Legenda Batu Menangis

0
15

Dahulu kala di sebuah bukit yang jauh dari desa, di daerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya. Anak gadis itu sangat cantik rupawan. Namun sayang, ia mempunyai perilaku yang amat buruk. Gadis itu sangat pemalas,ia tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah. Kerjanya hanya berdandan setiap hari. Selain itu, anak gadis itu bersikap manja. Segala keinginannya harus di turuti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya maka permintaanya harus dikabulkan, kalau tidak ia akan memarahi ibunya. ia tak peduli keadaan ibunya yang miskin. Bahkan sang ibulah yang bekerja keras demi anaknya.

Setiap hari si anak gadis itu selalu merasa kurang bersyukur atas apa yang telah di dapatkannya, “Ah, aku memang jelita,” katanya. “Aku lebih pantas tinggal di istana kerajaan daripada tingga di gubuk yang kumuh ini” Matanya memandang ke sekeliling ruangan.

“Lemari aku pun kecil begini dan sudah rusak, mana muat untuk menaruh pakaian ku”, ucap anak gadis itu, “Sampai kapan kita akan hidup miskin seperti ini bu?”. Sang ibu hanya terdiam sambil mendoakan anaknya dari dalam hati.

Pada suatu hari si anak gadis tersebut di ajak oleh ibunya untuk berbelanja di pasar, perjalanan jauh harus mereka tempuh. si anak gadis itu berpakaian bersih dan rapi serta berdandan cantik agar setiap laki-laki yang melihatnya mengaguminya. ia berjalan di depan sang ibu yang hanya berpakaian kotor dan kusam, ia tidak peduli dengan ibunya yang membawa keranjang. ia berjalan seperti tanpa beban.

Ketika melakukan sebuah perjalanan menuju pasar hampir semua orang tidak mengenal mereka dan tidak tahu bahwa kedua orang tersebut adalah anak dan ibu. ketika sampai di desa banyak pemuda laki-laki yang terpesona dengan kecantikan si anak gadis tersebut,mereka menggoda si anak gadis tersebut.

“Hai cantik, mau pergi kemana kamu ?” sapa mereka.

“Aku mau pergi ke pasar nih.” jawab si anak gadis itu.

Akan tetapi, para warga bertanya-tanya saat melihat ada seorang ibu tua berjalan di belakang anak gadis tersebut, hal itu terlihat sangat kontras.

“lalu, siapa nenek yang di belakangmu itu? Ibumu kah?” tanya pemuda tersebut.

Si anak gadis tersebut merasa malu dan menjawab bahwa nenek yang berjalan di belakangnya bukan ibunya, melainkan hanya seorang pembantunya. tentunya hal ini membuat sang ibu sakit hati di perlakukan seperti itu oleh anak gadisnya. namun sang ibu masih bisa menahan amarah dan berharap anaknya mau berubah.

Namun keinginan sang ibu tidak terkabul, sepanjang perjalanan si anak gadis tersebut banyak di tanya oleh warga yang melihat dan jawabannya masih tetap sama. Hal ini membuat sang ibu kecewa dan marah.

“Wahai anakku, sebegitu malu kah kau mengakui aku sebagai ibumu? Aku yang melahirkanmu ke dunia ini. Apakah ini balasanmu pada ibumu yang menyayangimu?” kata sang ibu.

Si anak gadis tersebut merasa kesal dan malah mengucapkan kata-kata kasar kepada ibunya, ini membuat sang ibu menangis dan tertunduk lesu, air mata sang ibu mengalir deras membasahi pipinya. si anak gadis tersebut meninggalkan ibunya sendirian di pinggir jalan. Sang ibu pun berdoa, bahwa dirinya tak kuat lagi menahan segala hinaan dari anak kandungnya yang tega menyakitinya dan meminta kepada Tuhan untuk menghukum anak gadisnya yang durhaka tersebut. ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain menadahkan kedua tangannya. Kecewanya sang ibu membuatnya mengutuk anaknya menjadi batu.

Hingga akhirnya hujan turun sangat deras dan petir menggelegar, membuat si anak gadis tersebut ketakutan, ia lari menjauh. Dan dengan kekuasaan tuhan kaki sang gadis tersebut tidak bisa di gerakkan dan telah berubah menjadi batu. ketika perubahan tersebut sampai setengah badan si anak gadis tersebut menangis dan menyesali perbuatan jahatnya kepada ibunya. ia pun berteriak minta ampunan kepada ibunya “Ibu, Ampuni aku, ampuni aku yang selama ini menayikiti mu, ampuni aku yang selama ini durhaka kepada mu”.

Namun semuanya sudah terlambat, sang ibu hanya diam saja sepertinya ia sudah betul-betul merasakan sakit hati yang sangat berat yang harus ia alami. Hingga akhirnya seluruh tubuh anak gadis itu berubah menjadi batu.
Walaupun sudah menjadi batu, tetapi batu tersebut masih memiliki mata, orang-orang melihat mata dari batu tersebut menitikkan air dan sepertinya menyimpan sebuah rasa penyesalan. Atas hal tersebut, batu tersebut pun dikenal sebagai “batu menangis” yang asalnya dari tangisan anak gadis yang durhaka terhadap ibu kandungnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here