LEGENDA BATU MENANGIS, GADIS CANTIK YANG BERUBAH MENJADI BATU

0
73
Source: ivanpermana28.blogspot.com

LEGENDA BATU MENANGIS, GADIS CANTIK YANG BERUBAH MENJADI BATU

Dahulu kala, di sebuah Provinsi Indonesia tepatnya provinsi Kalimantan Barat, dikisahkan ada seorang janda yang sangat miskin hidup bersama anak gadisnya. Sebut saja ibunya si Mbok dan anak gadisnya Si Gadis. Mereka tinggal di sebuah bukit yang cukup terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk.

Gadis tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik. Namun, sayangnya ia memiliki sifat yang cukup buruk. Gadis adalah perempuan cantik pemalas. Gadis tidak pernah mau membantu pekerjaan ibunya. Dia lebih suka menyibukkan diri dengan berdandan, mempercantik dirinya. Setiap sore kegiatan wajib yang dia lakukan adalah berkelilig kampung tanpa tujuan yang jelas, kecuali ingin memamerkan kecantikan wajahnya.

Tidak hanya seorang gadis yang malas, gadis itu juga sangat manja. Semua yang dia inginkan harus dikabulkan, tidak memperdulikan bahwa keadaan ibunya sangat miskin.
Setiap kali si Mbok mengajak Gadis ke sawah untuk membantu pekerjaannya, Gadis selalu menolak.

“Nak, ayo bantu ibu di sawah,” ajak si Mbok suatu hari.
” Tidak mau bu, nanti kukuku rusak. Kulitku menjadi kotor,” dengan tegas Gadis menolak.
“Apa kamu tidak kasihan pada ibu, Nak?” si Mbok bertanya dengan nada sedih.
“Tidak, ibu saja yang ke sawah. Ibu kan sudah tua, sudah keriput dan tidak mungkin ada laki-laki yang mau dengan ibu tua yang keriput,” jawab Gadis dengan nada ketus.

Mendengar jawaban menyakitkan itu, si Mbok tidak mampu berkata-kata lagi. Dia pergi ke sawah dengan perasaan sedih. Sementara Gadis sibuk berdandan di dalam rumah untuk terus mempercantik wajahnya.
Saat si Mbok pulang dari sawah, Gadis meminta uang upah hasil si Mbok bekerja untuk dibelikan alat-alat kecantikan.

“Bu mana uang upahnya itu?” seru Gadis pada si Mbok
“Jangan, Nak, ini untuk kebutuhan sehari-hari kita,” kata si Mbok
“Tapi bu, bedakku habis. Aku harus beli yang baru,” Gadis terus memaksa
“Kamu memang anak tidak tahu diri. Senangnya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja,” kesal si Mbok.

Namun, yang namanya seorang ibu. Sekesal apa pun pasti tetap akan memberikan apa yang anaknya pinta. Kejadian serupa hampir setiap hari terjadi.

Suatu hari, ketika si Mbok akan ke pasar untuk berbelanja, Gadis berppesan agar dibelikan alat kecantikan. Namun, sayangnya si Mbok tidak tahu alat kecantikan seperti apa yang putrinya maksud.
Si Mbok pun berinisiatif mengajak Gadis ikut ke pasar.

“Kalau begitu ayo ikut ibu ke pasar,” ajak si Mbok
“Tidak, aku tidak mau ke pasar bersama ibu,” Gadis menolak ajakan ibunya
“Tapi, ibu tidak tahu alat kecantikan seperti apa yang kamu maksud,Nak,” kata si Mbok

Lalu dengan berat hati dan sedikit paksaan dari ibunya, Gadis bersedia ke pasar bersama ibunya.
Namun kesediaan si Gadis menemani ibunya ke pasar bersyarat.

“Aku mau ikut ibu ke pasar, dengan syarat ibu harus berjalan di belakangku,” kata Gadis
“Memang kenapa, Nak?” tanya si Mbok heran
“Aku malu jika harus berjalan berdampingan dengan ibu,” jawab Gadis
“Kenapa kamu malu, Nak? Aku kan ibu kandungmu?” si Mbok bertanya
“Lihat diri ibu, sudah tua dan keriput. Pakaian ibu kotor. Aku malu berantakan seperti ibu,”seru Gadis dengan nada merendahkan ibunya.

Dengan perasaan sedih si Mbok menuruti kemauan Gadis, putri tunggalnya. Gadis berjalan di depan sedangkan ibunya berjalan di belakang dengan beberapa keranjang di tangan.

Perjalanan menuju pasar desa itu amat jauh. Sepanjang perjalanan Gadis melenggang di depan ibunya dengan pakaian bagus yang ia kenakan. Dan dengan wajah yang sudah ia dandani dengan cantik, agar orang-orang yang melihatnya di jalan akan mengagumi kecantikannya. Sementara pemandangan yang sangat kontras tampak di belakang gadis itu, ibunya tampak dekil dengan keranjang yang ia bawa. Hidup di daerah terpencil membuat orang-orang tak tahu bahwa mereka berdua adalah ibu dan anak.

Begitu mereka memasuki desa, banyak orang yang terpesona pada si Gadis. Terutama para pemuda desa, mereka tak bosan memandangi kecantikan wajah gadis itu. Namun, ketika melihat sosok renta di belakang si Gadis, orang-orang bertanya-tanya.
Lalu ada seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada Gadis, “Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?”
Namun, apa jawaban Gadis itu saudara-saudara ?

“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !”

Ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekat lagi seorang pemuda dan bertanya kepada si Gadis.

“Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?” “Bukan, bukan,” jawab gadis lebih angkuh dari sebelumnya. ” Ia adalah budak!”

Berulang-ulang si Gadis mendapat pertanyaan yang sama dan jawabannya tetap sama. Gadis itu memperlakukan ibunya sebagai pembantu atau budaknya.

Awalnya si Mbok tidak ambil hati, masih bisa menahan diri. Tapi mendengar jawaban yang sama dari si Gadis yang amat menyakitkan hati itu ia sudah tidak tahan. Si Mbok yang malang itu berdoa.

“Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….” Rintihnya.

Lalu tiba-tiba, atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh Gadis yang durhaka itu berubah menjadi batu. Perlahan kakinya membatu kemudian mncapai pinggang. Dan ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

” Oh, Ibu..ibu..ampunilah aku, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..” Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya.

Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh si Gadis akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang durhaka pada ibunya itu disebut ” Batu Menangis “.

Legenda ini dipercayai oleh masyarakat setempat bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. So, sayangi ibu dan ayah kalian ya. jangan seperti si Gadis yang durhaka dan berakhir menjadi batu. Menangis pula batunya. Dan barang siapa yang durhaka terhadap ibu yang sudah sayang terhadap kita, pasti akan diberi hukuman oleh Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here