diri mendekati ular raksasa tersebut. Dengan berbekal sebilah pedang kusam dia segera menyabetkannya ke arah tubuh sang ular. Butuh waktu cukup lama untuk Suta membunuh ular tersebut. Cabikan dan sabetan pedangnya akhirnya berhasil mematikan hewan berbisa itu. Dan, setelah sang ular raksasa itu mati, tiba-tiba perempuan tadi jatuh pingsan.

kemudian seorang pembantu datang dan membopong perempuan itu ke sisi pendopo tak jauh dari pohon mangga. Suta lalu mendekati dan bertanya pada Sang pembantu, “siapakah perempuan ini, bi?” “Dia adalah putri kesayangan dari Adipati Kutaliman,” jawab pembantu singkat.
Mendengar jawaban singkat itu, Suta menjadi terkejut karena perempuan yang telah ia tolong ternyata adalah anak dari majikannya sendiri.

Sudah cukup lama menjadi penghuni kadiapten, Suta sebelumnya sudah sering mendengar tentang putri kadipaten yang katanya sangat cantik dan berwatak baik. Tetapi, ia tak pernah bertemu, bahkan sekedar melihatnya pun ia tidak pernah. Setelah sang putri kadipaten siuman, Sang putri kemudian mengucapkan terimakasih kepada Suta yang telah menyelamatkan nyawanya. “Terimakasih ananda,, engkau telah menolong hamba”, ucap sang putri. “Gak kebayang jika tidak ada ananda, pasti hamba telah mati di mangsa ular tersebut”. Suta pun sangat bahagia karena bisa bertatapan dengan sang putri yang sangat cantik tersebut.

Sejak kejadian tersebut, keduanya pun sering bertemu dan semakin akrab. Hingga kemudian karena sering bertemu maka timbullah rasa sayang dan cinta di antara keduanya, hingga akhirnya Suta memberanikan diri datang pada Adipati Kutaliman untuk melamar putri kesayangannya.

Adipati Kutaliman sudah tau kedekatan putrinya dengan Suta, tapi ia tak menyangka jika Suta memberanikan diri melamar putrinya. Maka ketika Suta selesai mengutarakan niat, dengan sangat marah Adipati berkata, “Engkau ini hanyalah seorang pembantu. Sungguh tidak pantas bila disandingkan dengan putriku! Pengawal, tangkap orang ini dan masukkan ke penjara bawah tanah!”. Suta dinilai lancang melamar sang putri.

Sang puteri yang mendengar bahwa Suta akan dimasukkan penjara bawah tanah merasa sedih. ia tidak menyangka kalau Ayahandanya akan sangat marah terhadap Suta karena ingin melamar dirinya. Ia tau jika penjara bawah tanah itu sangat lembab, pengap, dan gelap. Padahal, penjara itu hanya dikhususkan bagi orang-orang yang melakukan kejahatan tingkat tinggi sehingga para tahanan sangat jarang diberi makan dan minum.

Agar sang kekasih dapat segera keluar dari penjara bawah tanah. Sang Putri Adipati kemudian menyusun rencana. ia meminta bantuan seorang pembantu kepercayaannya untuk mengeluarkan Suta dari penjara bawah tanah. Sementara itu ia bersama kudanya menunggu di salah satu sisi di Kadipaten. Rencana pun dilaksanakan pada suatu malam, si pembantu mengendap-endap menuju penjara bawah tanah. ia berhasil melewati penjaga yang tertidur karena memakan kue yang sudah dipersiapkan sebelumnya. pembantu pun menemui Suta.

Singkat cerita, Sang pembantu pun melaksanakan tugasnya dengan mengelabuhi penjaga penjara. Tetapi ketika berhasil membuka pintu sel, ia mendapati Suta tengah terbaring lemah dalam kondisi menggigil karena kekurangan pasokan makanan dan minuman. Sang pembantu yang membawa sedikit bekal segera memberi Suta makan dan minuman agar tubuhnya tidak lemas. Selain itu, ia juga memberi suta pakaian baru.

Setelah berpakaia, Suta bersama pembantu lalu berjalan mengendap agar bisa keluar dari penjara tanpa diketahui oleh sang penjaga. Sesampainya di sudut Kadipaten, Suta dan Sang Puteri segera menaiki kuda dan pergi ke arah selatan menuju lereng Gunung Slamet, sementara Sang pembantu kembali ke kediaman Adipati Kutaliman.

Besoknya menjelang tengah hari, mereka memutuskan untuk beristirahat di tepi sebuah sungai sambil memulihkan tenaga. Tempat itu berhawa sejuk serta memiliki panorama alam yang begitu indah sehingga membuat Sang Putri takjub dan ingin menetap. Ternyata Suta pun demikian dan mereka sepakat untuk menetap serta membina rumah tangga disana.

Dan, seiring berjalannya waktu tempat mereka menetap tersebut oleh masyarakat sekitar kemudian dinamakan Baturaden. Kata “batu” memiliki arti yaitu “batur atau pembantu” dan “raden” berarti “bangsawan”. Jadi, Baturaden dapat diartikan sebagai tempat tinggal seorang pembantu dan seorang bangsawan hingga akhir hayatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here